Langit ndung nggantung berat di atas barak sentara pasukan Kaelen. Hujan belum turun, tapi tanah sudah lembab, seolah dunia pun ragu untuk njatuhkan tetes airnya. Kaelen berdiri di luar tenda, tatapannya jauh nembus kabut pagi.
Di belakangnya, suara langkah pelan terdengar. Lyra muncul, mbawa dua cangkir logam berisi ramuan hangat.
“Kau belum tidur,” katanya sambil nyodorkan satu cangkir.
Kaelen nerima, tapi tak langsung nyesap. “Apa aku terlihat seperti orang yang bisa tidur?”
“Kau terlihat seperti seseorang yang terlalu lama tidak jamkan mata. Itu beda.”
reka diam sejenak.
“Eryon... dia seperti sedang berubah,” gumam Kaelen.
Lyra ngangguk perlahan. “Atau mungkin... dia justru sudah nunjukkan wajah aslinya.”
Kaelen natap ramuan di tangannya. “Bagaimana jika kita semua... sudah berubah terlalu jauh sampai tak ada wajah asli yang tersisa?”
Di ruang strategi, Alden letakkan gulungan peta dengan gerakan cepat. Beberapa komandan muda duduk lingkar, nanti.
“Kubu Ordo Cahaya yang tersisa ada di utara Sungai Tareth,” katanya. “Tapi reka mulai narik warga sipil sebagai tang manusia.”
Salah satu komandan mukul ja. “reka tidak peduli lagi dengan kehormatan! Kita harus nyerang habis-habisan!”
Kaelen masuk, tenang tapi tajam. “Dan kau ingin kita nyeberangi sungai, mbakar desa, dan ninggalkan anak-anak mati di belakang?”
Komandan itu nunduk, terdiam.
Kaelen nunjuk peta. “Kita temukan jalur masuk rahasia. Serang malam hari. Hanya pasukan elit. Tanpa korban sipil.”
Alden nyahut, “Dan kalau reka nahan anak-anak di benteng utama?”
Kaelen natapnya dingin. “Maka kita pastikan reka tak sempat nyentuh satu pun.”
Malamnya, Lyra duduk di luar tenda, di samping api kecil. Imra tertidur di pangkuannya, setelah seharian nggambar dan berlarian dengan beberapa prajurit.
Kaelen duduk di seberangnya. Tatapannya lembut—jarang, tapi nyata.
“Dia ngingatkanku... pada seseorang. Tapi aku tak bisa manggil nama itu.” Kaelen nghela napas. “Rasanya seperti ada sesuatu yang tertinggal di balik pintu yang tak bisa kubuka.”
“Serina,” kata Lyra pelan. “Namanya Serina. Dia dulu... sahabatmu. Salah satu orang yang nyelamatkanmu, bahkan saat kau nolak diselamatkan.”
Kaelen natapnya, kaget. “Aku... tidak ingat.”
Lyra maksakan senyum. “Tidak apa-apa. Aku ingat. Untuk sekarang, itu cukup.”
Tengah malam, Eryon berdiri sendiri di luar reruntuhan kuil tua, tempat ia bertapa sejak nyelinap pergi dari Ordo. Kaelen datang diam-diam, tanpa pengawal.
“Sendirian?” tanya Kaelen.
Eryon ngangguk. “Kadang... jawaban terbaik datang ketika tak ada yang bertanya.”
Kaelen natap reruntuhan. “Aku tak tahu harus percaya atau mbunuhmu.”
Eryon tersenyum kecil. “Keduanya pilihan yang adil.”
Hening.
“Aku bertanya-tanya,” lanjut Eryon, “jika kita mbakar dunia untuk nyelamatkan kebenaran... apakah kita masih bisa ngenali wajah orang-orang yang kita lindungi?”
Kaelen ndekat. “Kau bicara seolah nyesal.”
“Aku tidak nyesal milih kekuatan,” jawab Eryon. “Tapi aku nyesal ngira bahwa itu akan mberiku damai.”
Keesokan harinya, pasukan elit mulai bergerak ke arah Sungai Tareth. Langkah-langkah reka cepat tapi senyap, nyatu dengan kabut pagi yang belum bubar.
Di antara reka, Lyra ikut serta—bukan sebagai pejuang, tapi sebagai mata dan suara hati Kaelen.
Di tepi sungai, Kaelen nghentikan langkah.
“Aku ingin semua orang tahu,” katanya keras, “tidak ada kemuliaan dalam mbunuh anak-anak. Tidak ada kejayaan dalam numbangkan lawan yang tak bisa lawan.”
Ia natap prajurit satu per satu. “Kita di sini untuk nghentikan kehancuran, bukan nularkannya.”
Misi malam itu berjalan dengan napas yang ditahan. Lewat terowongan bawah tanah yang nyaris runtuh, reka nyusup masuk ke benteng musuh.
Tapi saat ncapai aula utama—reka lihatnya.
Anak-anak. Terikat, dijaga oleh beberapa prajurit Ordo yang panik.
Salah satu pengawal hampir ncabut pedangnya—tapi Kaelen nahan. Ia langkah maju, sendirian.
“Kau bisa lawanku,” katanya pada penjaga itu. “Atau kau bisa pergi dan tak njadi monster terakhir yang reka lihat.”
Penjaga itu getar... lalu njatuhkan pedang.
Ketika misi selesai dan anak-anak sudah diamankan, Kaelen berdiri sendirian di dinding benteng.
Langit mulai cerah.
Langkah Lyra ndekat dari belakang. “Itu... luar biasa.”
Kaelen ngangguk, pelan. “Tapi kenapa aku tidak rasa lega?”
Lyra njawab, lirih. “Karena kenangan sejati... tak pernah ringan.”
Kaelen noleh padanya. “Aku takut suatu hari... aku tidak ngenalmu lagi.”
Lyra nggenggam tangannya. “Maka aku akan nulis namaku di jiwamu. Lagi dan lagi. Sampai tidak ada kegelapan yang bisa nghapusnya.”
Reviews
All reviews (0)