Font Size
15px

Langit di atas Volcair mulai berubah warna. Awan bergulung perlahan, bukan karena angin, tapi karena sesuatu yang lebih dalam—lebih kuno. Dunia seolah nahan napas. Di bawah langit kelam itu, Kaelen berdiri nghadap utara, di mana Ordo Cahaya mbangun markas terakhirnya.

Angin mbawa aroma besi, darah, dan arang. Seperti tanda bahwa dunia tahu perang akan pecah.

“Berapa orang yang kita punya?” tanya Kaelen, suaranya berat.

Alden mbuka gulungan peta kasar yang dicoret-coret dengan bara hangus. “Tiga ratus lima puluh orang yang bisa angkat senjata. Seratus dua puluh luka ringan. Dua puluh lima... tidak bisa ikut bertarung, tapi nolak pergi.”

Kaelen natap ke bawah. “Dan reka semua masih percaya padaku?”

Alden natapnya. “Bukan percaya, Kaelen. reka milih ngikutimu. Karena kau adalah satu-satunya yang tidak nyerah.”

Lyra masuk ke tenda, rambutnya basah karena kabut yang madat seperti hujan beku. Ia mbawa laporan dari pengintai.

“reka bersiap. Pasukan Ordo sudah mblokir tiga jalur masuk ke kota suci. Tapi ada celah... di bawah kuil kuno yang dulu pernah kita datangi bersama Eryon.”

Kaelen narik napas dalam. “Kuil tua yang runtuh setengah itu?”

“Ya. Terowongan di bawahnya belum ditemukan reka.”

Iresa, yang berdiri di pojok tenda sejak awal, berkata lirih, “Kalau kalian pakai jalan itu, kalian hanya punya satu kesempatan. Tapi sekali masuk... tidak bisa keluar mundur. Itu bukan tempat untuk orang yang ragu.”

Kaelen natap peta lagi. Tangannya nggenggam pedang tua yang dulunya milik Varrok. Besi di gagangnya terasa hangat, seolah ngenali tekadnya.

“Kalau begitu kita tak boleh ragu,” katanya akhirnya.

Malam itu, api unggun dinyalakan tanpa nyanyian. Tak ada minuman keras. Tak ada perayaan.

Hanya senyap, dan suara bisikan.

Kaelen berjalan di antara pasukan. Beberapa nyentuh bahunya. Beberapa hanya nunduk nghormati. Tak satu pun minta jaminan hidup. reka semua tahu besok bukan tentang nang atau kalah... tapi tentang makna.

Di sisi perbukitan, Lyra duduk sendirian. Tangannya gang liontin kecil milik ibunya. Ia natap Kaelen saat ndekat, dan tersenyum kecil.

“Aku masih belum terbiasa lihatmu diam lebih dari sepuluh nit,” katanya.

Kaelen duduk di sampingnya. “Kalau aku mulai bicara sekarang... aku mungkin tak bisa berhenti.”

Lyra nyandarkan kepalanya ke bahu Kaelen. “Aku tidak akan bertanya apa yang kau pikirkan. Tapi aku ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Setelah semua ini berakhir... kau masih ingin hidup?”

Pertanyaan itu nusuk lebih dalam dari yang Kaelen kira. Ia tidak njawab segera. Tapi akhirnya ia berkata pelan, “Aku ingin... tapi aku tidak tahu apakah aku masih bisa.”

Lyra nutup mata. “Kalau begitu... aku akan ngingatkanmu.”

njelang tengah malam, Iresa nghampiri Kaelen diam-diam.

“Aku harus pergi setelah ini,” katanya.

Kaelen natapnya tajam. “Kenapa?”

“Aku bukan pejuang. Aku sudah cukup langgar aturan netralitasku untuk mbimbingmu. Tapi jalur berikutnya... adalah jalurmu sendiri.”

Kaelen berdiri. “Kau tahu apa yang akan terjadi di sana, kan?”

Iresa tersenyum pahit. “Aku tahu. Dan karena itu, aku ingin mberimu satu hal terakhir.”

Ia nyentuh dahi Kaelen. Sekilas, Kaelen lihat pantulan dirinya dalam genangan hitam: tua, berlutut, dengan tangan getar gang ingatan yang tidak lagi utuh.

“Gunakan rasa sakitmu sebagai pelindung. Tapi jangan biarkan itu jadi topengmu,” bisik Iresa. “Karena kalau kau makai topeng terlalu lama... kau akan lupa wajahmu sendiri.”

Lalu ia pergi, nghilang dalam kabut.

Saat fajar belum sepenuhnya nyingsing, Kaelen berdiri di depan pasukan.

Matahari yang malu-malu mantul di baju besi reka. Tidak semua senjata ngilap. Banyak yang tua, berkarat, atau tambalan dari reruntuhan. Tapi tangan-tangan yang nggenggamnya... teguh.

“Banyak dari kita akan jatuh hari ini,” kata Kaelen dengan suara lantang. “Mungkin aku. Mungkin kalian. Tapi kematian bukanlah akhir dari cerita ini.”

“Ordo Cahaya ingin kita percaya bahwa hanya reka yang berhak nulis masa depan. Tapi kita di sini untuk mbuktikan... bahwa reka salah.”

Ia berhenti sejenak, natap satu per satu wajah yang telah bertarung bersamanya sejak awal.

“Dan kalau aku tidak kembali... jangan cari aku. Bangunlah dunia baru, yang pantas untuk dikorbankan.”

Hening. Lalu satu suara berseru:

“Untuk Kaelen!”

Kemudian seruan lain ngikuti. Bergema. nggetarkan lembah.

“Untuk Serina!”

“Untuk Varrok!”

“Untuk dunia yang kita inginkan!”

Kaelen ngangkat pedangnya. Dan reka mulai bergerak.

Ke arah kuil tua.

Ke arah terowongan gelap yang akan mbawa reka tepat ke jantung benteng musuh.

Dan ke arah sejarah yang belum selesai ditulis.

You are reading The Shattered Light Chapter 185: – Senyap Sebelum Badai on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Warlock Apprentice cover
Similar genre

Warlock Apprentice

牧狐 ·Fantasy

Thestatusofawizardistranscendentinallcontinentsandintheuniversalplane. Mysterious,wise,cruelandbloodthirstyaresynonymouswithwizards.Butwhatdoesarea...

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.