Font Size
15px

Langit rah. Fajar belum sepenuhnya muncul, tapi cahaya pertempuran telah lebih dulu nyala.

Benteng terakhir Ordo Cahaya njulang di kejauhan—sebuah istana batu berlapis simbol keabadian yang kini mulai runtuh dimakan waktu dan perang. Di hadapannya, pasukan Kaelen berdiri tegak, nunggu aba-aba.

Tapi di sebuah celah sempit antara reruntuhan dan lembah dalam, dua sosok berdiri saling berhadapan. Tidak ada pasukan. Tidak ada saksi. Hanya dua kutub kekuatan yang pernah saling nyelamatkan, kini saling mbinasakan.

Kaelen natap Eryon. Jubah pria itu robek, namun tubuhnya masih berdiri tegak. Cahaya redup dan bayangan pekat berputar-putar di sekelilingnya, seperti dua kekuatan bertolak belakang yang berebut kendali.

“Aku sudah tahu ini akan berakhir begini,” kata Eryon. Suaranya tenang, tapi matanya nyimpan badai. “Kau datang, seperti yang kuduga. Sendirian. Demi kehormatan atau... demi pengampunan?”

“Bukan keduanya,” jawab Kaelen. “Aku datang untuk ngakhiri ini sebelum lebih banyak yang mati karena kesalahan kita.”

Eryon tertawa pendek. “Lucu. Karena aku pikir kesalahanmu adalah berpikir bahwa kau masih bisa nyelamatkan siapa pun.”

Kaelen ncabut pedangnya. “Mungkin aku tidak bisa nyelamatkan dunia. Tapi aku bisa nyelamatkan diriku... dari njadi seperti kau.”

Serangan pertama datang tiba-tiba. Kilatan cahaya ledak di udara, nciptakan gelombang kejut yang ngguncang bumi di bawah kaki reka.

Kaelen nghindar, lalu mbalas dengan tebasan horizontal. Eryon nyambutnya dengan perisai bayangan, lalu lompat ke belakang, nyerang balik dengan energi gelap yang berdenyut.

“Dulu aku percaya pada Ordo,” kata Eryon saat reka bertarung. “Aku percaya pada keseimbangan. Tapi saat dunia hanya milih satu sisi, kau harus njadi sisi lain. Bahkan jika itu berarti njadi iblis.”

Kaelen nangkis, lalu ngirimkan hantaman energi murni ke arah Eryon. “Dan kau milih njadi iblis sepenuhnya, kan?”

Eryon nangkis. “Karena hanya iblis yang didengar dunia ini.”

Pertarungan berlangsung sengit. Setiap tebasan Kaelen penuh amarah yang tertahan, sentara setiap serangan Eryon seperti diarahkan untuk nguji batas emosinya. Pedang, bayangan, cahaya—semua nari dalam koreografi kematian yang mikat.

Namun di sela denting senjata, ada suara lain. Suara Lyra.

Ia datang dari sisi tebing, berlari dengan napas tertahan. “Kaelen! Jangan biarkan dia...!”

Tapi suara itu terlambat. Eryon nghantam Kaelen dengan ledakan bayangan yang nghancurkan tanah di bawahnya. Kaelen terlempar, jatuh nghantam batu.

“Lyra!” Kaelen berteriak saat lihatnya ndekat.

Eryon bergerak cepat. Dengan satu gerakan tangan, ia nahan Lyra di tempat, mbekukannya dalam pusaran energi tak terlihat.

“Aku tahu dia akan datang,” ujar Eryon sambil ndekat ke Lyra. “Karena itulah aku nunggu. Bukan untuk mbunuhmu, Kaelen. Tapi untuk ngambil yang paling kau jaga... agar kau tahu rasanya njadi sepertiku.”

Kaelen berdiri perlahan, tubuhnya berdarah. “Kau nyentuh dia, dan aku...”

“Kau apa?” Eryon nyeringai. “Kau akan ledak lagi? Lupa lagi siapa dia? Sungguh ironi, bukan? Semakin kau ncintai seseorang, semakin besar kemungkinan kau akan kehilangannya dari dalam kepalamu.”

Kaelen getar. Emosi dan kekuatan dalam dirinya mulai ndidih.

Lyra natap Kaelen dari pusaran yang ngurungnya. Ia hanya ngucap dua kata: “Ingat aku.”

Dan dunia berhenti.

Kaelen nutup mata. Ia narik napas dalam-dalam. Dan kali ini, untuk pertama kalinya sejak lama, ia nolak kekuatan yang ncoba ngambil alih.

Ia tidak ingin kekuatan yang maksanya lupakan.

Ia ingin bertarung sebagai manusia.

Ia mbuka mata. Penuh cahaya. Tapi bukan cahaya dewa. Bukan kekuatan dari Relik. Tapi cahaya dari hati seorang manusia yang nolak dikendalikan.

“Aku tidak akan lupakan dia. Tidak lagi.”

Dengan satu teriakan, Kaelen berlari—bukan dengan kekuatan gelap atau terang, tapi dengan keberanian.

Serangannya nembus pusaran bayangan. nebas pusaran di sekitar Lyra, matahkan cengkeraman Eryon. Ia lalu nangkis serangan balik lawannya dengan ketenangan yang baru.

Eryon mundur, terkejut. “Apa yang kau lakukan?!”

Kaelen tersenyum, luka di wajahnya seperti tak terasa lagi. “Aku milih untuk ngingat. Bahkan jika itu nyakitkan. Bahkan jika aku harus bertarung sebagai manusia biasa.”

Eryon raung, lalu nghantam Kaelen dengan kekuatan puncaknya. Tapi Kaelen kini bukan sekadar Kaelen yang dulu.

Ia nghindar dengan presisi. nyerang balik. Dan akhirnya, satu tebasan pedangnya nusuk dada Eryon—bukan mbunuh, tapi nghentikan aliran kekuatan yang mbuncah di dalam tubuh pria itu.

Eryon terjatuh, tubuhnya perlahan mudar, cahaya dan bayangan nguap bersamaan.

Kaelen ndekat, natapnya. “Kenapa kau tak ngakhirinya sejak dulu?”

Eryon ngangkat kepala dengan sisa tenaganya. “Karena... aku ingin tahu apakah kau akan njadi aku... atau tetap njadi dirimu.”

Kaelen natap kosong.

Eryon tersenyum lemah. “Dan ternyata... kau lebih kuat dari yang kukira.”

Tubuh Eryon lenyap dalam dentingan angin.

Langit cerah. Pasukan Kaelen berhasil rebut benteng. Perang besar itu, untuk saat ini, berakhir.

Lyra duduk di sisi Kaelen yang diam natap reruntuhan.

“Apa kau ingat namaku?” tanyanya pelan.

Kaelen mandangnya. “Lyra.”

Ia tersenyum.

“Dan pita ini,” Kaelen ngeluarkan pita dari balik bajunya, “selalu nyelamatkanku.”

Lyra nggenggam tangannya erat.

“Selamat datang kembali,” bisiknya.

You are reading The Shattered Light Chapter 200: – Pertarungan Terakhir: Cahaya dan Bayangan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.