Malam njelang ketika pasukan Kaelen mulai nyusup ke desa Nareth. Angin berdesir lembut di antara reruntuhan ladang gandum yang hangus. Cahaya bulan terpantul di ujung pedang yang digenggam erat, namun tak satu pun dari reka berbicara. Semua tahu ini bukan operasi biasa.
Kaelen berdiri di depan bangunan setengah runtuh, jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya.
“Bau darah masih segar,” gumam Alden di sebelahnya.
Kaelen ngangguk, matanya nyapu puing-puing. “Terlalu sunyi. reka nunggu.”
Suara dari balik reruntuhan njawab. “Kau mang masih peka, Kaelen.”
Semua mata berpaling. Seorang pria dengan jubah kelabu muncul perlahan dari bayangan. Wajahnya mbawa ironi yang nusuk: separuh akrab, separuh asing.
“Aren,” bisik Alden dengan suara tercekat. “Dia... masih hidup?”
Kaelen natap pria itu, dadanya sesak. “Kau harusnya mati bersama kami di Benteng Myrr.”
Aren tersenyum miris. “Dan kehilangan kesempatan untuk lihat kebenaran? Tidak, aku milih hidup. ski artinya berdiri di seberangmu.”
Langkah Kaelen maju setapak. “Kebenaran apa yang kau lihat dengan njadi anjing Elvior?”
“Bukan kebenaran Elvior. Tapi kenyataan bahwa dunia ini tak bisa diselamatkan dengan belas kasihan. Kau—kita—terlalu lemah untuk ngubah dunia tanpa darah.”
Kaelen terdiam. Lalu ia berkata perlahan, “Aku tak percaya kau bicara begitu sambil berdiri di atas abu anak-anak yang terbakar.”
Aren narik napas, tapi wajahnya tetap tenang. “Aku kehilangan adikku karena keputusan sentintal seperti milikmu. Kebaikan tak bisa nyelamatkannya. Tapi kekuatan—kekuatan bisa.”
“Kekuatan tanpa nurani bukan penyelamat. Itu kutukan,” sahut Kaelen dingin.
Aren ndekat. “Dan kau pikir dunia akan milih pemimpin yang punya nurani tapi tak berani bertindak?”
Kaelen ngangkat pedangnya, bukan untuk nyerang, tapi sebagai garis batas. “Aku lebih suka dihancurkan karena mpertahankan nuraniku, daripada hidup dalam kenangan yang tidak layak.”
Tiba-tiba, suara dentingan panah terdengar dari jauh—pertempuran mulai pecah di sisi timur desa. Kaelen dan Aren noleh serempak.
“Pasukanmu mulai bergerak?” tanya Aren.
“Bukan atas perintahku,” jawab Kaelen. “Itu reka yang tak sabar untuk berlumur darah.”
Aren noleh, natap Kaelen dengan mata yang lebih lembut dari sebelumnya. “Itu yang kutakutkan dari dirimu. Kau terlalu percaya pada manusia.”
Kaelen ndekat, natap tajam. “Dan kau terlalu cepat nyerah pada kegelapan.”
reka berdiam selama beberapa detik—dua sahabat lama, kini di sisi berseberangan dari sejarah.
Akhirnya Aren langkah mundur. “Aku tak akan nghalangi jalanmu malam ini. Tapi lain kali... aku tak akan ragu untuk nghentikanmu.”
Kaelen nahan napas, lalu ngangguk. “Maka lain kali... aku tak akan ragu mbunuhmu.”
Aren nghilang ke dalam bayang-bayang reruntuhan, dan Kaelen hanya berdiri diam, keringat dingin mbasahi pelipisnya.
Setelah pertempuran kecil reda, Kaelen kembali ke tenda komando. Lyra sudah nunggunya, wajahnya cemas.
“Ada kabar burung tentang Aren. Apa itu benar?”
Kaelen duduk, lelah. “Dia berdiri di depanku malam ini. Hidup. Tapi bukan Aren yang kukenal.”
Lyra nggigit bibirnya. “Kalau dia bisa berubah seperti itu, bagaimana denganmu, Kaelen? Siapa yang njagamu tetap jadi ‘Kaelen’?”
Kaelen terdiam cukup lama. “Itu pertanyaan yang sama yang dia tanyakan padaku. Tapi jawaban kita tak akan pernah sama.”
“Kenapa?”
“Karena aku masih punya seseorang yang ngingatkanku... siapa aku.”
Lyra natapnya dalam. “Sampai kapan?”
Kaelen nunduk. “Sampai aku tak bisa lagi ngenal wajahmu.”
Di luar tenda, Alden berdiri ndengarkan dari kejauhan. Ia natap langit malam, ngingat hari-hari ketika semua ini terasa jelas. Sekarang, bahkan bintang pun seolah njauh dari jangkauan reka.
“Jika ini jalan nuju kenangan,” gumamnya, “maka berapa banyak sahabat yang harus kita bunuh?”
Reviews
All reviews (0)