Langkah terakhir naiki tangga batu terdengar seperti denting pedang di ruang hening. Kaelen ndorong pintu logam berkarat di atas, mbuka jalan nuju cahaya yang nyilaukan.
reka tiba di bawah altar kota suci—tempat yang selama ini dikeramatkan oleh Ordo Cahaya. Tapi tidak ada ketenangan di sana. Hanya bau darah yang belum kering dan suara teriakan di kejauhan.
“Kaelen... lihat,” bisik Alden, nunjuk ke pelataran di atas.
Pasukan Ordo Cahaya telah berjajar, mbentuk formasi setengah lingkaran di depan altar utama. Panji-panji reka berkibar, bukan dalam semangat suci, lainkan seperti peringatan: “Jangan dekati kami.”
Di tengah altar, berdiri sosok yang sangat dikenalnya: Grandmaster Elvior.
Dan di sisinya...
“Eryon,” Kaelen berbisik, suaranya nyaris pecah.
Eryon berdiri tegak, matanya kosong, tapi tangan kanannya gang tombak perak—senjata yang dulu hanya digunakan dalam eksekusi upacara. Rambutnya dipotong pendek, baju zirahnya bukan lagi abu-abu tua, lainkan putih bersih, seolah nertawakan semua darah yang pernah ia tumpahkan.
“Kau tahu,” bisik Lyra sambil runduk di balik reruntuhan, “sebagian dari diriku masih berharap dia akan milih jalan lain.”
“Dia sudah milih,” jawab Kaelen tanpa noleh. “Kita juga harus.”
Alden narik napas dalam. “Kita punya dua pilihan. Mundur dan nyerang dari sisi lain... atau—”
“Tidak ada sisi lain,” potong Kaelen. “Kalau kita tidak hancurkan kekuatan pusat reka sekarang, perang ini hanya akan nelan lebih banyak orang tak bersalah.”
Ia berdiri.
“Aku akan maju. Yang mau ikut... jangan ikut karena aku. Ikut karena ini juga pertarungan kalian.”
Beberapa detik sunyi.
Lalu satu per satu, para pejuang berdiri. Alden. Lyra. Para komandan garis depan. Semuanya bersiap.
Kaelen ngangguk. “Kita mulai dengan cah formasi. Target: altar.”
Serangan pertama datang dari Eryon.
Tanpa aba-aba, tombaknya nyambar ke udara dan muntahkan gelombang energi putih ke arah tangga.
Kaelen bereaksi cepat, narik Lyra ke belakang reruntuhan. Gelombang itu nghantam batu dan lelehkan setengah pilar dalam satu sapuan.
“Dia tidak nahan diri,” gumam Lyra, suara getar.
“Dan kita juga tidak akan.”
Kaelen lompat dari persembunyian, pedangnya berpendar, lalu luncur ke arah Eryon di tengah kerumunan.
Pasukan keduanya bertabrakan di bawah altar. Jeritan, dentang logam, dan letusan sihir bergema.
Alden mimpin barisan kiri. Lyra nembus sisi kanan dengan dua prajurit elit. Tapi Kaelen—Kaelen hanya punya satu tujuan: Eryon.
Di atas altar, Eryon nunggu. Ia tidak bergerak, hanya natap Kaelen yang ndekat, langkah demi langkah di antara pertempuran yang kacau.
“Kaelen,” katanya pelan, suaranya nyaris seperti dulu. “Kau bisa berhenti. Kau bisa selamat.”
Kaelen berhenti. “Kau bilang dulu, tidak ada keselamatan yang layak jika didapat lewat pengkhianatan.”
Eryon nunduk sedikit. “Aku bilang itu... saat aku masih percaya.”
Kaelen nggenggam pedangnya lebih erat. “Dan sekarang?”
“Aku hanya percaya pada akhir.”
Tombaknya berpendar dan ledak ke depan.
Pertarungan reka adalah badai dalam badai. Kaelen nghindari serangan demi serangan, pedangnya bertabrakan dengan tombak Eryon, nciptakan percikan api dan gelombang kejut.
Di sela-sela pertarungan, Kaelen ndesak, “ngapa, Eryon? ngapa kembali ke reka?”
Eryon tidak langsung njawab. reka bertarung lagi, hingga Kaelen berhasil nebas sisi baju zirah Eryon.
Darah netes.
Barulah Eryon berbisik, “Karena dunia ini tidak pernah benar. Dan mungkin... kehancuran adalah satu-satunya penyucian.”
Kaelen terhuyung, bukan karena serangan, tapi karena kata-kata itu.
“Lalu Serina?” tanya Kaelen, nadanya retak. “Apa dia juga bagian dari penyucianmu?”
Wajah Eryon negang. “Jangan sebut namanya.”
“Kenapa? Karena kau tahu dia mati di tanganmu? Atau karena kau tahu dia mati... tetap ncintaimu?”
Itulah satu-satunya celah. Dan Kaelen manfaatkannya.
Ia nebas ke arah lengan Eryon, mbuat tombak lawannya terlepas. Tapi sebelum Kaelen sempat nyelesaikan serangan, bayangan cahaya nyambar dari altar—Grandmaster Elvior lompat turun dengan tongkat sihir berisi segel kuno.
“Cukup,” seru Elvior. “Sudah cukup kekacauan. Dunia ini akan kembali pada tatanan. Dan kalian... akan njadi contoh bahwa pemberontakan hanya mbawa penderitaan.”
Ia ngangkat tongkatnya. Tanah bergemuruh. Dari bawah altar, muncul lingkaran sihir raksasa.
Alden, yang baru nembus ke tangga altar, berteriak, “Kaelen! Segel aktif!”
Tapi sudah terlambat. Ledakan cahaya nyelimuti altar.
Saat debu ngendap, Kaelen terbaring di atas batu, berdarah, dadanya nyeri. Tapi ia masih hidup.
Di sekelilingnya, tubuh-tubuh bergelimpangan. Beberapa pasukannya, beberapa dari Ordo. Tapi tak terlihat Eryon. Tak terlihat Elvior.
Lyra muncul dari reruntuhan, luka di wajahnya, tapi matanya masih nyala.
“Kaelen...” bisiknya, mbantunya bangkit. “Kita kehilangan banyak orang... tapi kita belum kalah.”
Kaelen ngangguk perlahan, darah netes dari pelipisnya.
Ia natap langit altar, yang kini terbuka lebar—nampakkan langit malam yang penuh bintang, seolah mberi ruang untuk babak selanjutnya.
Dan jauh di dalam dirinya, ia tahu: ini baru awal dari akhir.
Reviews
All reviews (0)