Font Size
15px

Langkah-langkah reka bergema dalam lorong batu yang lembab. Kaelen berjalan paling depan, obor di tangan kirinya, pedang di tangan kanan. Di belakangnya, Lyra, Alden, dan tiga puluh pejuang terbaik nyusuri terowongan tua yang pernah runtuh, dibangun jauh sebelum Ordo Cahaya ngklaim kota suci.

Batu-batu dindingnya basah, dan sesekali dari sela-sela bebatuan terdengar bisikan samar—entah suara air netes atau sesuatu yang lebih gelap dari sekadar gema.

“Tempat ini... dingin seperti kematian,” gumam Alden, nyentuh dinding yang ditumbuhi lumut gelap.

“Ini mang makam tua,” jawab Lyra pelan. “Dulu digunakan para pelarian untuk sembunyi saat perburuan sihir besar.”

Kaelen tidak njawab. Matanya terus lurus ke depan, tapi pikirannya layang—bukan ke musuh, tapi ke kata-kata Iresa malam itu.

“Jangan pakai rasa sakit sebagai topeng.”

Tapi kalau bukan itu yang ia gunakan untuk tetap berdiri, lalu apa lagi?

Di sebuah tikungan sempit, Kaelen nghentikan langkah.

Ia nunduk. Di tanah, terdapat simbol kuno: segi delapan dengan garis silang di tengah. Simbol pelindung. Tapi juga simbol penyegel.

“Ini tempatnya,” katanya.

Alden nyipitkan mata. “Kau yakin? Ini hanya tumpukan batu.”

Kaelen masukkan ujung pedangnya ke lubang kecil di tengah simbol. Dinding di hadapannya nggeram pelan... lalu retak, mbuka seperti rahang tua yang lapar. Udara hangat nyembur keluar, berbeda dari dingin sebelumnya.

Lyra mundur setengah langkah. “Itu bukan angin biasa. Rasanya... seperti napas.”

Kaelen noleh. “Di balik ini, ada jalan nuju jantung kota suci. Tapi kita tidak tahu apa yang reka siapkan.”

“Lalu?” tanya Alden.

Kaelen natap reka satu per satu. “Yang mau mundur... ini kesempatan terakhir.”

Tak satu pun bergerak.

“Bagus.”

Ia langkah masuk.

Lorong di balik celah batu ternyata lebih lebar. Tapi tidak lebih aman.

Dindingnya dihiasi ukiran kasar—bukan buatan manusia. Gambar makhluk-makhluk berjubah, bertanduk, dan tak bermata. Beberapa tampak nyembah cahaya. Beberapa... mbakar diri sendiri.

Lyra mbisik, “Ini bukan dari masa Ordo Cahaya.”

Kaelen njawab, “Tidak. Ini dari masa sebelum reka. Mungkin... dari reka yang nciptakan cahaya itu.”

Suara langkah reka kini diselingi bunyi geretak. Tanah di bawah penuh pecahan tulang.

Alden berlutut dan ngambil satu. “Ini... bukan hewan.”

“Para pengikut pertama,” kata Lyra. “Yang dikorbankan untuk nyegel kekuatan.”

Alden natap Kaelen. “Kau yakin masih mau lewat sini?”

Kaelen natap jauh ke ujung lorong. “Aku sudah terlalu jauh untuk mundur.”

Beberapa ter lagi, lorong terbuka ke ruang yang lebih besar. Di sana, dindingnya dilapisi cermin—retak, tua, buram. Tapi reka masih bisa lihat bayangan reka sendiri.

Lalu cermin-cermin itu... mulai berubah.

Kaelen lihat dirinya... tapi bukan seperti sekarang. Di dalam bayangan itu, ia berdiri sendirian, ngenakan jubah Ordo, dan nancapkan pedangnya ke tubuh Lyra yang tersungkur.

“Apa—” desisnya.

Lyra njerit kecil. Cermin di hadapannya mperlihatkan dia... ngkhianati Kaelen. nyerahkan peta ke Grandmaster Elvior. Wajahnya dingin.

Alden natap cermin di sampingnya dan nyaksikan dirinya... mbakar desa yang telah bersumpah ia lindungi.

“Itu bohong!” teriaknya.

Cermin tidak njawab. Tapi suara dari kegelapan mulai berbisik.

“Kau bisa njadi itu. Jika kau tidak hati-hati...”

Kaelen nghantam cermin di hadapannya. Kaca pecah, dan bayangan lenyap.

“Kita tidak punya waktu untuk keraguan,” katanya tajam. “Ini hanya ilusi. Bayangan dari ketakutan kita sendiri.”

Satu per satu, yang lain nghancurkan cermin masing-masing.

Hingga hanya tersisa satu.

Cermin itu retak separuh... dan tak nampilkan siapa pun.

Lyra natap Kaelen. “Itu... punyamu juga?”

Kaelen natap cermin itu lama. Lalu berkata pelan, “Mungkin... itu untuk bagian dari diriku yang sudah hilang.”

Ia nebasnya, dan lorong di belakang cermin terbuka.

Akhirnya, reka sampai di ujung terowongan.

Tangga batu ndaki ke atas, nuju pintu rahasia di bawah altar kota suci.

Kaelen berbalik.

“Saat kita keluar dari sini... tidak ada jalan kembali.”

“Jalan ke depan saja,” jawab Lyra.

Alden ngangguk. “Dan kami akan bersamamu, apa pun yang ada di atas sana.”

Kaelen natap reka. Sekilas, ia lihat bukan pejuang. Tapi keluarga. Orang-orang yang tetap tinggal, bahkan saat dirinya tak utuh.

Dan justru karena itu, ia harus bertarung.

Ia narik napas. “Baik. Kita keluar... dan buka halaman terakhir dari kisah ini.”

Dengan itu, reka naik.

nuju perang yang akan nentukan bukan hanya nasib dunia—tapi juga makna dari semua pengorbanan selama ini.

You are reading The Shattered Light Chapter 186: – Terowongan Tulang dan Dinding Dendam on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.