Kabut dingin nyelimuti jalur tersembunyi di timur Benteng Pilar. Langkah kaki nyaris tak terdengar di antara ilalang basah dan tanah becek. Di garis depan, Lyra berhenti, ngangkat tangan. Semua pasukan otomatis mbeku.
"Tunggu aba-aba. Kita hanya punya satu kesempatan sebelum reka nutup gerbang utama," bisiknya kepada Naerys yang berdiri tepat di sampingnya.
Naerys ngangguk. Mata hijaunya nyapu perbukitan di kejauhan—di sanalah benteng berdiri, kelam dan kokoh, seperti tulang rusuk hitam dari era yang tak lagi diingat.
Dari belakang, suara langkah berderap pelan. Veylan muncul, ngenakan kembali jubah abu-abunya yang robek, wajahnya terlihat semakin tua di bawah cahaya fajar.
"Gerbang selatan dijaga delapan orang. Dua lainnya patroli bergantian tiap tujuh nit. Aku bisa buka kuncinya, tapi hanya dari dalam," katanya lirih.
Lyra natapnya lama. “Berapa lama waktu yang kau butuhkan?”
"Empat nit. Mungkin lima, jika tangan ini masih setia."
"Kau hanya punya tiga," sahut Naerys dingin.
Veylan tidak tersinggung. Ia hanya ngangguk dan langkah nuju jalur batu yang nyaris tertutup semak belukar.
Lyra narik napas panjang, lalu berbalik nghadap pasukannya. Dua puluh lima orang, setengah dari reka veteran perang, sisanya anak-anak yang milih mberontak daripada tunduk.
"Kita tidak akan selamat semua," katanya jujur. "Tapi yang kita lakukan malam ini... akan ngakhiri siklus penindasan. Entah kita hidup untuk nyaksikannya, atau mati agar dunia baru bisa lahir."
Tidak ada sorak sorai. Hanya anggukan. Hanya mata-mata yang nyala dengan keyakinan.
Alden mutar pisaunya sekali, lalu nyelipkannya kembali ke pinggang. “Sudah lama aku nunggu perang seperti ini.”
Tiga nit kemudian, suara pelan logam terbuka terdengar. Gerbang selatan bergeser perlahan, cukup untuk satu orang rayap masuk.
Lyra mberi isyarat. reka nyelinap ke dalam seperti bayangan. Naerys dan dua unit pengintai ngeliminasi penjaga terdekat dengan keheningan yang nyaris mistis.
Di sisi lain benteng, suara ledakan tiba-tiba nggelegar. Pasukan pengalih perhatian—yang dipimpin oleh Darven dan tiga pemanah elit—telah mulai bagian reka. Api mulai mbumbung, dan teriakan penjaga terdengar ricuh.
"Sekarang!" teriak Lyra.
Aksi berubah njadi badai. Anak panah berdesing di udara. Suara pedang beradu dengan tombak. Pasukan Ordo, ski terlatih, tak nyangka serangan dari dalam.
Veylan mimpin Lyra dan Alden ke ruang penyimpanan senjata—kunci kontrol utama sistem pertahanan sihir berada di sana.
Namun saat reka tiba, reka ndapati sesuatu yang tidak terduga: ruangan itu kosong. Terlalu kosong.
“Tunggu... di mana runa kontrolnya?” gumam Alden.
Veylan mbeku. Wajahnya pucat seketika.
“Tidak... Ini jebakan—”
Seketika itu pula, dinding di belakang reka runtuh, dan sosok berjubah putih muncul dari balik bayangan. Grandmaster Elvior.
“Selamat datang, anak-anak Cahaya,” ujarnya, suara halusnya kontras dengan energi ngerikan yang terpancar dari tubuhnya. “Aku tahu kalian akan datang.”
Lyra segera nebas, tapi Elvior hanya ngangkat satu jari. Energi tak terlihat nghantam reka semua, lemparkan tubuh-tubuh ke belakang seperti boneka kain.
“Kalian kira bisa ngubah dunia dengan amarah dan dendam? Dunia ini dibentuk oleh ketakutan dan pengorbanan.”
Lyra bangkit tertatih, darah netes dari dahinya. “Dunia ini dibentuk ulang oleh keberanian orang-orang yang ditindas!”
“Sama seperti kau dulu, Lyra?” Elvior nyeringai. “Gadis kecil yang nangis saat ayahnya dibakar oleh hukum yang ia percayai?”
Lyra mbeku. Itu bukan informasi umum.
“Kau tahu?” suaranya bergetar.
“Aku yang njatuhkan vonis itu,” bisik Elvior dengan dingin. “Demi njaga keseimbangan.”
Naerys masuk ke dalam tepat saat Elvior ngangkat tangannya lagi. Ia lempar dua belati yang terbungkus aura sihir, nabrak dinding pelindung Elvior dan ledak dalam cahaya putih. Itu cukup untuk cah fokusnya.
Alden nghantam dari sisi lain, sentara Lyra nancapkan pedangnya ke lantai, lepaskan gelombang energi lalui rune yang ia sembunyikan selama ini—artefak dari reruntuhan timur.
Ledakan ketiga ngguncang fondasi.
“Waktunya runtuhkan semuanya,” desis Alden.
Veylan bangkit perlahan, natap Elvior yang terdesak.
“Aku pikir aku mati bersama kehormatanku,” katanya pelan. “Ternyata... aku baru nemukannya sekarang.”
Ia nyerang—tubuhnya ledak dalam kilatan terang, mbawa Elvior bersamanya ke dalam jurang yang terbuka di lantai.
Lyra berdiri di reruntuhan aula utama, tubuhnya getar. Di sekitarnya, api mulai reda. Pasukan Ordo nyerah. Para pemberontak, ski luka-luka, nang.
Naerys natap langit yang perlahan cerah.
“Kau pikir... ini benar-benar akhir?”
Lyra nggenggam liontin Kaelen yang masih ia simpan.
“Tidak ada akhir. Hanya pilihan. Dan kita baru saja milih untuk tidak hidup dalam ketakutan lagi.”
Alden datang dengan kain perban, mbungkus luka di lengan Lyra.
“Dan pilihan itu... mbawa kita ke awal dunia baru.”
Reviews
All reviews (0)