Font Size
15px

Kabut nyelimuti lereng-lereng batu hitam Volcair. Tak ada burung, tak ada suara serangga. Hanya dentingan samar seperti rantai yang diseret perlahan di kejauhan.

Di tengah reruntuhan, sebuah altar retak mancarkan denyut cahaya rah darah. Di sekitarnya, sosok-sosok berjubah hitam berkumpul dalam keheningan ritual. reka tidak berbicara, tidak berdoa. Hanya berdiri—nunggu.

Kemudian, dari dalam altar, bayangan hitam perlahan mbentuk wujud. Bukan manusia. Bukan juga roh. Ia... seperti sisa dari sesuatu yang telah dibuang oleh dunia.

“Arkana... sudah bergerak,” gumam sosok tertinggi di antara reka, suaranya serak namun jelas.

Bayangan itu mbuka matanya. Keduanya kosong, mantulkan ingatan yang telah lama dikubur.

“Bukan Arkana yang penting,” bisik sang bayangan. “Tapi dia... yang milih nahan kekuatannya.”

“Kaelen,” gumam para pengikutnya serempak.

Sentara itu, ratusan mil dari sana, di kota kecil bernama Derkheim, Kaelen sedang mbantu ndirikan dinding pengaman bersama anak-anak muda dari tiga bekas faksi perang. Tangannya berlumur tanah, bajunya sobek di bagian pundak. Tapi wajahnya... tenang.

“Tarik talinya, Talven. Biar kusangga dari sisi sini,” ujar Kaelen sambil ngangkat papan kayu besar.

“Siap, Kapten!” jawab Talven, bocah bekas tentara yang kini lebih suka bercocok tanam ketimbang ngangkat pedang.

Lyra datang mbawa kendi air, nyeka keringat dari pelipis Kaelen. “Kau bisa berhenti sebentar. reka bisa lanjutkan.”

Kaelen ngangguk, nerima kendi itu, neguk perlahan.

“Aku suka tempat ini,” kata Lyra pelan. “Sunyi, tapi bukan kesepian. Orang-orang di sini benar-benar ingin mulai ulang.”

Kaelen tersenyum samar. “Dan untuk pertama kalinya, aku tak rasa bersalah karena rasa damai.”

Tiba-tiba, seorang pengintai datang terburu-buru dari arah barat.

“Kaelen! Kami nemukan sesuatu di pinggir sungai!”

Beberapa nit kemudian, Kaelen, Lyra, dan Alden berdiri di tepi sungai dangkal yang ngalir di bawah tebing. Di sana, tergeletak tubuh seorang lelaki—berpakaian Ordo, tapi lambangnya dicoret kasar.

Alden riksa nadi. “Masih hidup. Tapi... lihat ini.”

Ia mbalik bagian kerah lelaki itu. Di sana tergurat simbol yang tak asing bagi Kaelen—ukiran bayangan nyelimuti relik pecah.

“Volcair,” bisik Kaelen.

Lelaki itu nggeliat, matanya terbuka separuh. Bibirnya pecah-pecah.

“Jangan... biarkan... reka bangkit...”

“Siapa?” tanya Kaelen, nunduk.

“Bayangan... dari dalam...” napasnya putus. Ia pingsan.

Kaelen dan Lyra bertukar pandang. Diam.

Malam harinya, Kaelen duduk di luar tenda, mandangi api unggun yang nari pelan. Di pangkuannya, potongan peta tua Volcair yang dulu ia simpan setelah serangan besar.

Alden muncul mbawa gulungan dari arsip Elvarin. “Kau harus lihat ini.”

Ia mbuka gulungan. Di sana tertulis catatan Elvior—ayah Lyra—tentang Proyek Abyssus. Sebuah eksperin tua Ordo yang dikubur karena “efek spiritual tidak terkendali.”

“Relik terakhir ada di Volcair,” gumam Alden. “Dan sepertinya reka yang tersisa... ncoba mbangkitkan sesuatu yang bahkan Elvior takut sebut namanya.”

Kaelen natap catatan itu lama.

Lyra muncul, duduk di sampingnya. “Kalau kita pergi, tidak akan ada jalan kembali. Ini bukan perang besar. Ini seperti berjalan ke dalam luka terbuka yang belum sempat sembuh.”

Kaelen natap tangannya. “Mungkin yang tersisa dari kita... mang hanya luka.”

Lyra nggenggam tangannya. “Tapi bahkan luka pun bisa jadi pintu.”

Kaelen ngangguk. “Besok pagi, kita nuju Volcair.”

Di tempat lain—jauh, dalam gua di balik reruntuhan—bayangan itu kembali ngerang. Tubuhnya nggeliat, mbentuk wajah yang terus berubah. Kadang mirip Kaelen. Kadang mirip Serina. Kadang kosong.

Sosok berjubah yang mimpinnya ndekat. “Bayanganmu makin kuat. Setiap kali kau milih manusia... bagianmu yang tertinggal di dalam relik itu tumbuh.”

Bayangan itu tertawa. “Karena Kaelen telah lawan takdirnya... maka aku akan jadi takdir barunya.”

Dan malam itu, tanah Volcair kembali berdenyut.

You are reading The Shattered Light Chapter 182: – Bayangan dari Volcair on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Villain's Story cover
Similar genre

The Villain's Story

Blazuku ·Fantasy

ThreeSoulslayinonebody,Onesoulbelongingtoamanwhohadreachedthepeak,thestrongestthereeverwas,theonewhohadthetalenttodoso.Yethesufferedbecauseofhistal...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.