Kabut nggantung rendah di antara pepohonan kering. Angin dingin nyusup lewat celah-celah baju pelindung Kaelen, tapi ia tak nggigil. Tubuhnya sudah kebal terhadap rasa nyeri dan dingin, namun pikirannya... tidak.
Ia berjalan seorang diri lewati jalur yang tak pernah diinjak siapa pun selama puluhan tahun. Di kejauhan, siluet gelap nara Bayangan muncul—njulang, bengkok seperti jari yang nunjuk ke langit.
Langkahnya berhenti di depan reruntuhan batu penanda. Di sana, simbol yang sama dengan yang tertoreh di lengan kirinya terpahat pada batu.
“Varrok mang ke sini...” bisiknya lirih.
Tiba-tiba, bisikan angin berubah jadi gema lembut.
“Masih ngikutiku setelah semua ini?”
Kaelen ncabut pedangnya.
Dari balik kabut, sosok berjubah ungu muncul. Wajahnya tertutup, tapi auranya tak asing.
“Siapa kau?” tanya Kaelen dingin.
Sosok itu tidak langsung njawab. Ia langkah pelan, lalu ngangkat tangannya. Di dalam genggamannya... seuntai liontin kayu kecil. Bentuknya sangat sederhana, tapi Kaelen rasa dadanya ncengkeram.
“Aku... ngenal itu.”
Sosok itu ngangguk pelan. “Dulu kau makainya setiap hari. Sebelum Varrok ngambilnya dan nghapusnya dari ingatanmu.”
Kaelen maju selangkah, suaranya genting. “Siapa kau sebenarnya?”
Sosok itu mbuka tudung kepalanya. Seorang perempuan, usia senja, rambut perak, mata kehitaman... dan senyum yang terlalu tenang.
“Aku Riva. Aku adalah... penjaga satu-satunya kenangan yang masih bisa diselamatkan.”
Kaelen nyaris jatuh ke lutut. “Kenangan siapa?”
“Kenanganmu,” jawab Riva lembut. “Dari masa sebelum pembantaian. Saat kau masih bernama Kaelion Vareth, bukan hanya Kaelen.”
Nama itu namparnya lebih keras daripada sihir mana pun.
“Aku... itu namaku dulu?”
Riva ngangguk. “Varrok tidak hanya latihmu. Dia motongmu. ncabut akar-asalmu dan nanam ulang dengan bentuk baru. Agar kau tumbuh sesuai keinginannya.”
Kaelen terduduk di tanah. Dunia seperti berputar. “Kenapa semua orang terus ngatur hidupku? ngubahku? Apa aku tidak punya kehendak sendiri?”
Riva ndekat, duduk di hadapannya. “Itulah kenapa kau harus datang ke sini. nara Bayangan bukan tempat nyembunyikan rahasia. Ia tempat ncerminkan jiwa. Dan hanya jiwa yang bersih... yang bisa mbuka kebenaran penuh.”
Kaelen ndongak. “Kau tahu apa yang kulakukan. Aku telah nghancurkan banyak hal. Aku bahkan tak ingat wajah Serina dengan jelas lagi.”
“Dan itulah harga kekuatanmu,” bisik Riva. “Setiap potongan sihir dalam darahmu adalah pengganti sesuatu yang manusiawi. Tapi itu bisa dihentikan.”
“Bagaimana?”
Riva berdiri dan berjalan ke arah gerbang nara yang tertutup rapat. Di tengah pintu, sebuah ukiran tangan.
“Letakkan tangan kirimu di sini. Tapi ketahuilah, Kaelen, begitu kau mbuka pintu ini... kau tak akan sama lagi. Kenanganmu bisa kembali—baik atau buruk. Tapi semua itu akan datang sekaligus. Tubuhmu mungkin akan nolaknya. Jiwamu bisa hancur.”
Kaelen natap ukiran itu.
“Jika aku tidak mbukanya, aku akan tetap njadi... makhluk setengah jadi.”
Riva ngangguk. “Dan mudah dikendalikan siapa pun yang tahu celahnya.”
Kaelen berdiri. Jemarinya nyentuh ukiran itu.
Ledakan cahaya keemasan ledak seketika, nyebar ke langit, ke tanah, ke seluruh tubuhnya. Rasa nyeri njalar cepat, bukan di kulit, tapi jauh di dalam... di lapisan ingatan yang telah lama terkubur.
Teriakan keluar dari mulutnya, tak tertahan. Tapi dia tidak berhenti. Ia ndorong lebih keras—nyerahkan dirinya.
Sampai semuanya berhenti.
Pintu terbuka perlahan, dan ruangan di baliknya... dipenuhi cermin.
Kaelen natap dirinya sendiri di lusinan pantulan. Tapi... setiap bayangan nunjukkan hal yang berbeda. Wajah anak kecil. Wajah remaja. Wajah murka. Wajah takut. Wajah yang penuh darah.
Suara Lyra nggema di pikirannya: “Kau tidak tahu siapa dirimu.”
Dan sekarang, untuk pertama kalinya, Kaelen rasa tahu.
Ia langkah ke dalam.
Setiap langkahnya mbuat satu kenangan letup. Suara ibunya bernyanyi. Ayahnya ngangkatnya tinggi di udara. Tawa Serina. Tangis Lyra. Suara Varrok—dan manipulasi di baliknya. Kilatan api. Mayat. Sumpah dendam.
Air mata ngalir di pipinya. Tapi Kaelen tidak mundur.
Riva berdiri di belakangnya, matanya redup.
“Kau sudah di ambang,” katanya pelan. “Kini, pilihan terakhir tinggal satu.”
Kaelen noleh.
“Apa kau akan tetap makai kekuatan itu? Dengan harga yang kau tahu kini?”
Kaelen natap tangannya. Energi masih mbara di dalam dirinya. Tapi kali ini, ia tidak terintimidasi. Ia tahu sumbernya. Ia tahu efeknya.
Dan ia tahu... ia bisa milih.
Ia nggenggam erat liontin kayu dari Riva.
“Jika aku akan nyelamatkan dunia ini... maka aku ingin lakukannya sebagai diriku sendiri. Tanpa dikendalikan siapa pun.”
Di luar nara Bayangan, pasukan Ordo Cahaya ndekat. Tapi di antara reka... ada satu wajah lama yang seharusnya sudah mati. Seorang pengkhianat yang kembali dari neraka untuk nuntut haknya atas takhta.
Reviews
All reviews (0)