Kabut tipis masih nggantung di atas dataran Tevran ketika kelima penunggang kuda muncul di ujung bukit. Di kejauhan, bentangan tanah lapang terbentang seperti halaman kosong—tempat segala kemungkinan bisa ditulis, termasuk kematian.
Naerys narik napas dalam. “Kau yakin ini tempatnya?”
“Aeris kirim tanda pertemuan ke titik ini,” jawab Lyra, nahan riak kecemasan di nadanya. “Dia yang milih. Kita hanya nanggapi.”
“Atau masuk ke perangkap,” gumam Alden, natap ke sekitar, mata elangnya nyisir celah bukit dan bayangan bebatuan.
“Kalau itu perangkap,” potong Razan, “reka terlalu tenang. Tak ada penjaga, tak ada panji, tak ada suara logam.”
Tova, satu-satunya yang masih muda dalam rombongan, nggenggam gagang tombaknya erat. “Tapi ada sesuatu yang aneh. Lihat ke sana...”
Ia nunjuk ke arah selatan. Di sana, tampak sekumpulan tenda berwarna kelam, tidak jauh dari sebuah altar batu tua. Namun yang mbuat reka semua berhenti adalah panji yang berkibar di tengah-tengahnya—panji biru tua dengan simbol mata terbuka.
“Itu bukan panji Aeris,” desis Lyra. “Itu... milik Maelorin.”
Naerys nyipitkan mata. “Jadi dia ndahului kita.”
“Atau nguasai dan ini tanpa perlu perang,” ucap Razan dingin.
Sebelum reka sempat rumuskan rencana, seekor elang hitam ndarat di batu besar di dekat reka. Di kakinya, tergulung secarik kain hitam. Naerys ngambilnya, mbuka gulungan dengan hati-hati.
Ia mbaca keras-keras:
“Kepada reka yang masih ngira dunia bisa ditebus: datanglah, jika kalian ingin ndengar akhir yang telah kutulis.”
Alden ndengus. “Sombong sekali.”
“Itu tantangan sekaligus sindiran,” kata Lyra pelan. “Dia ingin kita datang sebagai tamu. Bukan musuh.”
“Dan jika kita nolak?” tanya Tova.
“Maka kita tak pernah tahu apa yang ia sembunyikan. Dan ketidaktahuan adalah awal dari kekalahan.”
reka langkah ke kamp tenda tanpa senjata terhunus. Tapi setiap langkah terasa seperti masuki pusaran yang nghisap nurani. Bau dupa samar, nyanyian lirih dalam bahasa kuno, dan suara langkah yang terlalu lembut untuk didengar tapi tetap terasa.
Di tengah perkemahan, seorang pria berdiri. Rambut peraknya tergerai, mata hitamnya dalam dan nenangkan... namun ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan—seolah ia nyerap cahaya di sekitarnya.
“Selamat datang, Lyra,” katanya, suaranya tenang seperti air genangan. “Dan teman-teman lamaku. Razan. Alden. Bahkan putri petir, Naerys.”
Naerys ngepalkan tinjunya, tetapi tak berkata.
“Maelorin,” sapa Lyra datar. “Kau tampaknya terlalu nyaman untuk seseorang yang seharusnya jadi buronan.”
“Dunia ini tak ncari kebenaran,” balasnya. “reka hanya ncari siapa yang paling keras bicara. Dan saat ini, akulah suaranya.”
Alden natap tajam. “Apa tujuanmu sebenarnya?”
“nghentikan omong kosong ini,” ujar Maelorin tenang. “Perang, perebutan relik, harapan palsu... Semua itu hanya nyiksa manusia lebih lama. Aku ingin ngakhiri semuanya.”
Tova langkah maju. “Dengan mbantai reka yang berbeda pendapat?”
“Dengan mbebaskan reka dari beban pilihan,” jawab Maelorin. “Kebebasan adalah kutukan paling licik. Dan kalian semua... adalah pengusung kutukan itu.”
“Kau tidak ngerti,” kata Lyra, suaranya ninggi. “Kami tidak berjuang untuk kekuasaan. Kami berjuang karena kami percaya manusia pantas punya masa depan.”
Maelorin natapnya. “Dan sudah berapa yang mati demi ‘masa depan’ itu?”
“Lebih banyak akan mati jika kita mbiarkanmu mbentuk dunia ini seperti papan caturmu sendiri!”
Maelorin ndekat, mata reka hampir bertemu. “Dan jika aku mberimu satu pilihan: tunduk, dan semua penderitaan berakhir. Tidak ada perang, tidak ada rasa sakit. Hanya keteraturan.”
“Maka aku akan nolak,” desis Lyra. “Karena keteraturan tanpa kehendak... adalah perbudakan.”
Maelorin tertawa pelan. “Aku harap kau tetap berkata begitu... setelah lihat siapa yang ndukungku sekarang.”
Ia nepuk tangan, dan dari balik tenda, muncullah seseorang.
Langkahnya anggun. Mata gelapnya natap Lyra dengan campuran amarah dan luka lama.
“T-Talia?” Naerys terengah. “Tidak... kau mati. Aku lihat tubuhmu sendiri.”
“Kau lihat ilusi,” jawab Talia, suaranya serak. “Aku hidup. Dan aku sudah lama lihat kebenaran yang kalian tolak.”
Lyra mbeku.
Talia... mantan pengawal, sahabat, saudari pilihan—telah berdiri di sisi lawan.
“Kau milih dia?” bisik Lyra, nyaris tak terdengar.
“Aku milih dunia yang tak lagi nuntut pengorbanan dari yang selalu kalah.”
Suasana njadi berat. Tidak ada pedang yang terhunus, tapi setiap kata terasa seperti sayatan.
Maelorin berkata terakhir, “Kalian punya tiga hari. Setelah itu, tawaran akan ditarik. Dan masa depan akan kulukis dengan darah... atau kebisuan.”
reka ninggalkan perkemahan dengan langkah berat. Dunia yang reka perjuangkan tidak hanya berjarak secara fisik—tapi juga moral.
Reviews
All reviews (0)