Font Size
15px

Salju mulai turun ketika rombongan kecil itu nembus hutan pinus utara. Udara tipis, nggigit hingga tulang. Tidak ada suara burung, hanya desir angin yang nyelinap lalui celah pepohonan, mbawa bisikan yang terdengar seperti nama.

“Kau yakin reka di sini?” tanya Alden, nyeka embun beku dari pelindung bahunya.

Lyra njawab tanpa noleh, “Kalau reka ingin ditemukan, kita sudah mati sekarang.”

Naerys, berjalan di belakang, lemparkan pandangannya ke segala arah. “Atau reka sedang nonton, nilai. Seperti kita sedang bermain catur, dan kita belum sadar siapa lawannya.”

Langkah reka terhenti di tepi jurang. Di seberang, reruntuhan benteng tua njulang, sebagian tertutup salju. Di atasnya, berkibar panji rah keemasan—lambang Anak Matahari.

“Kita temui pemimpin reka,” kata Lyra. “Tanpa senjata terbuka. Jika ini jebakan, kita pulang sebagai arwah.”

Alden bersiul pendek. “Optimis sekali kau.”

reka dikawal masuk ke aula utama—sederhana, berdinding kayu lapuk, namun dijaga dengan rapi. Beberapa wajah muda natap reka dari kejauhan, sebagian dengan rasa ingin tahu, sebagian dengan keraguan.

Lalu, dari balik tirai kulit rusa, seseorang langkah keluar.

Lyra mbeku.

“...Aeris?”

Pemimpin Anak Matahari berdiri tegap, rambutnya lebih panjang, kulitnya terbakar matahari, tapi tak mungkin salah. Adik kandung Lyra. Yang diyakini mati saat benteng Ordo nghancurkan kamp reka belasan tahun lalu.

Aeris natap kakaknya lama. “Kau lambat datang, Lyra.”

“Aku... aku nguburmu. Aku sendiri yang—”

“Yang ngubur sisa-sisa tubuh lain dan ngira itu aku.”

Naerys dan Alden saling berpandangan. Suasana di ruangan njadi tegang, seolah udara nahan napas.

“Kau mbentuk pasukan atas namaku?” tanya Lyra.

“Tidak. Aku mbentuknya atas nama apa yang kau wakili. Aku hidup, Lyra. Aku lihat dunia mbusuk, lihat harapan diremukkan. Dan saat namamu ngguncang Ordo... aku tahu inilah waktunya.”

“Untuk mbalas dendam?” desis Lyra.

Aeris tidak tersenyum.

“Untuk nciptakan tatanan baru. Tapi berbeda darimu, aku tidak percaya kita bisa mperbaiki dunia ini dari dalam. Dunia lama harus mati. Baru dari debu, kita bangun yang benar.”

“reka nyembahmu, tahu tidak?” Aeris lanjutkan, langkah lebih dekat. “reka hafal pidatomu, cita-citamu. Tapi reka tak tahu kau telah lelah. Kau ingin damai... saat dunia belum selesai berperang.”

“Karena jika kita terus mbalas, kita jadi cermin musuh kita sendiri,” balas Lyra tegas. “Aku tidak mau jadi legenda jika itu berarti mbunuh anak-anak demi simbol.”

Aeris ndekat, wajahnya tegang. “Kau tahu siapa yang kubunuh? Orang yang sama yang dulu nyeret ibu kita keluar dari gua persembunyian. Orang yang mberi perintah nyerang kamp kita. reka bukan korban.”

“Tapi reka punya anak. reka punya istri. Sama seperti ibu kita dulu,” balas Lyra pelan. “Kalau kita terus milih siapa yang pantas mati... siapa yang akan tersisa untuk hidup?”

Diam panjang.

Alden, yang tak tahan lagi, nyela, “Apa kau berniat nyerang Selatan?”

Aeris natapnya. “Bukan nyerang. mbebaskan. Tapi kalau reka nolak... kami siap maksa.”

Lyra berdiri di tengah ruangan, antara masa lalu dan masa depan. Ia natap adiknya lama, seperti ncoba ngenali siapa sebenarnya di hadapannya.

“Aku datang bukan untuk mbunuhmu. Tapi untuk nghentikan kau njadi sesuatu yang lebih berbahaya dari yang kita perangi dulu.”

Aeris ngangguk pelan. “Dan aku tidak akan njatuhkan pedang... hanya karena darah kita sama.”

Keduanya berjalan njauh, berbalik.

“Dua minggu,” kata Aeris. “Dalam dua minggu, kami bergerak. Jika kau ingin nghentikanku, datanglah ke dataran Tevran. Di sana dunia akan milih.”

Malam itu, Lyra duduk sendirian di luar kamp reka, mandangi aurora yang perlahan muncul di langit utara. Naerys ndekat tanpa suara.

“Kau baik-baik saja?”

“Adikku hidup. Tapi dia bukan lagi anak yang dulu main pasir bersamaku di belakang tenda.”

“Mungkin kau juga bukan kakak yang dia kenal,” gumam Naerys. “Tapi bukan berarti kalian tak bisa nemukan jalan yang baru.”

“Atau saling nghancurkan,” bisik Lyra.

Naerys tidak njawab. Hanya duduk di sebelahnya, ndampingi.

“Lucu,” kata Lyra. “Aku pernah bermimpi mbangun dunia tanpa perang. Sekarang... aku harus milih untuk mulai satu.”

“Kadang... untuk njaga damai, seseorang harus jadi iblisnya sendiri,” jawab Naerys pelan.

Dan salju pun terus turun, nyelimuti jalan nuju pertempuran yang belum terjadi. Dua darah, dua jalan, satu takdir. Dan dunia nunggu, dalam diam yang rapuh.

You are reading The Shattered Light Chapter 159: – Wajah di Balik Matahari on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.