Font Size
15px

Angin berdesir mbawa serpihan abu dari kamp bekas pertempuran. Pohon-pohon di sekitar terbakar sebagian, nghitam, tetapi tetap berdiri seolah keras kepala nolak tumbang. Kaelen berdiri di puncak bukit kecil, mandangi sisa-sisa benteng kecil Ordo Cahaya yang baru saja dihancurkan oleh pasukannya dua hari lalu.

Tapi tak ada rasa bangga. Tak ada perayaan.

Hanya sunyi. Dan bekas tawa yang seharusnya ada, tapi tak ditemukan.

Lyra naik ke bukit itu, napasnya berat.

“Kita sudah ncari di sekeliling. Tidak ada yang selamat.”Ia nyodorkan sesuatu — sebuah boneka kecil dari kain lusuh, robek di bagian leher. “Ini ditemukan di bawah reruntuhan tenda pengungsi.”

Kaelen natap boneka itu lama. Matanya kosong. Tangannya tak bergerak.

“Apa kau ngenali itu?” tanya Lyra pelan.

Kaelen njawab pelan, nyaris seperti gumaman, “Aku... tidak tahu.”

Boneka itu tampak familier. Tapi tidak bernama. Tidak bercerita.

Itu bagian yang paling ngerikan dari semuanya. Bukan karena ia tidak tahu siapa pemilik boneka itu—tapi karena ia tidak rasa kehilangan.

Malam harinya, api unggun dinyalakan dengan pelan. Kaelen duduk nyendiri, natap kobaran yang nari-nari di matanya. Lyra ndekat, duduk tanpa banyak bicara.

Beberapa nit berlalu sebelum Kaelen bersuara.

“Aku rasa... aku mulai tidak percaya apa pun yang kuingat.”

Lyra noleh. “Kenapa?”

“Karena jika semua kenangan yang kutinggalkan adalah kematian dan perang, apakah itu artinya aku mang bukan orang yang layak dikenang?”

Lyra nggenggam tangannya. “Kenangan bisa rusak. Tapi siapa kau... bisa dibentuk kembali.”

“Lalu siapa aku sekarang?”

Lyra natap matanya lama. “Seseorang yang sedang berusaha. Itu sudah lebih dari cukup.”

Keesokan harinya, Alden mimpin patroli ke desa terdekat yang dikabarkan masih netral. Saat reka kembali, ia mbawa seorang gadis kecil—kotor, kurus, tapi matanya masih nyala dengan semangat.

“Namanya Imra,” kata Alden kepada Kaelen. “Orang tuanya hilang. Dia sendirian sejak desa reka terbakar seminggu lalu.”

Kaelen berjongkok di depan Imra. “Apa kau ingat siapa yang nyerang desamu?”

Imra ngangguk kecil. “Orang dengan jubah putih. reka bilang kami nyembunyikan buku-buku terlarang.”

Kaelen narik napas dalam. Ia tahu siapa yang dimaksud: Ordo Cahaya.

“Apakah kau mau tinggal di sini sentara?” tanya Kaelen pelan.

Imra natapnya. “Apakah di sini... ada orang jahat?”

Kaelen tak njawab segera. Ia nunduk, lalu berkata, “Mungkin. Tapi kami sedang ncoba jadi lebih baik.”

Malam itu, Imra duduk di dekat api unggun bersama Lyra dan beberapa prajurit muda. Ia nggambar di tanah, bentuk-bentuk aneh yang sepertinya representasi rumah dan matahari.

Kaelen mperhatikannya dari kejauhan. Wajah Imra ngingatkannya pada seseorang... tapi lagi-lagi, tidak bisa ia sentuh dengan pasti di pikirannya.

“Apakah kau lihat apa yang kau pikirkan?” suara Eryon terdengar dari belakang, tenang.

Kaelen langsung berdiri, bersiap siaga.

“Tenang,” kata Eryon sambil nunjukkan tangannya yang kosong. “Aku datang sendiri. Tak ada senjata. Hanya... ingin bicara.”

Kaelen natapnya curiga. “Apa yang kau mau?”

Eryon ndekat perlahan. “Aku datang bukan untuk nyerah. Tapi untuk ngajakmu lihat apa yang kau lewati.”

Kaelen ngepalkan tangan. “Aku tahu apa yang kulewati. Setiap langkahnya.”

“Benarkah?” tanya Eryon, matanya natap lurus. “Lalu katakan padaku... siapa nama adik laki-laki Serina?”

Kaelen terdiam.

Eryon lanjutkan, pelan tapi nusuk, “Dia pernah nggambarmu pakai pedang dan jubah api. Dulu kau tertawa lihatnya. Sekarang kau bahkan tak ingat dia pernah ada.”

Kaelen tak mbalas. Sorot matanya seperti pecah dari dalam.

“Semakin banyak kau gunakan kekuatanmu, semakin banyak yang akan hilang,” lanjut Eryon. “Dan jika kau kehilangan segalanya... siapa yang kau lawan selain dirimu sendiri?”

Lyra berdiri di dekat pohon, ndengar percakapan itu. Ia ingin maju, tapi tahu ini bukan waktunya.

Kaelen akhirnya bersuara, dengan suara yang serak dan tertahan, “Lalu apa yang harus kulakukan? Duduk? lihat semua orang mati sentara aku njaga serpihan ingatan?”

Eryon ndekat. “Tidak. Tapi mungkin... kau harus milih apa yang layak dipertahankan. Dan apa yang harus dilepaskan.”

Malam itu, Lyra nemui Kaelen.

“Apa yang dikatakan Eryon?” tanyanya pelan.

Kaelen njawab lirih, “Dia tidak nyerang. Tapi dia nantang.”

Lyra natapnya lama. “Dan kau... akan ladeni tantangannya?”

Kaelen tak langsung njawab.

“Aku tidak ingin njadi legenda yang dilupakan semua orang. Tapi lebih dari itu... aku tidak ingin njadi seseorang yang bahkan tidak tahu siapa yang ia lindungi.”

You are reading The Shattered Light Chapter 167: – Di Antara Reruntuhan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Villain's Story cover
Similar genre

The Villain's Story

Blazuku ·Fantasy

ThreeSoulslayinonebody,Onesoulbelongingtoamanwhohadreachedthepeak,thestrongestthereeverwas,theonewhohadthetalenttodoso.Yethesufferedbecauseofhistal...

Mage Manual cover
Similar genre

Mage Manual

Listening Day ·Fantasy

Ashopenedhiseyestofindthathehadtraveledtoastrangenationofmanyraces,andpeoplewerekneelingbeforehim.BeforehehadtimetoadapttothenewidentityoftheTermin...

Above The Sky cover
Similar genre

Above The Sky

Gloomy Sky Hidden God ·Fantasy

Thefirststarthatpassedawayextinguishedtwothousandyearsago. Fourhundredyearslater,themysteriousCalamityofHeavenlyFalldestroyedthecivilizationofthepr...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.