Font Size
15px

Langkah reka bergema di sepanjang lorong sempit tambang tua itu. Dinding batu yang dingin dan lembap seolah berbisik, nyimpan sejarah dari ribuan tangan yang pernah nggali di sana—sebagian besar tak pernah keluar hidup-hidup. Suara tetesan air dari langit-langit seperti hitungan waktu, perlahan tapi pasti nekan batas kesabaran.

Kaelen berjalan paling depan, obor di tangannya nyaris tak cukup nerangi sekeliling. Di belakangnya, empat orang bergerak diam: Lyra, Alden, Saren—ahli perang bawah tanah dari pasukan timur—dan Khevan, pemuda kurir yang bersikeras ikut.

“Kalau tambang ini runtuh, kita terkubur hidup-hidup,” gumam Alden, pelan tapi cukup jelas terdengar.

“Jangan bicara soal kematian sebelum kita lihat cahaya di ujung,” sahut Lyra datar. Matanya awas nelusuri setiap patahan di dinding.

Kaelen hanya ngangguk. Tapi pikirannya jauh lebih gaduh dari lorong sepi itu. Setiap tikungan mbawa rasa dejavu aneh, seperti pernah dilalui. Tapi ia tahu itu mustahil. Ia tak pernah ke sini. Atau... pernahkah?

“Berhenti,” bisik Saren, tangan terangkat.

Semua mbeku.

Saren nunduk, nyentuh tanah. “Ada getaran kecil... perangkap, mungkin jebakan suara. Ordo Cahaya tahu kita mungkin nyusup.”

Khevan nelan ludah. “Apa kita kembali?”

Kaelen nggeleng. “Tunjukkan jalur alternatif.”

Saren nunjuk lorong samping, lebih sempit, lebih gelap, tapi—katanya—lebih sunyi. reka berpaling ke sana, nyelinap satu per satu. Nafas reka mulai pendek, bukan karena kelelahan, tapi karena ketakutan yang belum nemukan bentuk.

Di lorong sempit itu, Kaelen rasa jantungnya berdetak tidak di dadanya, tapi di tengkuk, di tangan, di pelipis. Ia tahu rasa ini. Ketika sesuatu akan pecah, tapi tak tahu dari mana. Ia sudah kehilangan terlalu banyak—ia tak ingin kehilangan lebih malam ini.

Lyra nyadari hal itu. “Kau tenang?” bisiknya saat reka runduk lewat lorong sempit.

Kaelen njawab tanpa noleh. “Tidak. Tapi kita tetap berjalan.”

Setelah satu jam berjalan dalam keheningan tegang, reka tiba di sebuah ruang terbuka. Pilar-pilar batu nopang langit-langit tinggi yang dipenuhi akar nggantung. Udara terasa lebih berat, tapi juga lebih hidup.

“Ini ruang istirahat lama para penambang,” jelas Saren. “Kita bisa nyalakan api kecil. Tapi hanya lima nit.”

reka duduk lingkar. Obor ditancapkan ke celah batu.

Khevan ngeluarkan roti keras dari kantong. “Ini semua terasa tidak nyata,” gumamnya. “Dulu aku hanya tukang kirim pesan. Sekarang aku ikut pasukan khusus nembus tambang untuk mbunuh pemimpin Ordo Cahaya.”

Lyra noleh. “Kau bisa tetap jadi pengantar pesan.”

“Aku tidak bisa setelah lihat yang reka lakukan ke keluargaku,” balasnya pelan.

Alden ngangguk. “Semua dari kita dulu bukan siapa-siapa. Sekarang kita di sini bukan karena hebat—tapi karena kita tak bisa diam.”

Kaelen natap api kecil itu. Ia ingin mpercayai kata-kata Alden. Tapi sebuah suara di dalam dirinya terus berkata: Dan berapa banyak yang harus mati agar kau terus rasa kau benar?

Tiba-tiba... BUKKK!

Tanah di bawah reka berguncang.

Saren berdiri cepat. “Seseorang njatuhkan reruntuhan! Kita harus keluar sekarang!”

reka berlari, api mati dalam satu hembusan angin. Gelap. Hanya suara napas, langkah tergesa, dan teriakan Saren yang mbimbing.

reka sampai di lorong utama kembali—tapi salah satu dinding sudah roboh, nghalangi jalan keluar.

“Ini jebakan. reka tahu kita masuk!” pekik Alden.

“Tenang!” bentak Kaelen. Ia natap ke depan. Ada cahaya samar dari ujung lorong. “Kita lanjut ke arah benteng. Ini belum berakhir.”

Di luar tambang, jauh di atas tanah, pos penjaga Ordo sudah nyadari kehadiran reka.

Di ruang pemantau benteng, seorang pemimpin muda Ordo berkata, “Pasukan gerilya nyusup dari tambang. Kirim Unit Bayangan ke dalam. Tak usah ditawan. Bunuh saja semua.”

Kembali ke bawah tanah.

reka tiba di gerbang bawah benteng—pintu besi tua dengan simbol Ordo yang mulai terkelupas. Kaelen nghela napas, lalu ngangguk ke Alden.

Alden masang ledakan kecil. “Saat ini ledak, tidak akan ada jalan kembali,” katanya.

Kaelen tak njawab. Ia sudah tahu itu sejak langkah ke tambang.

BOOM!

Pintu besi runtuh dengan debu dan batu beterbangan. reka masuk cepat.

Di dalam, lorong nuju benteng lebih terang, tapi juga lebih sunyi. Terlalu sunyi.

“Kau rasa reka tahu?” tanya Lyra.

Kaelen ngangguk. “reka tahu. Tapi reka belum tahu seberapa besar yang akan kita lakukan.”

Saat reka ndekati pusat benteng, langkah reka terhenti.

Di dinding lorong, terukir puluhan nama. Nama-nama dari masa lalu.

Kaelen berhenti. Tangan getar.

“Kaelen...” bisik Lyra. “Nama-nama itu...”

Kaelen nyentuh satu nama di tengah dinding.

Itu nama ibunya.

Yang tak pernah ia ingat lagi... tapi kini, tangannya getar seperti ngenali.

You are reading The Shattered Light Chapter 173: – Nafas di Dalam Kegelapan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.