Angin yang bertiup di atas reruntuhan Elvarin berbau tanah tua dan kenangan yang berkarat. Kota ini dulu adalah permata kerajaan manusia—pusat kebijaksanaan, pusat harapan. Kini, hanya batu patah dan pilar lapuk yang tersisa.
Kaelen berdiri di tengah alun-alun yang pernah dipenuhi pasar dan musik. Kini sunyi, hanya ditemani suara gerisik daun dan debu yang beterbangan.
Ia jamkan mata.
“Kaelen?” suara Lyra manggil pelan dari kejauhan. Ia datang dengan jubah abu-abu yang tertutup debu perjalanan. “Kau yakin ini tempatnya?”
“Ya,” jawab Kaelen tanpa mbuka mata. “Di sinilah Varkesh mbakar semua yang dianggapnya lemah. Di sinilah ayahku berlutut, bukan karena takut... tapi karena milih untuk tidak mbalas.”
Lyra berjalan perlahan, natap reruntuhan pilar yang dipenuhi bekas panah tua dan bercak darah yang telah pudar. “Aku belum pernah ke Elvarin. Tapi tempat ini terasa... dingin. Seperti tak ada harapan pernah tumbuh di sini.”
“Itu karena semua yang baik terkubur terlalu dalam,” gumam Kaelen. Ia natap tangan kirinya. Ada luka lama di sana—bekas ingatan saat ia ncoba nahan pintu rumah dari pasukan Varkesh. Ia hanya anak-anak saat itu.
“Dan kau ingin bertarung di sini?” tanya Lyra. “Di tempat yang ngingatkanmu akan semua kehilanganmu?”
“Justru karena itu,” jawab Kaelen pelan. “Kalau aku kalah, biarlah aku jatuh di tempat semuanya bermula.”
Lyra nahan napas, lalu duduk di atas batu yang pernah njadi patung. “Apa kau masih ngingat Serina?”
Kaelen noleh.
“Aku tahu sebagian dari dirimu nghilang saat kau pakai kekuatan penuh. Tapi... ada sesuatu di matamu tiap kali namanya disebut. Bukan ingatan penuh. Tapi seperti... hantu.”
Kaelen nunduk. “Aku tak tahu apakah aku ngingatnya, atau hanya ngingat perasaan bersalah karena tak bisa ngingat.”
Lyra tersenyum getir. “Kau tahu? Dia pernah bilang padaku... bahkan jika kau lupakan namanya, dia akan tetap berjuang agar kau bertahan. Karena ia percaya kau akan jadi seseorang yang berbeda.”
Kaelen nutup matanya. Bayangan Serina sekelebat lintas—tapi bukan wajah, bukan suara. Hanya rasa. Hanya luka.
“Terima kasih sudah tetap tinggal,” katanya akhirnya.
“Bukan karena kau ingat aku,” balas Lyra. “Tapi karena aku ingatmu.”
reka diam. Langit mulai gelap. Tanda bahwa malam perjanjian akan segera datang.
Dan saat bulan pertama muncul dari balik awan...
Langkah kaki berat terdengar dari sisi lain reruntuhan.
Varkesh muncul, ngenakan zirah lama yang penuh goresan dan retakan. Tapi yang paling ncolok adalah matanya: bukan rah nyala seperti musuh yang dipenuhi amarah. Tapi kelabu, seperti batu nisan yang nunggu waktu.
“Tempat ini lebih kecil dari yang kuingat,” katanya dingin.
“Kau yang mbuatnya begitu,” jawab Kaelen.
“Semua yang tidak mau tunduk mang harus direduksi.”
Lyra berdiri, hendak angkat bicara, tapi Kaelen nahannya. Ia langkah maju.
“Tak ada pasukan. Tak ada penonton. Hanya kita.”
Varkesh nyeringai. “Akhirnya kau ngerti.”
reka saling ngelilingi, kaki nginjak tanah yang pernah njadi alas pesta rakyat. Sekarang tempat duel nasib dunia.
“Kaelen,” kata Varkesh pelan. “Kau bisa jadi lebih dari ini. Dunia baru sedang lahir. Dengan kekuatanmu, kita bisa ciptakan tatanan baru. Bukan sekadar numbangkan Ordo... tapi mimpin yang tersisa.”
“Aku tidak mau dunia seperti itu,” Kaelen natapnya. “Dunia di mana orang kuat nentukan siapa yang layak hidup.”
“Itu dunia yang sudah kita tinggali sejak awal,” seru Varkesh. “Kau hanya nipu dirimu dengan ilusi pilihan.”
Kaelen narik napas dalam. “Kalau begitu, biar ilusi ini jadi kenyataan terakhir yang kutinggalkan.”
Dan reka bertarung.
Tak ada ledakan awal. Hanya pedang yang saling mbentur.
Kaelen nghindari tebasan rendah, lalu mutar tubuh, ncoba nusuk dari samping. Tapi Varkesh bukan sembarang pejuang tua—ia pernah latih generasi paling brutal dari Ordo. Tangannya cepat. Geraknya tak tertebak.
“Masih terlalu lambat,” kata Varkesh sambil nghantamkan pedangnya ke sisi helm Kaelen.
Kaelen terguncang, darah ngalir dari pelipis. Tapi ia tidak jatuh.
“Aku tidak datang untuk nang dengan kekuatan,” katanya.
Varkesh micingkan mata. “Lalu dengan apa?”
“Dengan semua yang pernah kutinggalkan.”
Kaelen lompat ke belakang. Matanya nyala—bukan karena kekuatan, tapi karena kesadaran. Ia tidak nggunakan kekuatan besar. Tidak nggunakan energi Relik. Ia nggunakan teknik-teknik lama. Gerakan yang diajarkan Varrok. Gerakan yang ia lupakan bertahun-tahun, tapi kini terasa seperti pulang.
Dan saat Varkesh nebas ke kanan—Kaelen lepaskan helmnya.
nampakkan wajahnya sepenuhnya.
Bekas luka. Tatapan kosong. Tapi juga... mata seorang manusia.
“Bunuh aku,” tantangnya. “Lanjutkan siklus. Ulangi semuanya.”
Varkesh ragu.
Itulah celahnya.
Kaelen ngunci tangannya di pergelangan musuh. mutar. njatuhkan pedang lawan. Dan nancapkan ujung miliknya ke tanah. Bukan ke dada Varkesh.
“Pilih, Varkesh,” katanya dengan suara getar. “Mati... atau hidup dengan tahu kau akhirnya dikalahkan bukan oleh kekuatan... tapi oleh seseorang yang milih untuk berhenti mbunuh.”
Varkesh terdiam. Napasnya berat. Ia natap tanah. Lalu Kaelen.
“Ini... bukan akhir yang kupikirkan.”
Kaelen njawab pelan, “Bukan juga akhir yang kuinginkan. Tapi mungkin... ini awal yang kita butuhkan.”
Reviews
All reviews (0)