Langkah kaki Serina nggema di lorong batu yang remang, tapi tidak satu pun dari reka ngenal suara langkah itu. Ia datang pelan-pelan seperti bayangan, tapi mbawa badai di belakang matanya yang kosong.
Dari sudut ruangan, Kaelen berdiri mbeku.
“Tidak...” bisiknya, seperti nolak kenyataan yang ada di hadapannya.
Lyra langsung berdiri, tangan nyentuh gagang pedangnya. “Kaelen... itu dia, bukan?”
Kaelen tidak njawab. Ia hanya langkah maju perlahan, tak berkedip. Wajah di depannya terlalu akrab, terlalu nyakitkan untuk dianggap mimpi. Tapi juga terlalu asing untuk disebut nyata.
Serina berhenti beberapa ter dari reka. Jubah putih panjang njuntai di tanah, matanya natap lurus ke depan tanpa emosi. Seakan lihat reka, tapi tidak lihat reka.
“Apa... kau ngenalku?” Kaelen bertanya dengan suara nyaris bergetar.
Serina tidak njawab. Sebaliknya, ia ngangkat tangan kanannya, dan dalam sekejap, anak panah dari energi cahaya terbentuk.
“Kaelen!” Lyra langsung bergerak ke depan, bersiap nangkis.
Namun Kaelen ngangkat tangannya. “Jangan.”
Panah itu lesat. Tapi berhenti di tengah udara, bergetar—dan hancur njadi debu cahaya.
Kaelen berdiri tenang, natap lurus ke mata Serina. “Kau tidak ingin lakukannya. Aku tahu.”
Serina berkedip sekali. Tangannya yang sudah terangkat perlahan turun. Tapi wajahnya tetap datar.
Dari belakang, suara langkah kaki lain terdengar. Eryon muncul dari balik bayangan, masih ngenakan jubah lapis perak yang mbuatnya tampak lebih tua dari usianya. Tapi yang paling ncolok—senyum tipis di wajahnya.
“Kau terlalu sentintal, Kaelen,” katanya, tenang. “Itulah sebabnya reka selalu bisa rusakmu. Tapi aku belajar... jika kau nghapus masa lalu seseorang, kau bisa mbuat ulang siapa pun yang kau inginkan.”
Kaelen nggertakkan gigi. “Apa yang kau lakukan padanya?”
Eryon ngangkat bahu. “Serina adalah proyek yang gagal. Tapi sekaligus berhasil. Ia punya kekuatanmu, tapi tidak punya beban. Tidak ada ingatan, tidak ada keraguan.”
“Dia bukan alat,” kata Kaelen tajam. “Dia bukan proyek. Dia teman kami.”
“Teman?” Eryon ndekat. “Teman yang kau lupakan. Teman yang kau tinggalkan. Teman yang akhirnya kami selamatkan dari rasa sakit—dengan cara kami.”
Serina natap Eryon. Sekilas, kerutan muncul di dahinya.
Kaelen nangkapnya. “Lihat! Dia masih di sana. Dia tidak sepenuhnya hilang!”
Eryon nghela napas. “Masalahnya denganmu, Kaelen... kau terlalu percaya pada hati. Dan terlalu takut kehilangan. Tapi itu yang mbuatmu lemah.”
Kaelen langkah maju. “Kau tahu apa yang mbuatku kuat, Eryon?”
“Apa?”
“Rasa sakit. Bukan nghindarinya. Tapi nerimanya. ngakuinya.”
Ia natap Serina. “Kalau aku bisa rasa kehilangan, itu karena aku pernah ncintainya sebagai teman. Sebagai saudara. Dan itu jauh lebih kuat dari apapun yang kau tanamkan di dalam dirinya.”
Serina nggigit bibir bawahnya pelan. Tangannya bergetar. Ia nunduk, dan sejenak, sebutir air mata jatuh.
Eryon terdiam.
Kaelen ndekat satu langkah. “Serina... kalau kau tak ingat siapa aku, tak apa. Tapi kalau ada bagian kecil dalam dirimu yang masih rasakan... kau boleh ikut kami. Tidak sebagai alat. Tapi sebagai manusia.”
Tiba-tiba, Serina njerit.
Tangan kirinya nyentuh kepala, seperti sesuatu di dalam dirinya sedang berperang. Suaranya pecah, dan tubuhnya berlutut. Cahaya di sekelilingnya berkedip—kadang biru, kadang rah.
Lyra ingin maju, tapi Kaelen ngangkat tangan nghentikannya.
“Aku di sini,” kata Kaelen lembut. “Aku tidak akan pergi.”
Dari dalam jeritan itu, terdengar suara serak lirih:
“...Kaelen...?”
Jantungnya nyaris berhenti.
“Serina...”
Namun mon itu tak bertahan lama. Eryon langkah cepat ke depan, ngacungkan tangan.
“Cukup!”
Sinar rah nyambar ke arah Serina. Kaelen refleks nariknya dan lempar tubuhnya ke samping, mbentur dinding batu.
Kaelen berdiri nghadang, tubuhnya terluka tapi tegak. “Kau sudah cukup rusak. Kau tak akan nyentuhnya lagi.”
Eryon natap Kaelen dengan sorot tajam. “Kalau begitu, kaulah yang harus kulenyapkan.”
Kaelen dan Eryon kembali berhadapan, namun kali ini dan bukan hanya kekuatan—tapi ingatan. Setiap serangan Eryon berusaha nghapus potongan mori Kaelen. Tapi Kaelen sudah berubah.
Ia belajar nanam ulang rasa kehilangan sebagai kekuatan.
“Kalau kau cabut ingatan tentang Lyra—aku akan jatuh cinta lagi padanya,” ucapnya sambil nahan gelombang serangan.
“Kalau kau hapus Serina, aku akan temukan dia lagi.”
“Kalau kau ambil semua yang mbuatku ‘Kaelen’—maka aku akan milih jadi siapa pun yang lawanmu.”
Dengan teriakan terakhir, ia nebas serangan Eryon, nghantamnya balik.
Ledakan cahaya nyebar ke seluruh ruangan.
Saat debu reda, Eryon terduduk, tubuhnya getar. Di belakang Kaelen, Serina sudah berdiri—masih goyah, tapi dengan mata yang kini basah dan sadar.
“Kaelen...” bisiknya.
Kaelen noleh. “Kau kembali.”
Serina ngangguk kecil. Lalu tersenyum, samar. “Aku tak ingat segalanya. Tapi aku ingat cukup... untuk tahu siapa yang pantas kupercaya.”
Serina kembali, tapi tidak utuh. Sentara Eryon tertangkap... dan berkata: “Kau pikir ini akhir? Kalian belum lihat kebenaran tentang siapa yang nanam kenangan di kepalamu sejak awal...”
Kaelen mbeku. Sebuah nama muncul dalam benaknya. Bukan Eryon. Tapi seseorang lain.
Reviews
All reviews (0)