Font Size
15px

Fajar keempat. Gencatan senjata berakhir. Langit masih abu-abu, namun suara langkah kaki dan derit senjata kembali terdengar seperti rit perang yang tak pernah benar-benar berhenti.

Kaelen berdiri di depan pasukannya. Pandangannya kosong. Di tangannya, surat dari Lyra yang belum ia buka, terasa berat ski hanya selembar kertas.

“Siap untuk maju, Panglima?” tanya Alden, bersenjata lengkap, wajahnya keras.

Kaelen tak langsung njawab. Lalu pelan, ngangguk. “Kita akan mulai dengan sayap timur. Cukup untuk ngganggu, bukan nghabisi.”

Alden natapnya sejenak. “Itu bukan strategi yang biasa kau pilih.”

Kaelen ngalihkan pandangannya. “Aku bukan orang yang sama, Alden.”

Di sisi lain, Eryon berdiri di balik jendela reruntuhan benteng. Di hadapannya, Grandmaster Elvior duduk dalam borgol ringan, dijaga dua prajurit muda. Tapi wajah Elvior tenang, seolah tak ada yang berubah dalam tiga hari terakhir.

“Kau pikir dia akan nyerangmu secara langsung?” tanya Elvior, natap Eryon.

Eryon tidak njawab.

Elvior lanjutkan, “Kau pernah bilang padaku, tujuanmu bukan kenangan. Tapi kalau kau terus bertahan di tempat ini, kau hanya nunggu kehancuran.”

Eryon noleh. “Mungkin mang kehancuran yang dibutuhkan. Dunia ini... sudah terlalu lama nunggu pahlawan. Mungkin yang reka butuh hanya akhir.”

“Elvior,” lanjutnya sambil nunduk, “kau tahu siapa sebenarnya Kaelen?”

Elvior tertawa kecil. “Kaelen adalah gambaran kita semua, Eryon. Kuat, haus keadilan, dan terlalu bodoh untuk tahu kapan harus berhenti.”

Sore hari. Serangan dimulai. Bukan frontal. Gerilya. Pembakaran gudang suplai. Serangan anak panah dari celah pepohonan. Strategi pengepungan lambat.

Lyra berdiri di nara pengawas, nyaksikan api kecil nyala di kejauhan.

Alden muncul di belakangnya.

“Kau tidak turun?” tanyanya.

Lyra nggeleng. “Jika aku lihat darah lagi hari ini, mungkin aku tak akan bisa nahan diri.”

Alden nyandarkan tombaknya, lalu duduk di tembok batu.

“Kau tahu,” katanya pelan, “dulu waktu Serina masih hidup, dia sering bilang: Kaelen tidak akan mati karena musuh, tapi karena dirinya sendiri.”

Lyra ngatupkan bibir. Air matanya hampir jatuh.

“Kau masih ingat wajah Serina?” tanya Alden tiba-tiba.

Lyra noleh cepat. “Tentu saja.”

“Kaelen sudah tidak.”

Diam. Lalu Alden berdiri.

“Jaga dia,” ujarnya sebelum pergi. “Karena kalau dia hilang... kita semua ikut hilang.”

Di markas, Kaelen mbuka peta besar di ja. Tapi matanya tidak fokus. Surat Lyra masih tergenggam.

Terran tiba-tiba masuk, mbawa sekeranjang makanan sederhana.

“Aku suruh penjaga kasih ini. Tapi dia bilang kau lebih suka diam. Jadi aku datang sendiri.”

Kaelen ngangguk. “Terima kasih.”

Terran duduk, luk lututnya. “Aku lihat pasukanmu nyalain api di gudang logistik Ordo Cahaya. reka... marah, ya?”

“Bukan marah. reka terluka.”

Terran natapnya. “Kau juga, ya?”

Kaelen natap api lilin. “Aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan sekarang.”

“Kau harus makan,” kata Terran akhirnya, nyodorkan roti keras dan potongan daging asap. “Kemarahan tidak bisa jadi bahan bakar selamanya.”

Malam tiba.

Kaelen duduk sendirian di luar tenda, akhirnya mbuka surat Lyra.

"Jika suatu hari kau tak lagi ngenali wajahku, atau namaku, atau kenangan kita... biarlah surat ini jadi yang terakhir nghubungkan kita.

Aku ncintaimu bukan karena kekuatanmu. Tapi karena di balik semua amarah dan penderitaan, kau masih manusia.

Jangan biarkan dirimu jadi bayangan dari musuhmu.

Jika kau lupa aku, aku bisa hidup. Tapi kalau kau lupa siapa kau sebenarnya, maka tak ada yang bisa nyelamatkanmu lagi."

Kaelen jamkan mata. Tangannya bergetar.

Pagi berikutnya, di tengah kabut yang nyelimuti lembah, pasukan Kaelen dan Eryon akhirnya kembali berhadap-hadapan. Tapi ada jeda. Semua nunggu aba-aba.

Eryon nunggang kudanya ke tengah.

“Kaelen!” teriaknya.

Kaelen ndekat.

“Lihat kita sekarang. Dua tentara tua yang kehabisan alasan.”

Kaelen natapnya, datar. “Kalau ini pertarungan terakhirku, aku ingin tahu... kenapa kau bertahan sejauh ini?”

Eryon tersenyum pahit. “Karena aku ingin nebus sesuatu yang tak bisa ditebus. Sama sepertimu.”

You are reading The Shattered Light Chapter 165: – Retakan yang Membesar on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.