Tiga hari setelah Benteng Pilar jatuh, dunia masih belum mutuskan bagaimana harus bersikap.
Langit pagi itu abu-abu, ndung nggantung seolah nanti arah angin perubahan. Di halaman reruntuhan, Lyra duduk di atas peti kayu, nyaksikan para penyintas mbersihkan puing-puing. Suara palu dan gerutu bercampur dengan tangis anak-anak yang kembali ncari ayahnya.
Naerys datang dari belakang, mbawa secangkir air hangat dan sepotong roti keras.
“Sarapan yang pantas untuk seorang pahlawan,” katanya dengan senyum miris.
Lyra ngambil cangkir itu, tidak langsung minum.
“Kalau kita mang nang... kenapa tempat ini masih terasa seperti neraka?”
Naerys tidak njawab. Ia duduk di sebelah Lyra, ngamati para mantan pengikut Ordo yang kini bekerja berdampingan dengan pasukan pemberontak. Beberapa dari reka masih nolak natap wajah Lyra, seakan dosa reka terlalu tebal untuk dimaafkan.
“Karena tak ada kenangan yang bersih,” akhirnya Naerys berkata. “Cuma perbaikan dari kekacauan sebelumnya.”
“Dan kita bertugas mperbaiki?”
“Kalau bukan kita, siapa lagi?”
Sebelum Lyra bisa mbalas, langkah kaki tergesa terdengar. Seorang gadis berambut pendek datang berlari, napasnya terputus-putus.
“Kapten Lyra, ada... ada seseorang yang ingin bertemu. Dari Utara.”
Lyra dan Naerys saling pandang.
Di aula bekas perpustakaan, seorang pria berdiri di bawah jendela pecah. Jubahnya sederhana, tapi lambang di dadanya jelas: lambang Petak Cahaya Utara—faksi rahasia yang dikabarkan telah musnah sepuluh tahun lalu.
Pria itu natap reka dengan tenang. Rambutnya abu-abu, tapi matanya tajam seperti pisau.
“Lyra Kaelen. Naerys Thorne. Aku tak nyangka kalian masih hidup... atau lebih tepatnya, kalian yang nulis ulang sejarah.”
“Kau siapa?” tanya Lyra tegas.
“Namaku Tiras. Aku datang untuk nawarkan perdamaian... dan peringatan.”
Naerys nyilangkan tangan. “Perdamaian dari orang yang tak kami undang?”
“Atau mungkin, dari orang yang kalian lupa pernah kalian bantu lenyapkan,” balas Tiras.
Wajah Lyra ngeras. Ingatan itu datang—pengkhianatan di padang Esarn, markas Petak Cahaya dibakar karena dianggap terlalu ekstrem, bahkan oleh Ordo sendiri.
“Kami hanya nghentikan kekejaman,” jawab Lyra.
“Dan kini kalian yang gang pedang.”
Diam. Tak ada yang mbantah.
Tiras langkah ndekat. Ia ngeluarkan gulungan perkan, mbuka segel berwarna darah.
“Di utara, reruntuhan Benteng Es mulai bergolak. Kami nangkap gerakan dari bayangan lama. reka nyebut dirinya Anak Matahari. reka ngklaim... kau yang wariskan Relik Cahaya kepada reka.”
Lyra mbeku. “Mustahil.”
“Tapi terjadi. Dan reka mbawa panji-panji bertuliskan namamu. nyebut dirimu sebagai ‘Ibu Kebangkitan.’”
Sore itu, di ruang rapat darurat, Lyra mandangi peta besar yang terbentang. Di sisi selatan, bekas wilayah Ordo perlahan berubah warna, tapi di utara, simbol baru muncul—matahari dengan lingkaran retak di tengah.
“reka pakai namaku untuk ngobarkan perang baru,” desis Lyra. “Untuk balas dendam.”
Alden yang baru tiba dari garis luar masuk dan nimpali, “Atau... reka mang percaya kau akan kembali mbakar sistem.”
“Aku tidak ingin jadi dewa,” katanya pelan.
“Tapi rakyat butuh wajah,” balas Alden. “Dan saat kekosongan lahir, reka isi dengan harapan atau kebencian.”
Naerys mutar pisau kecilnya, lalu letakkannya di ja. “Kita punya dua pilihan: biarkan reka tumbuh jadi api yang tak terkendali... atau pergi sendiri dan bicara langsung pada reka.”
“Pergi ke utara?” tanya Lyra. “Setelah semua ini?”
“Justru karena semua ini,” jawab Naerys. “Kalau kita nunggu, reka akan mbuat versimu sendiri... dan itu bisa jauh lebih berbahaya.”
Malam itu, Lyra duduk di beranda, mandangi langit yang dipenuhi awan gelap. Di tangannya, liontin Kaelen masih terasa hangat.
“Kau tahu? Kadang aku rindu kau marah padaku,” gumamnya. “Karena kau marah dengan alasan. Dunia ini marah tanpa tahu ngapa.”
Naerys ndekat, mbawa dua selimut dan dua cangkir.
“Kita berangkat fajar. Tak ada jaminan apa pun.”
Lyra natap temannya. “Kau yakin masih mau ikut?”
“Aku hanya percaya pada satu hal di dunia ini, Lyra,” jawab Naerys. “Dan itu adalah kau. Bahkan jika dunia berubah jadi abu, selama kau masih berdiri... aku tahu jalan itu belum habis.”
Lyra tak njawab. Ia hanya jamkan mata, ndengar suara api unggun yang redup tertiup angin.
Di balik langit ndung, bayangan fajar mulai nembus. Bukan harapan, bukan juga kenangan.
Hanya pengingat bahwa perang—dalam bentuk baru—sudah nunggu.
Reviews
All reviews (0)