Font Size
15px

Debu masih nggantung di udara seperti kabut pekat, mbungkus dunia dalam warna abu-abu yang nyaris tak bernyawa.Lyra berdiri di tepi reruntuhan, tubuhnya getar, napasnya berat.

Di balik longsoran batu itu, Kaelen...Apakah dia masih bertarung?Apakah dia masih hidup?

Tangannya ngepal. Luka di bahunya berdarah, tapi rasa sakit itu kecil dibandingkan dengan rasa hampa yang mulai nggerogoti hatinya.

Alden letakkan tangan di pundaknya.

"Kita harus pergi, Lyra," katanya pelan. Suaranya serak, penuh beban. "Kalau tidak, pengorbanan Kaelen sia-sia."

"Pergi?" Lyra noleh dengan mata rah. "Kita ninggalkannya?"

Alden nggeleng pelan.

"Kita nghormatinya. Dengan tetap hidup."

Kata-katanya benar.Tapi hati Lyra nolak.

"Aku harus kembali," desisnya, hampir tanpa suara.

reka semua berdiri di persimpangan tak terlihat:

Mundur dan nyelamatkan orang-orang.

Atau kembali ke dan maut demi seseorang yang mungkin sudah tiada.

Di belakang reka, pasukan kecil yang tersisa—anak-anak, orang tua, prajurit-prajurit muda—nunggu dengan tatapan cemas.

Setiap detik yang reka buang di sini, musuh bisa ngejar.

Alden natap Lyra tajam.

"Kau adalah harapan banyak orang sekarang. Bukan hanya Kaelen."

"Tapi..." Lyra nggigit bibirnya. Suaranya pecah. "Aku... aku tidak bisa ninggalkannya begitu saja."

Suara kecil di hatinya berteriak.

Kalau dia pergi sekarang, mungkin dia bisa nyelamatkan dunia yang Kaelen perjuangkan.

Tapi kalau dia tinggal... mungkin dia bisa nyelamatkan Kaelen.

Atau... reka berdua akan musnah.

Di tengah keraguan itu, Lyra teringat pada malam saat dia dan Kaelen berbagi satu-satunya malam damai di kamp api.Kaelen nggenggam tangannya dan berkata:

"Kalau suatu hari aku nghilang... jangan berhenti berjalan. Jangan jadikan aku alasan untuk nyerah."

Air mata ngalir di pipinya.Dia tahu jawabannya.Dia tahu... walau seluruh hatinya njerit.

Dengan tangan getar, dia ngangkat kepalanya.

"Kita pergi," katanya akhirnya, suara bergetar. "Kita bawa harapan ini. Untuk dia."

Alden nepuk punggungnya, matanya penuh rasa hormat.

"Kaelen pasti bangga."

reka bergerak cepat lewati jalur sempit di antara tebing dan hutan.

Langkah-langkah reka penuh kehati-hatian.Satu suara saja bisa narik perhatian pasukan Cahaya yang masih mburu.

Beberapa anak kecil nangis tertahan.Seorang prajurit muda, dengan luka parah di kakinya, terus dipapah dua rekannya.

Lyra berjalan di depan bersama Alden, mimpin dengan mata yang tajam dan hati yang luka.

Tiap langkah terasa seperti nginjak bara api—njauh dari seseorang yang dia cintai lebih dari hidupnya sendiri.

"Ayo cepat!" teriak Alden setengah berbisik saat ndengar langkah-langkah berat dari kejauhan.

Pasukan pengejar.reka tidak punya banyak waktu.

Saat reka ncapai hutan yang lebih lebat, suara air ngalir terdengar di kejauhan—sungai besar yang bisa njadi jalur pelarian.

Tapi di sana, di tepi sungai, pasukan Cahaya sudah nunggu.Ratusan prajurit bersenjata lengkap, mblokir jalur reka.

Jerat yang sempurna.

"reka sudah tahu kita ke sini," gumam Alden, wajahnya ngeras.

Lyra ngepalkan tangan. Sihir di ujung jarinya bergetar.Tapi dia tahu, bahkan dengan seluruh kekuatan sihirnya, reka tak akan nang.

Seorang pria bertopeng putih, komandan musuh, maju ke depan.

"Serahkan diri kalian," katanya dengan suara tenang namun ngancam. "Atau kalian semua akan dihancurkan di sini."

Diam.Semua pasukan Lyra natapnya, nunggu keputusan.

reka tidak bisa bertarung.reka tidak bisa mundur.

Lyra natap ke langit.Angin bertiup, mbawa aroma sungai dan... sesuatu lagi.

Sesuatu yang aneh.

Dari balik hutan di sisi lain, suara seruling tipis terdengar.Nada-nada aneh, nembus kabut ketakutan.

Pasukan Cahaya mulai gelisah. Beberapa ngangkat senjata dengan gugup.

Dari bayangan pepohonan, sosok-sosok berkulit gelap dan mata keperakan muncul—pasukan dari Suku Bayangan, para pengembara yang selama ini netral dalam perang.

reka datang.

Dipimpin seorang wanita tinggi berambut perak, dengan jubah hitam berlapis ungu, dan mata yang berkilat seperti malam berbintang.

"Kau pikir dunia ini hanya milik kalian?" suaranya bergema di udara. "Kau salah besar."

Komandan musuh tampak ragu sejenak.

Terlambat.

Dalam hitungan detik, panah-panah hitam luncur, nerjang pasukan Cahaya dengan presisi matikan.

dan pertempuran berubah njadi kekacauan.

Lyra tidak nyia-nyiakan kesempatan itu.

"Sekarang! Lewati sungai!" serunya.

Dengan dorongan terakhir, reka berlari—nembus kabut pertempuran, lewati sungai yang dingin, ninggalkan kematian dan kehancuran di belakang.

Saat akhirnya reka berhasil ncapai sisi lain sungai, Lyra jatuh berlutut, kehabisan tenaga.

Di seberangnya, kabut masih nutupi semua yang tertinggal—termasuk Kaelen.

Dia nutup matanya, mbiarkan air mata ngalir bebas.

"Aku akan nepati janjiku, Kaelen," bisiknya dalam hati. "Aku akan terus berjalan. Demi kita semua."

Malam mulai turun, mbawa bintang-bintang pertama di langit kelam.

Sebuah malam baru.

Sebuah awal baru.

Namun di hati Lyra, satu bayangan tetap tinggal...Bayangan seseorang yang ia cintai, yang mungkin masih berjuang di sisi lain dunia ini.

You are reading The Shattered Light Chapter 154: – Di Antara Cahaya dan Bayangan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.