Hening nyelimuti lembah tempat reka netap sentara. Nyala api unggun liuk pelan, mantulkan cahaya hangat ke wajah-wajah yang letih. Malam itu, bintang bersinar seolah natap dunia dari jauh, nyaksikan reruntuhan dan kebangkitan yang nyertainya.
Lyra duduk di samping api, pandangannya kosong. Rambutnya berantakan, jubahnya masih basah oleh lumpur dan darah. Tapi di matanya, sesuatu telah berubah—keteguhan. Bukan semangat yang mbara, tapi nyala yang dingin, terfokus. Seperti bara dalam abu.
"Berapa banyak yang tersisa?" tanyanya tanpa noleh.
Alden duduk di seberangnya, nunduk sebelum njawab.
"Enam puluh dua. Itu termasuk yang masih bisa gang senjata."
"Dari hampir tiga ratus," gumam Lyra, nyaris tak terdengar.
Kesunyian njawab. Hanya geretak kayu terbakar dan napas berat para penyintas yang terdengar.
"Kita tidak bisa terus seperti ini," lanjut Alden, suaranya datar. "reka kelelahan. Kehilangan harapan. Jika kau tidak mberi reka arah..."
"Aku tahu," potong Lyra, natap api. "Tapi arah ke mana, Alden? Kita tidak tahu apakah Kaelen masih hidup. Kita bahkan tidak tahu apakah tempat perlindungan berikutnya aman."
Alden natapnya, lama, sebelum akhirnya berkata pelan,
"reka percaya padamu. Karena dia percaya padamu."
Kata-kata itu nusuk lebih dalam dari yang ia duga. Lyra noleh, dan untuk pertama kalinya malam itu, mata reka bertemu.
"Lalu bagaimana kalau aku tak sanggup njadi seperti dia?"
"Kau bukan dia," jawab Alden. "Dan itu justru kelebihanmu."
Sebelum Lyra bisa mbalas, seorang penjaga datang dengan napas terengah-engah.
"Nona Lyra... ada seseorang yang ingin bertemu. Dari Suku Bayangan."
Lyra berdiri. Beberapa pasukan bereaksi defensif, tapi ia ngangkat tangan untuk nenangkan reka.
Di luar batas api, seorang wanita berkulit gelap dengan rambut dikepang rapat muncul. Dia ngenakan jubah ungu-hitam khas kaum Bayangan. Wajahnya tegas, tapi bukan dingin—hanya penuh kehati-hatian.
"Namaku Naerys," katanya. "Aku datang mbawa pesan dari Penasihat Agung kami."
Lyra ngangguk singkat. "Kau telah nyelamatkan kami tadi. Kenapa?"
Naerys natapnya lurus. "Karena apa yang kalian lawan... juga nghancurkan kami."
Ia njatuhkan sebuah gulungan kulit ke tanah. Lyra ngambilnya, mbuka cepat. Peta. Rute. Titik-titik rah di atas kota-kota yang... sudah tak ada.
"Ordo Cahaya telah nyerang reruntuhan kami di Utara. mbakar tempat suci kami. reka tidak hanya mburu kalian. reka mburu siapa pun yang nolak tunduk."
Alden ndekat, natap peta. "Ini... jauh lebih luas dari yang kita tahu."
Lyra natap Naerys dengan campuran kecurigaan dan ketertarikan.
"Apa yang kau inginkan dari kami?"
Naerys ngangkat dagunya.
"Persatuan. Kita bentuk aliansi. Suku Bayangan, sisa pasukan Kegelapan, dan siapapun yang tersisa dari kaum bebas. Kita hadapi Ordo bersama-sama."
"Dan siapa yang mimpin?" tanya Alden datar.
Naerys tersenyum kecil. "Kita tentukan bersama. Tapi kita butuh seseorang yang mampu njadi wajah bagi perang ini."
Ia natap langsung ke Lyra.
"Kau."
Beberapa orang mulai protes saat kabar rencana aliansi nyebar. Ada yang takut, ada yang marah.
"reka pengkhianat dulunya!" teriak salah satu prajurit tua. "Kita tak bisa percaya Bayangan!"
"Dan kita sudah bisa percaya siapa sekarang?" sahut pemuda lain. "Ordo Cahaya mbantai keluargaku! Jika reka mau mbantu, biarkan!"
Lyra berdiri di tengah reka semua. Suaranya naik, nembus kebisingan.
"Cukup! Kau boleh benci siapa pun yang kau mau. Tapi kebencian tidak akan mbawa kita nang. Hanya kekuatan... dan persatuan."
Semua terdiam.
"Aku tidak minta kalian mpercayai reka. Tapi aku minta kalian mpercayai ini: jika kita tak bertindak sekarang, tak satu pun dari kita yang akan bertahan."
Dalam dua hari berikutnya, reka bergerak ke lokasi yang ditunjukkan oleh Naerys—sebuah gua terlindung di balik pegunungan, markas sentara Suku Bayangan.
Di sana, untuk pertama kalinya sejak Kaelen nghilang, Lyra berdiri di depan kelompok besar manusia, elf, dan Bayangan.
Dia gang pedang Kaelen—yang entah bagaimana ditemukan oleh pasukan Bayangan di reruntuhan kuil.
"Kaelen mperjuangkan dunia di mana Cahaya bukan lagi topeng tirani," katanya lantang. "Hari ini, kita lanjutkan perjuangan itu."
"Bersama. Tak peduli dari mana kita berasal. Tak peduli bayangan masa lalu kita."
Naerys dan para tetua Bayangan ngangguk setuju. Para penyintas natap dengan mata yang penuh kemungkinan.
"Mulai hari ini," lanjut Lyra, "kita adalah bara dari api yang belum padam. Kita akan nyulut nyala yang akan mbakar fondasi Ordo Cahaya."
Suara sorakan pecah.
Tak sehebat pasukan besar.Tapi cukup untuk mbangkitkan semangat.
Malam itu, di puncak nara kecil yang nghadap ke lembah, Lyra berdiri sendiri.
Tangan kirinya nggenggam pedang Kaelen.
Tangan kanannya gang liontin kecil—yang entah kenapa... mbuatnya rasa sedikit lebih dekat pada seseorang yang perlahan-lahan mulai nghilang dari ingatannya.
"Kau tetap di sini," bisiknya, natap langit. "Di antara setiap langkahku."
Reviews
All reviews (0)