Kabut pagi di Volcair tak seperti kabut biasa—ia berwarna kebiruan dan berdesis halus, seolah nyimpan bisikan dari dunia yang telah lama tenggelam. Kaelen mbuka matanya dengan napas tertahan, tubuhnya masih tegang dari mimpi yang terlalu nyata.
Ia baru saja lihat Serina. Tersenyum. nyentuh pipinya. Dan ngucapkan kalimat yang mbuat darahnya mbeku:
“Kau sudah lupa aku. Tapi aku belum selesai denganmu.”
“Bangun cepat,” kata Alden dari kejauhan. “Kabutnya... bergerak.”
Kaelen berdiri, gang pedangnya erat. Lyra sudah nyiapkan busur. Wajahnya cemas, tapi matanya tetap fokus.
Iresa berdiri di sisi jurang, jubahnya lambai. “Volcair mulai ngenal kalian. Ia sedang ncari celah.”
“Celah apa?” tanya Kaelen, ndekat.
“Yang paling rapuh dalam dirimu,” jawab Iresa tanpa noleh. “Apa yang telah kau kubur... akan digali paksa. Dan dipakai lawanmu.”
Beberapa jam kemudian, saat reka mulai berjalan lewati lembah batu yang retak-retak seperti kulit makhluk tua, Kaelen ndengar suara yang mbuat tubuhnya berhenti.
“Kaelen...”
Ia berbalik. Tak ada siapa pun.
“Kaelen, tolong...”
Itu suara Serina. Jelas. Lembut. nyusup seperti udara dingin di tulang.
“Tidak mungkin,” gumamnya.
“Kaelen? Ada apa?” Lyra nghampirinya.
“Aku dengar suara dia,” katanya. “Serina.”
Wajah Lyra ngeras. “Kau pasti salah dengar.”
Tapi suara itu terdengar lagi. Lebih dekat. Kali ini... seperti datang dari dalam pikirannya.
reka beristirahat di sebuah dataran sempit. Lyra nyalakan api kecil. Alden berjaga di atas batu tinggi.
Kaelen duduk njauh. Kepalanya tertunduk.
Dan saat ia jamkan mata, Serina muncul di hadapannya. Tapi kali ini ia tidak seperti ilusi. Ia tampak hidup. Napasnya hangat. Matanya basah.
“Kaelen... aku tidak pernah marah padamu,” katanya.
Kaelen tak njawab. Tubuhnya mbeku.
“Aku tahu kau lupa. Tapi aku tidak datang untuk nyalahkanmu. Aku datang untuk ngingatkan.”
Kaelen nggertakkan gigi. “Kau tidak nyata.”
Serina ndekat. “Kau benar. Aku tidak sepenuhnya nyata. Tapi bukan berarti aku bohong.”
“Ini ilusi. Tipu daya Volcair.”
“Volcair hanya mbuka pintu. Aku... adalah yang nunggu di baliknya.”
Kaelen beranjak berdiri, marah dan ketakutan bersatu. “ngapa sekarang? ngapa di saat aku... hampir utuh kembali?”
“Karena kau tidak utuh, Kaelen.” Serina nyentuh dadanya. “Dan kau tidak akan pernah utuh... sebelum kau terima semua bagian dirimu. Termasuk yang sudah kau lupakan.”
Lyra mperhatikan Kaelen dari kejauhan. Ia lihat bibir Kaelen bergerak seolah berbicara, tapi tidak kepada siapa pun.
“Ada yang aneh,” bisiknya pada Iresa.
Iresa ngangguk. “Volcair sedang nguji dia. Yang tidak kuat... akan berbicara dengan orang mati dan mulai percaya itu kenyataan.”
“Dan kalau dia percaya?”
“Maka tubuhnya akan tetap bersama kita... tapi jiwanya akan terkunci di dinsi lain. Ia akan jadi cangkang.”
Lyra natap Kaelen lebih lama. “Kalau begitu aku akan nariknya kembali sebelum itu terjadi.”
Dalam pikirannya, Kaelen mulai berjalan bersama Serina di jalan yang familiar—jalan nuju hutan tempat reka dulu sembunyi dari patroli Ordo. Tapi saat ia lihat kembali, tanahnya terbuat dari darah. Pohonnya bukan kayu, lainkan tulang yang bergerak pelan seperti bernafas.
Serina berhenti. “Kau lihat? Ini bukan mimpi. Ini apa yang tinggal setelah semua yang pernah kita alami hilang.”
“Kenapa aku harus lihat ini?” Kaelen ndesis.
“Karena kau harus milih, Kaelen. Terus langkah ke depan... atau hadapi semuanya dan ambil kembali dirimu yang hilang.”
Kaelen nggertakkan gigi. “Aku tidak bisa terus kehilangan setiap kali aku ncoba nyelamatkan orang. Kalau harga kekuatanku adalah aku sendiri... maka aku lebih baik—”
“Tinggalkan semuanya?” Serina motong, suaranya dingin. “Kau tidak seperti itu. Bukan dulu. Bukan sekarang.”
Kaelen natapnya dengan amarah, tapi juga kesedihan. “Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Terima aku. Bukan sebagai rasa bersalah... tapi sebagai bagian darimu. Aku bukan luka. Aku adalah bukti bahwa kau pernah ncintai.”
Tiba-tiba, dunia gelap.
Kaelen jatuh ke dalam ruang kosong. Dan suara Serina terakhir kali terdengar seperti bisikan dari kejauhan.
“Lepaskan rasa bersalahmu... dan kau akan kembali.”
“Kaelen!”
Suara Lyra nyentaknya. Ia tersadar, tubuhnya berkeringat dingin.
Lyra ngguncang bahunya. “Kau bicara sendiri selama hampir satu jam. Kami hampir kehilanganmu.”
Kaelen duduk dengan lemas. Nafasnya tersendat. Tapi ada air mata di sudut matanya. Ia natap Lyra dan berkata, “Aku lihat dia.”
“Serina?”
Ia ngangguk. “Tapi kali ini... aku tidak nyesal lihatnya.”
Lyra gang wajahnya. “Kau kembali.”
Kaelen narik napas panjang. “Tidak sepenuhnya. Tapi untuk pertama kalinya... aku tahu ke mana aku harus kembali.”
Reviews
All reviews (0)