Elvarin tidak bersorak.
Tidak ada sorakan kenangan, tak ada nyanyian pahlawan. Hanya angin yang mbawa aroma tanah terbakar dan bayangan masa lalu yang terlalu berat untuk dilupakan.
Kaelen duduk di tepi reruntuhan pilar tua, telapak tangannya berlumur darah Varkesh—bukan karena ia mbunuh, tapi karena ia milih untuk tidak. Di sampingnya, Lyra mbungkus luka di lengannya sendiri dengan sobekan jubah.
“Aku tak tahu apakah yang kita lakukan barusan... benar,” gumam Kaelen.
Lyra mandangnya. “Benar dan salah sudah jadi mata uang yang nyaris tak berlaku, Kaelen. Yang kita punya tinggal konsekuensi.”
Kaelen natap tangannya, lalu ke langit yang mulai rekah rah. “Varkesh nyerah. Tapi lihat tempat ini. Tak ada yang kembali utuh. Bahkan aku.”
“Justru karena itu dia nyerah,” Lyra natapnya. “Dia lihat seseorang yang dulu ia benci, kini berdiri di hadapannya—penuh luka, tapi nolak berubah njadi dirinya.”
Langkah kaki ndekat. Alden muncul dengan napas terengah, mbawa sekelompok kecil penyintas yang ngenakan lambang pasukan Kegelapan.
“reka nyerah,” kata Alden, nunjuk para tentara itu. “Bilang reka dengar sendiri duelmu dengan Varkesh. reka tak mau bertarung lagi.”
Salah satu tentara itu, seorang wanita dengan rambut kusut dan wajah penuh debu, langkah maju. “Kami ikut Varkesh karena kami percaya dunia butuh tangan kuat... tapi tanganmu hari ini justru berhenti ketika bisa nghancurkan. Itu bukan kelemahan. Itu... perlawanan terakhir.”
Kaelen natapnya kosong.
“Nama saya Malen,” lanjutnya. “Dan jika kau bersedia... kami akan ikut nata ulang tanah yang porak-poranda ini.”
Lyra noleh ke Kaelen. “Lihat? Bahkan tanah terluka pun masih bisa numbuhkan benih baru.”
Kaelen ngangguk lemah. “Tak ada lagi pasukan. Tak ada lagi takhta. Kita hanya punya reruntuhan. Tapi kalau kalian bersedia mbangun... maka aku akan ikut nggali pondasinya.”
Malam itu, di kamp sentara dekat reruntuhan Elvarin, reka nyalakan api unggun pertama. Bukan untuk perang, tapi untuk nghangatkan tubuh-tubuh yang selama ini terbiasa dingin kebencian.
Lyra duduk berdampingan dengan Kaelen, sentara Alden mbagi-bagikan sup dari kuali tua. Malen ngajari anak-anak mbuat tenda dari puing-puing yang ditemukan.
“Dulu, di kamp latihan Ordo, kami diajari untuk mbakar kota yang tak mau tunduk,” ujar Malen pelan. “Tapi tak ada satu pun dari kami yang diajari mbangun kembali apa pun.”
Kaelen natap api. “Mungkin kita semua murid yang terlambat belajar.”
“Kalau begitu,” sahut Alden, “anggap saja ini kelas pertama.”
Tawa pelan terdengar dari para bekas tentara. Tawa yang asing, canggung, tapi nyata.
Lalu Lyra nyodorkan secarik kain kecil pada Kaelen. “Aku nyimpan ini sejak dulu.”
Kaelen mbukanya. Di dalamnya ada potongan pita rah, usang tapi utuh.
“Serina makainya saat kita nyelamatkan desa pertama. Waktu itu kau tak sadar, tapi dia letakkannya di pergelangan tanganmu saat kau tidur.”
Kaelen nggenggam pita itu pelan.
“Tak semua kenangan bisa kau bawa kembali,” kata Lyra. “Tapi beberapa bisa ditemukan kembali... dalam bentuk lain.”
Kaelen natap pita itu. “Aku tak ingat... tapi aku percaya padamu.”
Lyra ngangguk. “Itu cukup.”
Tengah malam, saat semua tertidur, Kaelen berjalan sendiri ke reruntuhan aula pusat Elvarin. Ia berdiri di tengah panggung yang dulu njadi tempat pengumuman kerajaan.
Lalu, suara familiar terdengar—seperti gema dari pikirannya sendiri.
“Kau kira ini cukup?”
Kaelen noleh. Eryon berdiri dalam bayangannya sendiri, wajahnya suram, tubuhnya seperti ilusi.
“Eryon.”
“Kaelen,” sahutnya pelan. “Kau nahan kekuatanmu hari ini. Tapi berapa lama lagi kau bisa bertahan? Dunia ini belum selesai manggil darahmu.”
Kaelen nggeleng. “Aku tidak ingin jadi dewa. Aku ingin jadi manusia.”
“Dan manusia mudah terluka,” gumam Eryon. “Aku dulu juga begitu. Lalu aku milih njadi monster karena dunia terus nyayatku.”
Kaelen ndekat. “Tapi sekarang kau datang sebagai bayangan. Apa itu yang kau pilih?”
Eryon terdiam. “Aku datang... untuk mperingatkanmu. Di utara, di reruntuhan Volcair—Relik terakhir masih berdenyut. Sesuatu bangkit. Dan jika kau tidak siap...”
Kaelen natapnya tajam. “Aku akan siap. Tapi kali ini, aku tak akan sendiri.”
Eryon tersenyum pahit. “Semoga kau benar. Karena terkadang... yang datang bukan lagi kegelapan. Tapi cermin dari dirimu sendiri.”
Dan ia nghilang.
Kaelen berdiri sendiri. Tapi kali ini, kesendirian itu tak lagi nakutkan.
Esok pagi, langkah-langkah pertama nuju perdamaian akan dimulai.
Tapi malam ini, Elvarin kembali bernapas.
Reviews
All reviews (0)