Font Size
15px

Suara derak kayu terdengar lirih ketika pintu kecil di sisi barak perlindungan dibuka. Lyra nyusup ke luar, mantel gelapnya nyatu dengan bayang-bayang malam. Di belakangnya, Naerys ngikuti, mata tajamnya ngawasi setiap sudut.

“Kau yakin ini tidak jebakan?” tanya Naerys, berbisik.

Lyra ngangguk perlahan. "Kalau ini jebakan, aku ingin lihatnya sendiri."

reka berjalan nyusuri lorong berbatu, nuruni jalan kecil yang nyaris tersembunyi di balik reruntuhan. Di sana, di bawah rerimbunan pohon tua, seseorang sudah nunggu—seorang pria dengan jubah compang-camping warna abu-abu, wajahnya tersembunyi di balik tudung.

"Lyra Alveris," katanya pelan, suaranya parau seakan lewati ribuan luka. "Putri darah Cahaya... dan kini, bayangan pemberontakan."

Lyra nahan langkahnya beberapa ter dari sosok itu. Tangannya siaga di gagang pedang.

"Siapa kau?"

Orang itu nyingkap tudungnya perlahan. Wajah kurus dengan bekas luka lama di sepanjang pelipisnya muncul di bawah sinar rembulan.

"Namaku Veylan. Mantan Penjaga Pilar Keempat Ordo Cahaya."

Naerys ncabut belatinya setengah, refleks.

"Pengkhianat," desisnya.

"Mantan," ralat Veylan datar. "Aku ninggalkan reka... saat nyadari siapa sesungguhnya yang kami layani."

Lyra ngamati gerak-geriknya. Tidak ada aura kebohongan dalam nada suaranya, hanya kelelahan ndalam.

"Apa yang kau mau dari kami?" tanya Lyra.

Veylan ndekat satu langkah, cukup untuk mbuat Naerys negang.

"Bukan apa yang kuinginkan... tetapi apa yang bisa kuberikan."

Ia ngeluarkan gulungan kecil dari dalam jubahnya—peta, berisi rute rahasia, lokasi benteng pertahanan Ordo, bahkan posisi markas utama Grandmaster Elvior.

"Aku bisa bantu kalian motong kepala ular," katanya. "Tapi itu akan ngorbankan lebih dari sekadar nyawa."

Lyra natap peta itu dengan hati-hati. "Kenapa kau lakukan ini?"

Veylan nghela napas berat, seperti ngusir beban dari dadanya.

"Karena aku ikut mbangun tirani itu. Karena aku lihat anak-anak dibakar hidup-hidup demi doktrin. Karena aku nutup mata terlalu lama."

Ia nunduk, suara parau bergetar.

"Karena ini satu-satunya cara aku bisa nebus dosaku... ski nyawaku harus njadi bayarannya."

Keheningan nggantung.

Akhirnya, Lyra ngambil peta itu.

"Kau akan ikut dengan kami?"

"Sampai akhir," jawab Veylan lirih.

Kembali di markas, Lyra ngumpulkan dewan kecil. Alden, Naerys, dua perwakilan Bayangan, serta dua mantan prajurit elit pasukan Kegelapan.

Peta dibentangkan di atas ja kasar. Titik-titik rah nunjukkan benteng Ordo. Garis-garis biru nghubungkan jalur tersembunyi—rute lama yang bahkan tentara biasa pun tidak tahu.

"Kalau kita gunakan jalur ini," kata Alden, nunjuk ke rute utara, "kita bisa ndekati benteng pusat tanpa ketahuan."

Naerys nggeleng, nunjuk ke sebuah persimpangan.

"Terlalu berisiko. Ada patroli besar di sana. Kita akan terjebak."

"Kalau begitu, kita butuh pengalihan," usul Lyra.

reka saling berpandangan. Semua ngerti artinya: ngorbankan satu kelompok kecil untuk ngalihkan perhatian.

"Aku yang mimpin pengalihan," kata Naerys mantap.

"Tidak," potong Lyra. "Aku akan milih orang-orang khusus untuk itu. Kau tetap bersamaku. Kita tak bisa kehilanganmu."

Naerys ngepalkan tangan, tapi tidak mbantah.

"Dan Veylan?" tanya salah satu prajurit.

Semua mata beralih pada pria itu. Veylan ngangkat kepala, nantang.

"Aku akan mbuka gerbang dalam. Hanya aku yang tahu sandinya."

Satu detik... dua detik... lalu Lyra ngangguk.

"Kita mulai persiapan malam ini."

Malam itu, Lyra duduk sendiri di salah satu tenda, peta di pangkuannya. Angin malam nerpa wajahnya. Di tangan kanannya, tanpa sadar, ia masih gang liontin kecil milik Kaelen.

Alden masuk diam-diam.

"Kau yakin dia bisa dipercaya?" tanyanya tanpa basa-basi.

Lyra tidak njawab langsung. Ia nggenggam liontin itu erat.

"Aku tak yakin," bisiknya. "Tapi kadang, dalam kegelapan, satu-satunya jalan adalah langkah... atau mati diam-diam."

Alden ndekat, duduk di sampingnya.

"Kau banyak berubah."

"Kita semua berubah," sahut Lyra, natap api unggun dari kejauhan. "Hanya saja... aku takut, saat aku akhirnya sampai di ujung jalan ini, aku bukan lagi orang yang dikenalnya."

Alden natapnya lama, lalu nepuk bahunya.

"Kalau dia masih di sini... aku yakin dia akan ngenalmu."

Lyra tersenyum pahit. "Itu yang kutakutkan."

reka duduk bersama dalam diam, mbiarkan malam dan kesunyian berbicara.

You are reading The Shattered Light Chapter 156: – Api di Balik Bayangan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Villain's Story cover
Similar genre

The Villain's Story

Blazuku ·Fantasy

ThreeSoulslayinonebody,Onesoulbelongingtoamanwhohadreachedthepeak,thestrongestthereeverwas,theonewhohadthetalenttodoso.Yethesufferedbecauseofhistal...

Mage Manual cover
Similar genre

Mage Manual

Listening Day ·Fantasy

Ashopenedhiseyestofindthathehadtraveledtoastrangenationofmanyraces,andpeoplewerekneelingbeforehim.BeforehehadtimetoadapttothenewidentityoftheTermin...

Above The Sky cover
Similar genre

Above The Sky

Gloomy Sky Hidden God ·Fantasy

Thefirststarthatpassedawayextinguishedtwothousandyearsago. Fourhundredyearslater,themysteriousCalamityofHeavenlyFalldestroyedthecivilizationofthepr...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.