Font Size
15px

reka berlima berdiri di tengah lembah kecil yang tersembunyi di balik dinding gua air. Udara di sini basah dan berat, namun jauh dari suara pertempuran. Hanya ada bisikan angin dan gemuruh lembut air yang ngalir dari dinding batu.

Kaelen duduk di atas batu besar, diam. Air masih netes dari jubahnya, tapi pikirannya jauh lebih tenggelam dari tubuhnya.

Ia natap tanah. Atau lebih tepatnya, bayangan yang baru saja ia lihat. Sosok berjubah putih. Wajah yang hanya sempat terlihat setengah... tapi ia tahu betul garis mata itu.

“Serina,” gumamnya pelan.

Lyra lirik, ndengar nama itu untuk pertama kalinya keluar dari mulut Kaelen sejak lama. Ia mbuka mulut ingin bertanya, tapi nahannya.

Saren nepuk lengan Khevan, lalu ndekati Kaelen. “Kalau kau mang lihat seseorang yang seharusnya sudah tiada... itu berarti dua kemungkinan. Entah musuh mulai bermain dengan bentuk dan wajah, atau—”

“Atau dia belum mati,” potong Kaelen.

“Tapi bukankah kau sendiri yang nguburkannya?” tanya Alden. Suaranya terdengar hati-hati, tidak seperti biasanya.

Kaelen natapnya. “Aku ngubur jasad. Tapi ingatanku tentang saat itu... samar. Aku sedang dalam mode kekuatan penuh. Setelah itu, aku tak ingat prosesnya. Hanya lubang di tanah, dan batu nisan.”

Lyra nghela napas panjang. “Kaelen. Kau harus mulai mpertimbangkan satu hal.”

“Apa?”

“Kekuatanmu... bukan hanya ngambil kenangan. Tapi mindahkannya.”

Hening.

Khevan ngernyit. “mindahkan?”

Lyra ngangguk pelan. “Serina, Lyra, bahkan dirimu sendiri. Kau lupa, bukan karena semata nghapus. Tapi karena sesuatu atau seseorang nyimpan itu... di tempat lain.”

Kaelen natap Lyra, matanya perlahan lebar.

“Apa kau ngacu pada... arsip?” tanya Saren. “Rumor itu?”

“Lebih dari sekadar rumor,” jawab Lyra. “Grandmaster Elvior pernah nyebutnya sebelum gugur. Ia nyimpan percakapan rahasia dengan Eryon. Ada fasilitas tersembunyi di bawah kota lama, tempat para pengguna kekuatan seperti Kaelen... diteliti.”

“Dan kenangan reka disimpan?” Khevan tampak skeptis.

Lyra ngangguk. “Disimpan, dikunci, atau... dimanipulasi.”

Kaelen berdiri. “Bawa aku ke sana.”

*****

Dua hari kemudian.

Kota lama bernama Calthera—dulunya pusat akademi pengetahuan dan perpustakaan terbesar di wilayah barat. Kini reruntuhan. Terbakar separuh saat Ordo Cahaya musnahkan seluruh arsip sejarah yang bertentangan dengan dogma reka.

Tim kecil itu nyelinap masuk lewat lorong tua perpustakaan. Hujan gerimis mbuat tanah licin, dan aroma buku hangus masih nggantung ski puluhan tahun telah berlalu.

“Pintu itu,” Lyra nunjuk ke pintu batu berukir lambang yang Kaelen kenali. Lambang Ordo, tapi versi lama—dengan mata tertutup dan ular di sekelilingnya.

Saren nempelkan telapak tangannya ke ukiran. “Perangkap?”

“Bisa jadi,” kata Alden.

Kaelen maju. “Kalau ini tempat reka nyimpan kenangan... mungkin aku bisa mbukanya.”

Ia nempelkan telapak tangan pada ukiran. Seketika, batu itu manas. Cahaya biru nyala dari celah ukiran, berdenyut... seolah respons.

Pintu terbuka perlahan.

Di baliknya—tangga nurun, diterangi obor biru yang nyala otomatis saat reka langkah masuk. Di bawah, aula besar dengan silinder kaca berdiri berbaris, masing-masing nyimpan semacam kristal bercahaya samar.

Di dinding, ukiran simbol dan huruf lama.

Khevan langkah ndekati salah satu tabung.

“Ini... ini seperti tempat nyimpan jiwa.”

“Bukan jiwa,” potong Lyra. “mori. Fragn.”

Saren ngangkat kristal kecil dari ja logam. “Ada nama di sini.”

“Apa?” tanya Kaelen cepat.

Saren mbaca, “Serina. Tertanggal sepuluh hari sebelum serangan ke Benteng Utara. Status: disimpan.”

Kaelen ndekat dan raih kristal itu.

Begitu ia nyentuhnya, gelombang energi nyambar ke tubuhnya. Cahaya nuhi ruang bawah tanah. Semua terdiam.

Gambar lintas di benaknya: Serina—terbaring berdarah, tapi masih hidup. Seorang pria berkerudung putih gang kepalanya, nyentuh dahinya. Cahaya biru nyala, dan tubuh Serina njadi tenang. Tapi bukan mati—dia dibawa, bersama ingatannya... disimpan.

Gambar itu nghilang.

Kaelen terhuyung.

“Dia... dia tidak mati,” bisiknya.

“Apa maksudmu?” tanya Lyra, cemas.

“Dia dibawa. Ingatannya diambil. Sama seperti aku. Mungkin sekarang dia tak tahu siapa dirinya... atau siapa aku.”

Alden ncengkeram gagang pedangnya. “reka nciptakan tentara dari orang-orang yang kehilangan diri reka sendiri. Seperti kau.”

Kaelen ngepalkan tangan. “Kita harus cari dia. Dan—hancurkan tempat ini. Dunia tidak butuh lagi tempat yang njadikan manusia sebagai wadah eksperin.”

Saren natap tabung-tabung lain. “Tapi bagaimana kalau di antara reka... masih ada yang bisa diselamatkan?”

Kaelen natap tabung lain. Beberapa bertuliskan nama-nama asing. Beberapa hanya angka. Di satu tabung, ia lihat sesuatu yang mbuatnya terdiam.

Namanya sendiri.

“Kaelen. Subjek 47. Prototipe berhasil. Status: aktif.”

Ia ndekati tabung itu. Tidak ada kristal di dalamnya. Hanya kosong.

Lyra berdiri di belakangnya.

“reka sudah lihatmu sebagai alat... bahkan sejak awal.”

Kaelen natap Lyra. Wajahnya keras, tapi matanya basah.

“Kalau aku hanya prototipe... apakah semua yang kurasakan juga palsu?”

Lyra raih tangannya. “Perasaanmu nyata. Karena aku yang rasakannya juga.”

Kaelen mutuskan nyelamatkan siapa pun yang masih miliki mori, lalu nghancurkan fasilitas itu. Tapi dari bayang-bayang, seseorang ngawasi: Eryon. Dan di belakangnya—Serina... ngenakan jubah putih, matanya kosong.

You are reading The Shattered Light Chapter 175: – Arsip yang Hilang on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.