Udara di dalam ruang bawah tanah itu berat, dipenuhi aroma debu, batu basah, dan sisa-sisa sihir yang baru saja ledak. Kaelen berdiri di atas lututnya, napasnya terengah, tubuhnya penuh luka. Serina bersandar di dinding, masih goyah, tapi kesadarannya telah kembali sepenuhnya.
Eryon tergeletak tak jauh dari reka, tangannya terikat oleh energi cahaya yang berasal dari Relik Cahaya yang berhasil Kaelen aktifkan ulang.
Namun justru dalam kondisi tertangkap itulah Eryon tampak paling tenang.
Kaelen natapnya tajam. “Kau kalah. Ini sudah selesai.”
Eryon ndongak, senyum miring ngembang di wajahnya. “Oh, Kaelen... kamu masih belum paham. Pertarungan kita hanya cabang kecil dari pohon yang lebih besar.”
Lyra masuk ke dalam ruangan, mbawa gulungan kuno dan buku lusuh yang reka temukan saat njelajah ruangan di atas. Wajahnya pucat. “Kaelen... ada sesuatu yang harus kau lihat.”
Kaelen bangkit dengan susah payah dan berjalan ke arah Lyra. Ia ngambil buku itu, mbuka halaman yang ditunjukkan Lyra. Sebuah lukisan tangan tua tergambar di sana—seorang pria berjubah hitam dan perak, dengan wajah yang sangat familiar.
Kaelen nyipitkan mata.
“Ini... bukan mungkin...”
“Namanya ditulis di sini,” kata Lyra lirih. “Master Archivist. Penjaga Kenangan Besar. Nama aslinya... Varrok.”
Kaelen tersentak mundur. “Itu tidak masuk akal. Varrok adalah guruku. Dia ngajariku segalanya... tentang kehormatan, kekuatan, kesabaran...”
Eryon tertawa pelan. “Dan juga tentang bagaimana mbentuk pikiranmu.”
Kaelen noleh tajam. “Jangan berani kau nghina dia.”
“Aku tidak nghina,” jawab Eryon. “Aku mberimu kebenaran yang kau tolak sejak awal. Kau pernah bertanya kenapa ingatanmu hilang satu per satu? Kenapa kau bisa nggunakan kekuatan gelap tanpa belajar dari kami? Karena Varrok... nyimpannya untukmu. Dia mbuat kanis di dalam dirimu. Setiap kali kau makai kekuatan tertentu, satu ingatanmu ditukar dengan satu potongan kekuatan dari masa lalu.”
Kaelen nggeleng cepat. “Tidak. Varrok bilang itu efek samping...”
“Efek samping yang dia rancang,” potong Eryon cepat. “Kau pikir kenapa setiap kali kau ndekati kebenaran, sesuatu dalam dirimu kabur? Kenapa kau tak pernah benar-benar ngingat wajah ibumu setelah Babak Pembantaian? Atau suara ayahmu yang hanya kau tahu dalam mimpi?”
Serina nunduk. “Kaelen... aku pernah lihat Varrok bicara sendirian. Dulu aku kira dia sedang berdoa. Tapi suaranya... seperti sedang ngatur sesuatu. Seperti bicara dengan... bagian lain dari dirinya.”
Lyra ncengkeram lengan Kaelen. “Kita harus cari tahu. Di ruangan ini. Di catatan ini.”
Kaelen mbuka halaman berikutnya.
Sebuah diagram rumit terlukis. Ada simbol di tengah—sama seperti yang dulu Varrok ukir di lengan Kaelen ketika ia berusia empat belas. Simbol itu... pemicu.
“Setiap kekuatan, setiap akses ke lapisan terdalammu... tidak muncul alami,” kata Lyra. “Itu seperti... diprogram.”
Kaelen perlahan duduk, tubuhnya goyah, tapi lebih karena beban psikologis daripada luka fisik. “Dia mprogramku.”
Eryon ngangguk.
“Tapi kenapa?” Kaelen bertanya. Suaranya hampir tidak terdengar.
“Karena dia inginmu njadi penerusnya. Penerus sejati dari Penjaga Kenangan,” jawab Eryon. “Dan itu butuh pengorbanan yang dia sendiri tak sanggup lakukan. Jadi... dia mbentukmu.”
Kaelen nggeleng pelan, seperti nolak dunia yang sedang runtuh di hadapannya.
“Tidak semua ajarannya salah,” bisiknya.
“Tidak,” jawab Eryon pelan. “Tapi niatnya tak pernah murni. Dia ncintaimu. Itu aku tahu. Tapi dia juga takut akan apa yang bisa terjadi kalau kebenaran terungkap.”
Kaelen natap tangan kirinya—bekas ukiran lama yang dulu ia kira hanya tanda perlindungan. Tapi kini, ia sadar: itu tombol.
“Aku harus tahu lebih banyak,” gumamnya. “Aku harus nemukan tempat asal Varrok. Di mana dia nulis semua ini.”
Lyra nunjuk peta kecil yang terlipat di belakang buku. “Ada satu tempat yang belum kita jamah. Namanya nara Bayangan. Tertulis di sini sebagai ‘Perpustakaan Terakhir’. Mungkin semua jawaban ada di sana.”
Serina berdiri. “Kalau begitu, kita berangkat besok pagi.”
Kaelen natap reka semua. “Tidak. Aku harus pergi sendiri.”
“Tidak!” kata Lyra cepat. “Kau bahkan tidak tahu apa yang akan kau temui di sana.”
“Justru karena itu,” jawab Kaelen tenang. “Kalau aku tidak kembali... setidaknya kalian masih bisa lawan. Tapi kalau aku mbawa kalian dan semua ini jebakan... kita semua bisa musnah.”
Serina natap Kaelen, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku baru kembali. Aku belum sempat... nebus semuanya.”
Kaelen natapnya lembut. “Kau sudah lebih dari cukup, Serina.”
“Dan kau?” tanya Lyra, suaranya nyaris putus. “Apa kau tahu siapa dirimu sekarang?”
Kaelen nunduk sejenak. Lalu natap reka.
“Belum,” jawabnya. “Tapi aku akan nemukannya.”
Kaelen ninggalkan kamp dan nuju nara Bayangan. Tapi seseorang telah lebih dulu tiba di sana: sesosok misterius berjubah ungu... yang gang kenangan masa kecil Kaelen—yang tak pernah ia tahu pernah ada.
Reviews
All reviews (0)