Pagi itu, langit di atas perkemahan pasukan pemberontak tidak biru, lainkan kelabu seperti abu. Sisa-sisa asap dari serangan semalam masih nggantung di udara. Beberapa tenda sobek, sebagian peralatan terbakar. Namun, suasana yang paling ncolok bukan kehancuran fisik—lainkan keheningan aneh yang nyelimuti setiap prajurit. Keheningan yang penuh ketegangan.
Kaelen berdiri di tengah perkemahan, mandangi tanah yang basah oleh darah dan lumpur. Di sekelilingnya, beberapa prajurit berdiri kaku dalam barisan yang kacau, sentara yang lain duduk di tanah dengan wajah tertunduk.
“Siapa yang mulai penyerangan sebelum perintah diberikan?” suara Kaelen dingin, namun jelas.
Tak ada yang njawab. Hanya desau angin dan bunyi tembakan jauh di utara yang njawabnya.
“Ini bukan disiplin yang biasa kalian tunjukkan. Jadi aku akan tanya sekali lagi. Siapa yang mulai tanpa komando?”
Beberapa wajah saling lirik. Lalu salah satu prajurit, lelaki bertubuh kekar dengan luka sayatan di pipi—Ranar, komandan divisi utara—maju setapak.
“Aku yang beri sinyal, Lord Kaelen.”
Alden, yang berdiri di belakang Kaelen, langsung langkah maju. “Kau nyalahi rantai komando. Kau tahu apa artinya itu?”
Ranar tidak goyah. “Kami lihat pasukan Ordo bergerak. Jika kami tunggu lebih lama, reka akan kabur. Kami hanya ngambil inisiatif.”
Kaelen ngangkat tangan, nghentikan Alden. Ia natap Ranar lama. “Berapa orang yang kita kehilangan?”
“Dua puluh tiga. Tapi reka kehilangan lebih banyak. Kita nang.”
“nang?” Kaelen ngulang dengan nada datar. “Kau sebut kenangan sesuatu yang kita capai dengan mbunuh tanpa tujuan jelas? Dengan ngorbankan nyawa tanpa rencana?”
Ranar ngatupkan rahangnya. “Kami lelah nunggu. Kami bertempur karena kami percaya. Jika kita harus nunggu terus, apa bedanya kita dengan Ordo yang hanya bicara tanpa berbuat?”
Kaelen natapnya tajam. “Bedanya, kita tidak berubah njadi reka.”
Keheningan kembali. Kaelen natap para prajurit, lalu suara Lyra cah diam.
“Pasukan mulai rasa kau tak lagi lihat reka, Kaelen. reka nganggap kau sibuk dengan... hantu-hantumu sendiri.”
Wajah Kaelen ngeras. “Apa maksudmu?”
Lyra natapnya lurus. “Sejak Serina mati... sejak kau mulai kehilangan ingatan satu per satu... kau berubah. Kau njadi... semakin jauh. Dan reka—kami—tidak tahu apakah kau masih mimpin, atau hanya berjalan karena terbiasa.”
“Jadi kalian bicara di belakangku,” kata Kaelen pelan.
Alden ikut angkat suara. “Bukan bicara di belakang, tapi ncoba nyelamatkan arah pasukan ini. Kita butuh pemimpin yang hadir—bukan hanya tubuhnya, tapi juga jiwanya.”
Kaelen nutup matanya sejenak. Ia rasa seperti berdiri di tepi jurang, dan setiap kata dari orang-orang yang ia percaya adalah kerikil yang mbuat pijakannya goyah.
Lalu ia berkata pelan, “Kalian benar.”
Semua terdiam.
Kaelen lanjutkan, “Aku telah berjalan dalam gelap terlalu lama. Dan aku pikir, selama pedangku masih bisa diayunkan, itu cukup. Tapi aku salah. Kekuatan tidak cukup. Kenangan tidak cukup.”
Ia natap pasukannya. “Aku minta maaf.”
Ranar nunduk, kali ini bukan karena takut, tapi karena hormat. “Kami hanya ingin tahu bahwa pemimpin kami masih mimpin.”
Kaelen narik napas panjang. “Mulai hari ini, semua keputusan akan didiskusikan. Tidak ada lagi perintah buta. Tidak ada lagi serangan sepihak. Jika kita bertarung... kita bertarung sebagai manusia.”
Alden tersenyum tipis. “Akhirnya kau kembali, Kaelen.”
Lyra, yang sejak tadi berdiri tenang, langkah ndekat. “Dan kalau suatu hari nanti... kau kembali tenggelam, kami akan narikmu lagi. skipun harus nyeretmu keluar dari bayanganmu sendiri.”
Kaelen noleh, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum. “Terima kasih.”
Sore hari, Kaelen manggil Ranar secara pribadi di tenda strateginya.
“Aku tak akan njatuhkan hukuman padamu,” ujar Kaelen.
“Karena aku benar?” Ranar bertanya, hati-hati.
“Bukan. Karena kau salah, tapi aku juga bersalah. Dan kesalahan satu pihak tidak bisa dibenarkan dengan nghukum pihak lain yang ngisi kekosongan.”
Ranar ngangguk pelan. “Lalu apa yang akan kau lakukan padaku?”
Kaelen natapnya serius. “Kau akan tetap mimpin pasukan utara. Tapi mulai sekarang, semua rencana hanya bisa berjalan setelah disetujui dalam dewan taktis. Tak ada keputusan satu orang, bahkan aku.”
Ranar terdiam sejenak, lalu berdiri tegak. “Aku akan hormati itu.”
Kaelen nepuk bahunya. “Dan aku akan belajar mpercayai kalian lagi.”
Reviews
All reviews (0)