Font Size
15px

Angin Volcair berembus seperti bisikan masa lalu. Bukan angin biasa—ia mbawa bau besi tua dan sesuatu yang lebih dalam: kenangan yang seharusnya sudah mati.

Kaelen mandangi barisan tebing yang njulang hitam di hadapannya. Di punggungnya tergantung pedang tua milik Varrok, kini njadi beban lebih emosional daripada senjata. Di sampingnya, Lyra dan Alden nyusul, kaki reka nyisakan jejak samar di tanah berpasir kelabu.

"Tanah ini tak nerima siapa pun," gumam Alden sambil natap sekeliling. "Setiap kali kita langkah, tanah seperti... makan jejak kita."

"Karena Volcair bukan tempat untuk yang hidup," jawab Lyra lirih.

Kaelen ngangguk pelan. “Tapi kita tak datang ke sini untuk hidup. Kita datang agar yang lain bisa.”

reka nemukan reruntuhan kecil sebelum matahari benar-benar tenggelam. Dinding batu lengkung mbentuk setengah lingkaran. Di tengahnya, pilar runtuh dan pecahan mosaik yang nggambarkan makhluk bersayap hitam.

Kaelen berlutut di depan salah satu ukiran.

“Ini bukan simbol Ordo Cahaya,” katanya. “Ini lebih tua. Mungkin... sebelum Ordo terbentuk.”

Lyra berjongkok di sebelahnya, jari-jarinya nyentuh mosaik yang terkelupas. “Ayah pernah bilang ada faksi dalam Ordo yang muja ’Asal Bayangan’. Teori bahwa bayangan bukan kebalikan cahaya... tapi cikal bakalnya.”

Alden tertawa sinis. “Dan sekarang kita berburu bayangan yang mungkin bukan bayangan sama sekali.”

Tiba-tiba, suara retakan terdengar dari belakang.

Semua spontan berdiri, senjata terhunus.

Dari balik pilar, muncul seorang wanita tua berjubah abu-abu, rambutnya kusut, tapi matanya jernih.

“Sudah lama,” ucapnya pelan, “tak ada yang berani ke sini dan tetap bernapas setelah malam pertama.”

Kaelen nurunkan pedangnya sedikit. “Siapa kau?”

“Namaku Iresa. Penjaga... yang dilupakan.”

Lyra maju. “Apa kau tahu apa yang dibangkitkan reka dari altar Volcair?”

Iresa natapnya lama, lalu ngangguk. “reka tak mbangkitkan apa pun, Nak. reka lepaskan sesuatu... yang seharusnya tidak pernah dikurung.”

Ia nunjuk Kaelen. “Dan sebagian dari itu... ada dalam dirimu.”

Malam itu, Iresa duduk bersama reka di dekat api kecil. Ia mulai bercerita, seperti seorang nenek tua yang ngulang kisah lama yang hanya didengar oleh tembok dan bayangan.

“Waktu Ordo Cahaya pertama kali neliti Relik,” katanya, “reka sadar bahwa energi yang reka serap... punya kesadaran sendiri. reka nyebutnya Residu. Aku nyebutnya... Patah Jiwa.”

Kaelen diam, natap api.

“Relik yang dulu kau pakai untuk mbalikkan pasukan di Elvarin—kau kira itu kekuatanmu?” Iresa natap tajam. “Sebagian mungkin, tapi kekuatan itu tumbuh dari kehilangan, dari potongan jiwa orang-orang yang telah mati dan tak bisa istirahat.”

Alden bergumam, “Itu sebabnya tiap kali Kaelen pakai kekuatan itu, dia kehilangan ingatan. Bukan karena kelemahan... tapi karena ada bagian dirinya yang tertinggal bersama kekuatan itu.”

Iresa ngangguk pelan. “Relik bukan alat. Ia seperti cermin terbalik. Semakin kau makainya, semakin kau lihat sisi yang bahkan kau sendiri tak tahu pernah ada.”

Kaelen ncengkeram tanah. “Lalu... bagaimana aku bisa nghentikannya?”

Iresa natapnya lama. “Mungkin kau tak bisa. Tapi mungkin... kau bisa milih sisi mana yang akan nang.”

Malam itu, Kaelen tak tidur. Ia duduk di tepi jurang, mandangi langit yang tak berbintang.

Lyra ndekat pelan, duduk di sampingnya tanpa bicara.

Beberapa nit sunyi berlalu sebelum Kaelen berkata, “Jika aku mati... bukan sebagai diriku... tolong jangan biarkan aku bangkit sebagai sesuatu yang lain.”

Lyra nggenggam tangannya. “Kalau itu terjadi... aku akan mati bersamamu, Kaelen. Tapi bukan karena nyerah. Karena aku tidak akan biarkan kau sendiri.”

Kaelen natapnya. “Kau sadar kita mungkin sudah terlalu jauh masuk ke dalam ini?”

Lyra tersenyum tipis. “Sudah sejak kau mbawaku dari reruntuhan kamp para pemberontak dulu. Tapi aku tak pernah nyesal.”

Kaelen ncium keningnya perlahan. “Terima kasih. Untuk tetap tinggal... bahkan ketika aku mulai lupa siapa aku.”

Lyra nggenggam tangannya lebih erat. “Karena aku ingat.”

Dan di kejauhan, dalam kegelapan, bayangan mulai bergerak. Bukan makhluk. Bukan roh. Tapi ingatan yang berubah bentuk—bersiap untuk nyerang dengan wajah yang pernah dicintai.

You are reading The Shattered Light Chapter 183: – Jejak di Tanah Hitam on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.