Tiga hari. Itu waktu yang disepakati. Tapi bagi Kaelen, setiap nit terasa seperti hukuman yang lambat.
Di sepanjang lembah, para prajurit dari kedua kubu sibuk ngubur mayat. reka tak bicara banyak, hanya bertukar pandang seperlunya. Rasa benci tetap ada, tapi kelelahan dan duka nangkannya untuk sentara.
Kaelen berdiri di sisi parit besar yang baru digali. Serina pernah gugur tidak jauh dari tempat ini. Tapi bahkan wajahnya kini mulai kabur di benak Kaelen.
“Apa aku penjahat?” gumamnya.
Terran, bocah itu, berdiri di sebelahnya. luk seikat bunga liar yang hendak ditaruh di makam ayahnya.
“Kau bukan pahlawan,” jawab Terran tanpa noleh. “Tapi ayah bilang, yang mbedakan pahlawan dan penjahat bukan siapa yang mbunuh lebih banyak. Tapi siapa yang berani berhenti.”
Kaelen terdiam.
“Ayahmu bijak.”
“Dia penakut,” ujar Terran polos. “Tapi dia tahu kapan harus lari. Kadang itu lebih sulit daripada bertarung.”
Di tempat lain, Lyra tengah ngganti perban seorang prajurit luka berat. Tangannya cekatan, wajahnya kaku, tapi matanya sembap. Ia belum tidur sejak kemarin.
Kaelen ndekat pelan.
“Kau marah padaku?” tanyanya, duduk di sampingnya.
Lyra tidak langsung njawab.
“Tidak marah,” ujarnya akhirnya. “Tapi aku lelah.”
“Karena aku?”
“Karena kita semua terlalu sibuk njadi alat. njadi senjata. Sampai lupa jadi manusia.”
Kaelen nggigit bibirnya. “Aku ingin berhenti. Tapi entah kenapa... aku takut kalau berhenti, semuanya akan runtuh.”
Lyra nghela napas panjang. “Kalau kau terus jalan tanpa arah, itu pun sama saja dengan runtuh.”
Malam hari, tenda komando Kaelen sepi. Ia duduk natap api lilin yang hampir padam. Sebuah buku lusuh tergeletak di pangkuannya: catatan milik Varrok yang ditemukan pasca kematiannya.
Di balik halaman pertama, ada coretan tangan:
"Jika kau mbaca ini, berarti aku sudah gagal njaga langkahmu."
Kaelen nyusuri halaman-halaman yang berisi nasihat, taktik perang, dan... pengakuan pribadi Varrok.
"Kaelen akan sampai pada titik di mana ia tak tahu lagi siapa dirinya. Saat itu, jangan beri dia jawaban. Beri dia cermin."
Kaelen nutup buku itu. Tangannya getar.
Terdengar langkah kaki. Lyra masuk tanpa bicara.
Ia letakkan secarik kertas di ja. “Aku nulis sesuatu untukmu. Kau boleh baca nanti.”
“Apa isinya?”
“Kalau kubilang, kau tidak akan mau mbacanya.”
Ia berbalik, hendak pergi, tapi Kaelen manggilnya pelan.
“Kalau nanti aku lupa kau... tolong jangan simpan rasa sakitmu sendiri. Temukan orang lain. Temukan kehidupan baru.”
Lyra terdiam sejenak. “Kalau kau tak bisa ngingatku, aku akan mbuatmu jatuh cinta lagi dari awal.”
Dan ia pergi, nyisakan aroma lavender di udara.
Hari kedua. Eryon ndekat ke markas Kaelen lagi, kali ini mbawa sesuatu yang tak disangka—seorang lelaki tua dengan rambut keperakan dan mata yang dulu hanya Kaelen lihat dalam mimpi buruk masa kecilnya.
“Grandmaster Elvior,” gumam Kaelen.
Elvior, ayah kandung Lyra. Musuh tua yang selama ini hanya ada di balik bayang.
“Dia nyerahkan diri,” kata Eryon singkat. “Tapi minta bicara padamu.”
Kaelen nyuruh penjaga mundur.
Elvior natapnya tanpa gentar. “Kau pikir aku musuh utamamu?”
“Bukankah kau?”
“Tidak. Aku hanya cermin bagi ambisi terdalam manusia. Ordo Cahaya... hanyalah akibat dari ketakutan kolektif dunia akan kehilangan arah.”
Kaelen ngerutkan dahi. “Berhenti bicara teka-teki.”
Elvior ndekat. “Kau sedang nuju arah yang sama, anak muda. Kau pikir kau masih berbeda dariku? Kau kira karena wajahmu lebih muda dan niatmu mulia, maka dampaknya akan lebih ringan?”
Kaelen ngepalkan tinju.
“Ketika dunia mulai takut padamu, saat reka mbisikkan doa karena cemas akan kemarahanmu, maka kau bukan penyelamat lagi. Kau dewa yang dipaksa disembah.”
Diam. Hening.
Kaelen akhirnya berkata, “Apa maumu?”
Elvior tersenyum miring. “Bunuh aku. Buktikan kau bukan seperti aku.”
Malam ketiga, gencatan senjata hampir berakhir.
Lyra duduk sendiri di luar tenda, natap langit yang kosong. Kaelen ndatanginya.
“Aku tak mbunuhnya,” katanya.
“Karena kau tahu dia benar?”
“Karena aku ingin mbuktikan dia salah.”
Ia duduk di sampingnya. “Besok... semuanya mulai lagi.”
“Ya.”
“Kau takut?”
Kaelen berpikir sejenak. “Ya. Tapi bukan karena perang. Aku takut... kalau setelah semuanya selesai, aku berdiri sendirian, tidak tahu siapa namaku, tidak tahu siapa yang kucintai.”
Lyra noleh. Matanya rah.
“Kalau sampai hari itu tiba, aku akan mbacakan surat ini.”
Ia ngeluarkan secarik kertas dari saku dan nyerahkannya ke Kaelen.
“Jangan dibuka sekarang.”
Kaelen nggenggamnya. Tak berkata apa-apa lagi.
Reviews
All reviews (0)