Kabut pagi belum ngangkat sepenuhnya ketika Lyra masuki tenda pertemuan. Di dalamnya, Naerys sudah duduk di sudut, satu kaki naik ke bangku kecil sambil ngasah belatinya. Alden berdiri di dekat peta besar yang digelar di atas ja, ngamati titik-titik rah dan biru dengan dahi ngernyit.
“Kita harus bicara soal siapa yang ikut,” kata Lyra, mbuka percakapan tanpa basa-basi.
Alden noleh. “Kita atau kau?”
Lyra mandangnya tajam, tetapi tidak njawab. Ia langkah ke ja, nunjuk dataran Tevran.
“Aeris nantang kita di sini. Dalam dua minggu, dia akan mulai pergerakan pasukannya. Jika kita biarkan dia maju tanpa perlawanan...”
Naerys nyela. “...dunia akan ngira dia adalah suara yang benar. Dan kita akan kehilangan kendali atas apa pun yang tersisa dari harapan.”
“Tapi jika kita hadapi dia secara terbuka,” lanjut Alden, “kita perkuat narasi bahwa ini perang saudara. Rakyat akan terpecah. Separuh akan ncium darah dan berteriak kenangan. Separuh lagi akan tenggelam dalam ketakutan.”
Hening.
“Itulah kenapa,” kata Lyra, “aku tidak mbawa pasukan.”
Alden lototinya. “Apa maksudmu?”
“Aku hanya akan bawa lima orang,” jawab Lyra. “Kita temui Aeris bukan sebagai jenderal dan jenderal, tapi sebagai dua sisa dari dunia lama yang ncoba nyelamatkan dunia baru.”
Naerys bersandar, natap Lyra. “Dan jika dia tidak mau bicara?”
“Maka lima orang cukup untuk mati tanpa nyeret ribuan.”
Sore itu, Lyra ngumpulkan beberapa orang terdekatnya di api unggun utama. Raut wajah reka nunjukkan kecemasan dan rasa ingin tahu.
“Aku akan ke Tevran. Dan aku butuh empat orang.”
Semua saling pandang.
“Aku ikut,” kata Naerys cepat. “Bahkan jika kita masuk ke sarang naga.”
“Aku juga,” Alden nyusul. “Seseorang harus mastikan kau tidak bunuh dirimu sendiri dengan pilihan bodoh.”
Lyra tersenyum tipis. “Terima kasih atas kepercayaanmu.”
“Kalau begitu kau tinggal butuh dua lagi,” ujar suara berat dari belakang reka.
reka noleh bersamaan.
Di sana berdiri sosok yang tak disangka siapa pun.
Kain gelap. Tudung kepala. Luka lama di pipi kiri.
“Razan?” bisik Naerys. “Kau seharusnya mati di Benteng Ardelon.”
“Seharusnya,” jawab Razan datar. “Tapi takdir mbawaku ke jalan yang lebih panjang. Dan mungkin lebih nyakitkan.”
“Kau pengkhianat,” geram Alden. “Kau berbalik ndukung Ordo saat kami—”
“Aku nyelamatkan keluarga,” potong Razan tenang. “Jika kau ada di posisiku, kau juga akan lakukan hal yang sama.”
Lyra natap Razan lama, sebelum akhirnya berkata, “Kenapa sekarang?”
“Karena yang akan kau hadapi bukan hanya Aeris. Di belakangnya... ada seseorang yang lebih gelap. Dan aku tahu namanya.”
Semuanya mbeku.
“Siapa?” tanya Naerys cepat.
Razan natap Lyra langsung. “Aku akan bilang... jika aku diizinkan ikut.”
Di dalam tenda, hanya Lyra dan Razan yang tinggal. Di luar, api unggun nyala tenang. Tapi di dalam, ketegangan terasa pekat.
“Namanya Maelorin,” kata Razan. “Mantan petinggi Ordo. Dulu dia mimpin eksperin tentang relik dan darah murni. Setelah Ordo hancur, dia lenyap. Tapi aku tahu dia tidak mati. Dia... berubah.”
“Dan sekarang dia bersama Aeris?”
“Tidak bersama. Tapi manipulasi. Aeris pikir dia punya kendali. Padahal, dia pion. Sama seperti dulu aku, kau, bahkan dunia ini.”
Lyra natap tangannya sendiri. “Aku lelah jadi pion.”
“Maka buat langkahmu, Ratu Cahaya,” kata Razan. “Dan biarkan aku mperbaiki sebagian dosaku.”
Malam itu sunyi, seolah alam pun nahan napas. Di perapian terakhir, Naerys duduk di samping Lyra.
“Kau tahu ini bisa jadi akhir, kan?”
“Sudah lama aku tahu itu,” jawab Lyra.
“Kalau kau mati... siapa yang akan teruskan perjuangan?”
Lyra noleh. “Kau. Bukan sebagai bayanganku, tapi sebagai dirimu sendiri.”
“Aku... tidak yakin aku punya kekuatan seperti kau.”
“Kekuatan itu bukan soal sihir atau senjata, Naerys. Tapi pilihan. Dan keberanian untuk tetap milih yang benar, ski semua di sekelilingmu milih jalan yang lebih mudah.”
Naerys ngangguk pelan. Tapi di matanya, ada ketakutan yang tak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Fajar nyingsing ketika kelima orang itu nunggang kuda nuju timur. Langit keemasan di belakang reka. Tanah beku dan datar di hadapan reka.
Lyra.
Naerys.
Alden.
Razan.
Dan Tova, prajurit muda yang mohon untuk ikut, mbawa ingatan saudaranya yang mati di tangan Ordo.
reka nunggang dalam diam. Tapi hati reka bergemuruh. Karena apa pun yang nanti di Tevran... bukan hanya pertempuran. Tapi penentuan.
Penebusan.
Atau pengkhianatan terakhir.
Reviews
All reviews (0)