Suasana di kamp utama dingin dan kaku. Para prajurit sibuk mbersihkan senjata dan nyusun kembali logistik setelah operasi malam yang nyaris sempurna. Namun bukan kenangan yang reka perbincangkan.
“Kaelen mbiarkan reka pergi?” salah satu komandan berbisik, suaranya penuh keraguan.
“Ia nyelamatkan anak-anak. Tapi mbiarkan para penjaga hidup? Itu akan jadi preseden buruk,” timpal yang lain.
Di kejauhan, Kaelen berdiri di tenda utama, tangannya di belakang punggung, mata terpaku pada bendera pasukannya yang berkibar lesu. Langkah berat Alden masuki tenda.
“Kau tahu reka mulai ragukanmu,” kata Alden tanpa basa-basi.
Kaelen ngangguk. “Biar saja. Aku lebih suka kehilangan pasukan daripada kehilangan diriku sendiri.”
Alden ndekat, tatapannya tajam. “Tapi kau bisa kehilangan keduanya sekaligus. Kita sedang di tengah perang, bukan mimpi idealis.”
Kaelen noleh, perlahan. “Kalau aku mbakar anak-anak hanya karena reka ada di benteng musuh, apa bedanya aku dengan reka?”
Alden terdiam.
Di sisi lain perkemahan, Lyra duduk mandangi coretan-coretan kecil yang digambar Imra di atas tanah. Gambar-gambar itu aneh—garis patah, lingkaran yang tak selesai, dan wajah-wajah tanpa mata.
“Kenapa kau gambar seperti ini, sayang?” tanya Lyra.
Imra ndongak. “Karena reka semua hilang. Aku tidak ingat wajah reka.”
Hati Lyra seolah ditarik keluar dari dadanya. Ia luk Imra, nahan air mata.
Di belakangnya, suara lembut terdengar.
“Kaelen pun mulai nggambar seperti itu... dulu,” ujar Eryon yang entah sejak kapan berdiri di dekat reka.
Lyra noleh cepat. “Apa maksudmu?”
Eryon natap tanah. “Saat kekuatannya mulai tumbuh... dia mulai lupakan. Tak hanya nama atau wajah, tapi rasa. Saat aku masih... ndampingi pelatihan reka, aku nyadarinya lebih dulu dari Varrok.”
Lyra berdiri, tegang. “Lalu kenapa kau tidak nghentikannya?”
“Aku pikir itu harga kecil untuk kekuatan besar. Ternyata aku salah besar.”
Di ruang strategi, ketegangan ledak.
“Pasukan kita kehilangan kepercayaan,” seru salah satu perwira muda. “Kami tidak ngikuti pemimpin yang tak berani ngambil keputusan tegas.”
Kaelen berdiri tenang. “Kalian ingin keputusan tegas? Baik. Siapa yang rasa bisa nggantikan posisiku, berdirilah. Aku tidak akan nghentikan kalian.”
Sunyi.
“Satu langkah ke depan. Aku tidak akan marah. Bahkan akan mbantumu mimpin.”
Tak satu pun bergerak. Bahkan sang perwira muda nunduk perlahan.
Kaelen natap reka. “Keberanian bukan tentang nebas lebih cepat. Tapi tentang milih siapa yang layak diselamatkan.”
Malamnya, Lyra dan Kaelen berbincang di luar tenda. Api unggun kecil nyala di antara reka.
“Kau semakin dingin,” kata Lyra, pelan.
“Tidak. Aku hanya semakin sadar bahwa setiap keputusanku nelan sesuatu dariku.”
Lyra narik napas panjang. “Aku takut... saat semua ini selesai, yang tersisa darimu hanya bayangan kosong.”
Kaelen mandangi api. “Kalau begitu... ingatkan aku. Genggam tanganku, bahkan saat aku tak tahu siapa kau.”
Lyra raih tangannya, erat. “Janji itu hanya akan berarti jika kau berusaha ngingat.”
Pagi berikutnya, sebuah kabar tiba. Sebuah desa kecil di timur dibantai oleh sisa-sisa pasukan Ordo. Semua jejak nunjukkan pembalasan—reka tahu Kaelen nyelamatkan anak-anak.
“Ini reaksi reka. Ini permainan catur berdarah,” kata Alden di depan Kaelen.
Kaelen ngepalkan tangan. “Kita berangkat malam ini. Tapi tidak dengan serangan frontal. Aku ingin desa itu direbut tanpa api, tanpa pembantaian.”
“Kau minta keajaiban,” sahut Alden getir.
Kaelen natapnya. “Aku minta kita tidak njadi iblis yang sedang kita lawan.”
Lyra masuk ke tenda setelah semua pergi. Di atas ja, ia nemukan gulungan kecil—sebuah surat dari salah satu prajurit yang mundur.
“Kami ncintai komandan kami, tapi kami tak ingin njadi simbol belas kasihan di tengah lautan kekejaman. Kami ingin nang, bukan dihormati.”
Lyra remas surat itu. Tapi ia tahu: dunia Kaelen akan terus terbelah antara yang ingin damai, dan yang ingin nang. Dan keduanya tak bisa hidup berdampingan.
Reviews
All reviews (0)