Hening ngisi lembah. Dua pasukan berdiri saling berhadapan, salju musim semi nyelimuti tanah yang basah darah di waktu lampau. Kabut tipis lingkari dan seperti tabir yang nggantungkan ketegangan.
Kaelen dan Eryon masih di tengah, saling natap. Dulu, pertemuan seperti ini dipenuhi makna. Kini, hanya kebisuan yang nggantungkan beban yang tak pernah selesai diucapkan.
“Apakah ini akhirnya?” Eryon bertanya, suaranya tenang namun dalam.
“Belum,” Kaelen njawab. “Aku belum rasa cukup kehilangan untuk nyerah.”
Eryon nyipitkan mata. “Kau bahkan tidak sadar lagi apa yang telah hilang darimu.”
Kaelen nghela napas. “Itu bukan urusanmu.”
“Tapi itu urusan dunia.”
Di sisi pasukan Kaelen, Alden dan Lyra mperhatikan percakapan dari kejauhan. Alden nggenggam gagang pedangnya lebih erat.
“Kalau ini berubah jadi duel, Kaelen bisa kalah,” gumamnya.
“Tidak,” kata Lyra. “Bukan karena kekuatan. Tapi karena dia... mungkin tidak ingin nang lagi.”
Alden noleh. “Maksudmu?”
Lyra natap Kaelen di kejauhan. “Maksudku, dia mungkin sedang ncari alasan untuk dihentikan.”
“Kau tahu kenapa aku tidak nyerangmu sekarang?” Kaelen bertanya kepada Eryon.
Eryon tersenyum datar. “Karena aku mintamu untuk berpikir dulu?”
“Karena aku tidak yakin apakah aku sedang lawanmu... atau bayangan diriku sendiri.” Kaelen mandang tajam. “Dulu aku ingin keadilan. Sekarang aku hanya ingin... habis. Semua ini. Selesai.”
Eryon nunduk sejenak. “Lucu. Kita berdua ingin hal yang sama, tapi tetap berada di sisi yang berlawanan.”
Langkah berat datang dari belakang. Seorang prajurit muda ndekat Kaelen dengan tergesa.
“Tuan, markas timur diserang.”
Kaelen ngalihkan pandangannya. “Berapa korban?”
“Delapan mati. Dua puluh luka. Satu anak...”
“Anak?” Kaelen terdiam.
Prajurit itu nunduk. “Anak Terran, Tuan. Yang suka nggambar di dinding. Ia... hilang.”
Wajah Kaelen ngeras. Tapi tidak karena amarah. Karena ketakutan.
Bukan karena musuh. Tapi karena ia mulai tidak ngingat seperti apa wajah Terran.
Di kamp, Terran berlutut di depan tenda kosong. Ia nggali tanah dengan tangan telanjang, nangis tanpa suara. Lyra datang, berlutut di sisinya, gang tangannya yang berdarah karena tanah dan batu.
“Apa yang terjadi?”
“reka bilang... mungkin tertinggal saat semua lari. Tapi aku tahu. Dia... dia selalu ngejar cahaya.” Terran nggigit bibirnya. “Dia selalu bilang ingin jadi seperti Kaelen.”
Lyra tak sanggup berkata-kata.
Malam hari, api unggun dibangun di sekitar kamp. Tapi kehangatan tak benar-benar nyentuh siapa pun. Kaelen duduk di depan api, tangannya getar saat ncoba nggenggam cangkir teh. Tapi bukan karena cuaca.
Ia tak ingat nama anak itu.
Ia tak ingat... gambar yang pernah ditunjukkan Terran padanya.
Satu-satu, dunia yang ia kenal njadi kabur. Dan yang paling nakutkan, ia mulai terbiasa dengan kehilangan itu.
Lyra ndekat. Duduk tanpa suara.
“Kau tahu,” katanya pelan, “dulu aku takut kalau kau akan mati dalam perang ini.”
Kaelen tak noleh.
“Tapi sekarang... aku takut kau akan hidup. Tanpa ngenali siapa pun. Tanpa ngenali dirimu sendiri.”
Kaelen njawab dengan suara serak, “Aku tidak tahu mana yang lebih buruk.”
Diam panjang.
“Aku tidak akan ninggalkanmu, Kaelen. ski suatu hari kau tidak lagi tahu namaku.”
Kaelen noleh. Untuk sepersekian detik, ada kilatan kehangatan. Tapi cepat nghilang.
Esoknya, pasukan Kaelen mundur. Bukan karena kalah. Tapi karena Kaelen mutuskan demikian.
“Perang ini bukan soal kenangan,” ujarnya pada Alden. “Tapi soal apa yang tersisa setelahnya.”
Alden natapnya lama. Lalu angguk pelan. “Kita semua hanya ingin sesuatu yang bisa diselamatkan.”
Sentara itu, Eryon kembali ke bentengnya. Di dalam sel, Grandmaster Elvior masih duduk diam.
“Kau tak mbunuhnya?” tanya Elvior.
“Tidak,” jawab Eryon. “Aku mberinya waktu.”
Elvior ngangguk. “Lalu, apa yang akan kau lakukan?”
Eryon natap ke luar jendela. “ndoakan agar dia milih jalan yang berbeda dariku.”
Reviews
All reviews (0)