Font Size
15px

Tenda strategis kali ini tak lagi sunyi. Di dalamnya, tujuh kursi kayu mbentuk setengah lingkaran nghadap ja batu yang baru dibangun dari reruntuhan pos Ordo Cahaya. Di atasnya tergelar peta besar wilayah timur—zona rah nyala nandai kekuasaan Ordo yang masih tersisa, dan garis-garis hitam nunjuk jalur pasukan pemberontak yang tersebar.

Kaelen duduk di kursi utama, tapi kursi itu tidak lebih tinggi dari yang lain. Ia mutuskan: tidak akan ada lagi singgasana simbolik dalam perlawanan ini.

"Mulai hari ini," katanya, mbuka pertemuan, "semua keputusan akan diambil oleh kita bersama. Bukan hanya dari satu kepala, lainkan tujuh suara."

Ranar duduk di sebelah kiri Kaelen, wajahnya masih mbawa luka baru. Di seberangnya ada Lyra, tenang dan penuh perhitungan. Alden, berdiri di belakang kursinya, seperti biasa, mata awas pada peta dan ekspresi siapa pun.

Dua kursi di ujung kanan diisi oleh para pemimpin baru dari divisi selatan dan timur: Sada, wanita tua berkulit legam dengan mata tajam seperti elang, dan ren, mantan tabib yang kini njadi ahli logistik.

“Dan kursi ketujuh?” tanya Lyra, natap tempat yang masih kosong.

Kaelen natap peta sejenak, lalu njawab, “Itu untuk perwakilan rakyat desa yang kita lindungi.”

Alden ngernyit. “reka tak punya pelatihan militer.”

“Betul,” ujar Kaelen, “tapi reka yang nanggung konsekuensi dari setiap keputusan kita. reka berhak bicara.”

Sada terkekeh kecil. “Kau tak lagi jadi panglima biasa, anak muda. Kau mulai bertingkah seperti pemimpin dunia.”

Kaelen tersenyum tipis. “Kalau begitu, biar aku belajar mimpin dari awal.”

Lyra natapnya lama. Ia ngenali perubahan itu. Kaelen yang dulu hanya bergerak berdasarkan kemarahan, kini mulai ncari arah dari keraguan. Dan kadang, itulah bentuk kepemimpinan terbaik.

“Baik,” kata Lyra, mbuka rapat. “Mari kita bahas tujuan pertama Dewan ini: benteng utama Ordo di Erendor.”

Ranar maju. “Erendor dijaga dua lapis pertahanan. Pasukan reka lebih banyak, tapi kita punya keunggulan posisi dari arah barat laut. Aku sarankan kita mbagi pasukan jadi tiga jalur penyergapan.”

Sada nyela. “Jalur barat laut penuh rawa. Kau ingin pasukanmu tenggelam sebelum sampai ke gerbang?”

“Lebih baik tenggelam bersama rencana daripada bertarung tanpa arah,” balas Ranar.

Lyra ngangkat alis. “Atau kita bisa manfaatkan malam bulan mati untuk nyusupkan satu pasukan kecil lewat terowongan bekas tambang di sisi selatan. Aku tahu jalurnya.”

Alden nimpali. “Terlalu berisiko. Kita tak tahu kondisi tambang itu sekarang. Bisa jadi jebakan.”

Kaelen ndengarkan semua. Kepalanya penuh pertimbangan, tapi bukan kebingungan. Justru, ia mulai mahami kekuatan dari mbuka telinga, bukan hanya ngangkat pedang.

Ia ngetuk ja. “Kita tidak milih satu rencana. Kita ambil dua—penyergapan utama lewat barat, dan tim kecil lewat tambang. Tapi... aku yang akan pimpin penyusupan.”

Semua mata noleh padanya.

“Kaelen, itu bunuh diri,” ujar Lyra pelan.

Kaelen natapnya. “Kalau kita minta orang lain bertaruh nyawa, aku harus mau bertaruh lebih dulu.”

ren, yang selama ini diam, angkat bicara. “Pemimpin tidak hanya mimpin dengan pedang. Kau lebih dibutuhkan di sini.”

“Aku akan kembali,” jawab Kaelen, “tapi aku harus pergi dulu untuk tahu apa yang layak aku bawa pulang.”

Rapat itu selesai dalam sunyi. Masing-masing ninggalkan tenda dengan pikiran sendiri-sendiri.

Malam itu, Lyra nyusul Kaelen yang duduk sendirian di luar tenda. Angin mbawa aroma pinus dan bara dari api unggun.

“Kenapa kau selalu milih cara yang paling nyakitkan, Kaelen?” tanyanya.

Kaelen noleh. “Karena cara yang mudah... terlalu mudah mbuatku lupa siapa yang sudah kubakar untuk sampai di sini.”

Lyra duduk di sampingnya. “Kau takut lupakan lagi?”

Kaelen tertawa kecil, pahit. “Aku bahkan tidak ingat suara Serina. Kadang aku lupa nama ayahku. Tapi rasa kehilangan itu tetap tinggal, ski wajah-wajahnya mulai nghilang.”

Lyra nggenggam tangannya. “Aku di sini. Dan selama aku bisa, aku akan jadi saksi untuk semua yang kau lupakan.”

Kaelen jamkan mata. “Kalau suatu hari aku lupa padamu juga...”

“...maka aku akan tetap bicara padamu seolah kau masih ingat. Karena cinta, Kaelen, bukan soal diingat—tapi soal milih untuk tetap tinggal, ski tak dikenal lagi.”

Sunyi. Lalu Kaelen mbisik, “Kalau aku mati...”

“Kau belum mati,” potong Lyra, “dan aku belum selesai marah padamu.”

reka tertawa pelan. Untuk sejenak, di antara bara dan bayangan, ada kedamaian yang tak bisa direnggut perang.

You are reading The Shattered Light Chapter 172: – Meja Batu dan Api on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.