Lorong itu lebih dingin dari sebelumnya. Tidak hanya karena udara lembap yang ngendap di dinding batu tua, tapi juga karena aura ganjil yang nggantung—seperti sesuatu yang sedang ngawasi reka dari balik tembok.
Kaelen berdiri terpaku di depan ukiran nama ibunya. Sentuhan jarinya masih nempel di batu, dan jantungnya berdetak tak karuan.
“Apa kau yakin itu nama ibumu?” bisik Lyra, ndekatinya. Suaranya pelan, tapi jelas nyimpan kekhawatiran.
Kaelen ngangguk perlahan, walau ia sendiri tak yakin kenapa bisa yakin. “Aku... tak ingat wajahnya. Tapi nama ini... sesuatu dalam tubuhku tahu. Rasanya seperti luka lama yang belum sembuh, ski aku tak tahu luka apa.”
Saren yang berada di depan mberi isyarat. “Kita harus lanjut. Lorong ini mbawa kita ke ruang tahanan bawah. Jika benar laporan dari mata-mata kita, beberapa tawanan—mungkin yang pernah ngenalmu—masih hidup.”
Alden nyipitkan mata. “Dan kalau itu jebakan?”
Khevan nimpali cepat, “Atau mungkin justru itu kunci yang bisa ngembalikan ingatan Kaelen. Kalau seseorang tahu siapa dia sebelum semua ini...”
“Aku tidak butuh ingatan untuk bertarung,” sela Kaelen tiba-tiba, suaranya tajam. “Yang kulawan sekarang adalah Ordo. Bukan masa lalu.”
Namun Lyra natapnya tajam. “Kau sudah kehilangan Serina. Lalu perlahan lupa padaku. Kalau ada seseorang di balik jeruji sana yang bisa mberimu bagian yang hilang... kau benar-benar akan abaikan itu?”
Hening.
Kaelen natap lorong gelap di depan, lalu natap arah berlawanan: tangga nuju pusat benteng. Dua arah. Dua kemungkinan. Tapi hanya satu yang bisa reka ambil. Waktu reka terbatas.
Alden natap Kaelen, seperti nunggu keputusan.
“Kau adalah komando kami. Tapi malam ini bukan hanya tentang kenangan,” katanya. “Kalau kau kehilangan segalanya, apa gunanya nang?”
Kaelen ngepalkan tangan.
“Bawa aku ke ruang tahanan.”
reka nuruni lorong ke arah ruang bawah tanah. Setiap langkah terasa semakin berat, seperti tubuh reka diberatkan oleh ketidakpastian yang ngintai. Lampu-lampu minyak di dinding nyala samar, nandakan bahwa tempat itu masih digunakan. Atau baru saja digunakan.
Ketika reka sampai di depan pintu baja tua yang nyaris berkarat, Saren nempelkan telinga. “Ada suara... napas. Tapi lemah.”
Kaelen nunduk dan berbicara dengan nada rendah, “Buka perlahan. Jika ini jebakan, kita harus cepat.”
Alden narik tuas di samping dinding. Dengan derit berat, pintu terbuka.
Ruangan itu berisi enam sel kecil. Di satu sudut, sosok tua dengan rambut panjang acak-acakan duduk bersandar, napasnya berat. Di sel lain, seorang perempuan muda tampak nggenggam seutas kain sobek, matanya kosong.
Kaelen masuk perlahan. “Siapa kalian?” suaranya berat, penuh ragu.
Sosok tua itu mbuka mata.
Mata itu nyala.
“Kaelen...” gumamnya, lirih, seolah nyebut nama dewa yang turun dari langit. “Akhirnya kau datang juga...”
Kaelen tertegun. “Kau ngenalku?”
“Lebih dari itu. Aku—aku yang nyelamatkanmu saat ibumu jatuh. Aku tak bisa nyelamatkan dia, tapi aku bawa kau keluar dari reruntuhan. Kau masih bayi...”
Kaelen mbeku.
Khevan ndekat. “Ini... bukan jebakan.”
Lyra natap Kaelen dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ia tak bicara, tapi Kaelen bisa lihat dalam matanya: ini penting. Ini kunci.
Kaelen ndekati jeruji. “Siapa namamu?”
“Dereka,” jawab si lelaki tua. “Dereka dari Klan Batu Arang. Penggalang pasukan saat perang pertama.”
Kaelen nelan ludah. “Kau tahu siapa ayahku?”
Dereka ngangguk perlahan. “Dia bukan siapa-siapa... tapi dia adalah segalanya bagi ibumu. Dan kau... adalah warisan reka.”
Keheningan nggantung.
Sampai Lyra bersuara, pelan tapi tegas. “Kita tidak bisa tinggal lama. Kalau ini bukan jebakan, maka itu berarti reka sedang nyiapkan sesuatu yang lebih buruk.”
Kaelen ngangguk.
“Buka selnya,” perintahnya. “Kita bawa reka keluar.”
Saat reka mbawa para tawanan keluar dari ruang tahanan, suara peluit pendek terdengar. Satu, dua, tiga... lalu senyap.
Saren mbentak, “Musuh di belakang!”
Pintu besi nutup otomatis—perangkap.
Pasukan Bayangan Ordo muncul dari balik dinding yang berputar, seperti hantu dari kegelapan. reka ngenakan jubah tanpa simbol, wajah tertutup. Tapi senjata reka nyata.
Pertarungan pecah seketika.
Kaelen nebas dua lawan sekaligus. Alden lemparkan dua bilah pisau ke dada penjaga. Lyra lompat ke udara, nembakkan dua panah berturut-turut, nancap di leher lawan. Tapi musuh datang bertubi-tubi.
“Kita terpojok!” teriak Khevan. “Pintu tak bisa dibuka lagi!”
Dereka yang masih lemah nunjuk ke sudut. “Ada jalur air... di balik sel nomor dua. Jalur lama penambang.”
Kaelen berlari ke sana, nghancurkan dinding tipis dengan sekali tebas.
“Semua masuk! Sekarang!”
reka nyelinap ke terowongan air sempit. Saat masuk satu per satu, Kaelen noleh ke belakang—pasukan musuh semakin ndekat, tapi ia sempat lihat satu hal yang mbuat darahnya mbeku.
Di lorong utama—berdiri seseorang dengan jubah putih... bukan hitam.
Seseorang yang seharusnya sudah mati.
“Serina?” gumamnya.
Tapi ketika ia micingkan mata—sosok itu nghilang.
Kaelen terpaku beberapa detik sebelum Lyra narik lengannya. “Kaelen!”
reka masuk ke terowongan air dan nghilang dalam kegelapan.
Di ujung lorong bawah tanah, reka berhasil keluar ke lembah tersembunyi. Tapi pertanyaan nggantung di udara:
Apakah Serina benar-benar mati?
Atau... apakah kenangan Kaelen telah dimanipulasi oleh kekuatannya sendiri?
Reviews
All reviews (0)