Kabut belum sepenuhnya nghilang dari sekitar nara Bayangan, tapi cahaya yang ledak dari dalam bangunan itu mbuat udara di sekitarnya terasa lebih berat—seperti dunia sedang nahan napas.
Di kejauhan, kaki-kaki kuda nghentak tanah. Debu dan rumput kering beterbangan. Pasukan Ordo Cahaya ndekat. Tapi reka bukan kelompok patroli biasa—panji yang reka bawa bukan lambang Grandmaster Elvior, lainkan simbol tua: mata terbuka di atas nyala api. Lambang Ordo dalam bentuknya yang paling puritan, paling kejam.
Di depan pasukan, seseorang duduk di atas kuda abu-abu. Rambut putihnya terikat rapi. Tubuhnya kurus, wajahnya berkerut, tapi matanya nyala seperti api yang tak pernah padam.
"Aku tidak percaya," bisik seorang prajurit muda di barisan belakang. "Bukankah dia sudah mati bertahun-tahun lalu?"
"General Varkesh..." desis kapten di sampingnya. "Roh lapuk itu kembali."
Di dalam nara, Kaelen natap dirinya di cermin untuk terakhir kalinya sebelum ia keluar. Suara Riva telah nghilang, bersama pantulan-pantulan masa lalunya. Yang tertinggal hanyalah dirinya sekarang. Bukan murid Varrok. Bukan alat dendam. Tapi Kaelen... utuh.
Saat pintu nara terbuka, dia langkah ke luar, di hadapan langit keperakan dan tanah gersang. Dan di kejauhan, ia lihat barisan pasukan ndekat.
Ia tak ngangkat senjata.
Pasukan berhenti sekitar lima puluh ter darinya. Dari formasi itu, seseorang turun dari kudanya. Varkesh langkah perlahan, mantel perangnya berkibar diterpa angin, senyumnya seperti bilah pisau tua—masih tajam ski berkarat.
"Kaelen," sapa Varkesh. "Putra dari orang yang ngkhianatiku dan murid dari pengkhianat yang lebih parah."
Kaelen tidak bergerak. "Varkesh... kau seharusnya sudah mati."
Varkesh terkekeh pelan. "Kau seharusnya sudah lupakan aku. Tapi aku tahu kau ngingat. Setidaknya cukup untuk ngerti bahwa kita masih punya urusan."
"Aku tidak punya urusan denganmu," jawab Kaelen. "Aku tak pernah berjuang untuk Ordo sepertimu. Aku berjuang karena semua yang kau dan orang-orang sepertimu hancurkan."
Varkesh ndekat, kini hanya beberapa langkah darinya. “Lalu kenapa kau masih hidup? Semua prajurit sepertiku sudah mati atau dibuang. Tapi kau, sang perusak dua dunia, masih berjalan.”
“Aku masih hidup karena aku belum selesai.”
“Dengan apa?” tanya Varkesh tajam. “Dengan nghancurkan sisa-sisa harapan orang-orang yang tidak bisa milih?”
Kaelen ndekat satu langkah. “Justru karena orang-orang itu tak bisa milih, aku ada. Aku akan mutus semua siklus yang kau hidupkan kembali: pengorbanan demi kedamaian yang tak pernah datang.”
Varkesh tertawa getir. “Kau idealis seperti ayahmu. Itu mbuatnya lemah. Dan bodoh. Aku takkan ngulang kesalahan itu.”
Ia ngangkat tangannya.
Pasukan Ordo ngangkat senjata. Namun sebelum reka bisa nyerbu, langit berubah gelap. Angin berhenti.
Sebuah suara nggema... bukan dari bumi, bukan dari langit. Tapi dari tengah dan perang.
Suara Eryon.
“Cukup!”
Semua mata noleh ke atas. Di puncak nara, berdiri Eryon—atau sisa dari dirinya. Tubuhnya setengah bayangan, setengah cahaya. Tapi suaranya masih tegas.
“Pertarungan ini bukan tentang Kaelen. Bukan tentang Varkesh. Ini tentang siapa yang akan gang kendali atas dunia yang tak ingin dikendalikan lagi.”
Varkesh natap ke atas, matanya ngecil. “Kau seharusnya mati.”
Eryon natapnya dingin. “Begitu juga kau. Tapi kita berdua terlalu keras kepala.”
Kaelen maju satu langkah. “Aku tak akan mbiarkan perang ini pecah atas nama masa lalu. Jika kau ingin nyelesaikan sesuatu, Varkesh, selesaikan denganku. Bukan dengan reka.”
Varkesh tersenyum. “Tentu. Tapi bukan di sini. Kau tahu di mana. Tempat yang semuanya dimulai.”
Kaelen natapnya tajam. “Reruntuhan Elvarin.”
Varkesh ngangguk.
Kaelen ngangguk perlahan. “Tiga hari dari sekarang. Hanya kita berdua.”
Varkesh noleh ke pasukannya. “Sampaikan pada dunia... bahwa akhir dari segalanya akan dimulai lagi.”
Malam itu, Kaelen duduk di luar nara. Ia nggenggam liontin kayu tua, jemarinya getar.
Riva ndekat dari bayangan. “Dia bukan hanya musuh, Kaelen. Dia adalah bayangan dari keputusan yang tidak pernah sempat dibuat.”
Kaelen natapnya. “Aku tahu. Karena jika aku tidak mbuat keputusan di Elvarin nanti... aku akan jadi dia.”
Reviews
All reviews (0)