Font Size
15px

Dunia serasa nahan napas saat Kaelen dan pasukannya nyelinap di antara pepohonan yang mulai mutih oleh embun dingin.Di belakang reka, langit mulai cerah, namun bukan fajar yang reka tunggu—lainkan pasukan Cahaya yang ngintai seperti serigala lapar.

Kaelen mberi isyarat.reka harus bergerak lebih cepat.

"Jalur sungai," bisiknya ke Alden. "Kalau kita bisa ncapai tebing, kita bisa mperlambat reka."

Alden ngangguk, narik napas berat sebelum mimpin sebagian pasukan kecil ke arah yang ditunjukkan.

Serina berjalan di belakang Kaelen, njaga jarak. Ia tidak berani natap mata siapa pun.Tak perlu kata-kata—semua orang rasakan ketegangan yang ngeras di antara reka.

Saat reka lewati ngarai sempit, teriakan lengking cah udara.

Anak panah pertama luncur dari balik bebatuan.

"Serangan!" teriak Alden, ngangkat perisainya.

Kaelen segera runduk, narik Lyra ke bawah lindungan pohon.Anak-anak panah bersiul di udara seperti hujan kematian.

Pasukan Cahaya telah masang jebakan. reka nunggu.Dan sekarang reka nutup jalan keluar satu per satu.

"Ini jebakan!" Serina berteriak, ncoba nebus kesalahannya.

Kaelen ngertakkan gigi, matanya nyapu dan.Tidak ada waktu untuk nyalahkan siapa pun.

"Bentuk formasi defensif!" serunya. "Kita bertahan, lalu mundur ke sungai!"

Prajurit-prajuritnya segera ngelilingi para penyihir dan anak-anak kecil yang ikut reka lindungi.Namun jumlah musuh terlalu banyak. Cahaya dari perisai-perisai suci reka berkilauan, dan mantra-mantra pengikat mulai dilemparkan.

Kaelen bertarung seperti badai.

Setiap tebasan pedangnya ngoyak udara, mbelah perisai dan armor musuh.Di sampingnya, Lyra ngerahkan seluruh kekuatan sihir kegelapannya untuk nciptakan kabut hitam yang ngaburkan pandangan lawan.

Namun tetap saja, perlahan tapi pasti, reka didesak mundur.

Alden ngangkat tombaknya, nghalau tiga musuh sekaligus.

"Kita tidak bisa bertahan di sini lama lagi!" teriaknya.

Kaelen ngangguk. Dia tahu.

Dan saat itu... sebuah ide gila muncul.

Kaelen narik Serina ndekat.

"Kau tahu jalan rahasia di balik tebing itu, bukan?" tanyanya dengan cepat.

Serina ngangguk, napasnya mburu.

"Ada lorong gua kecil. Tapi sempit, hanya cukup untuk satu orang lewat dalam satu waktu."

"Bawa reka lewat situ," perintah Kaelen tegas. "Kau pimpin. Aku, Alden, dan Lyra akan nahan reka di sini."

Serina tampak ragu.

"Tapi—kau..."

"Kita butuh seseorang untuk mastikan generasi berikutnya selamat," Kaelen motong tajam. "Ini satu-satunya cara."

Serina nggigit bibirnya, lalu nunduk dalam.

"Baik."

Dia mimpin sebagian besar kelompok kecil itu, mbawa anak-anak, orang-orang yang terluka, dan sebagian prajurit muda ke lorong yang hampir tak terlihat di dinding batu.

Kaelen natap kepergian reka dengan berat.Dia tahu tidak semua orang akan sampai di seberang.Termasuk mungkin dirinya sendiri.

Alden berdiri di sisi kirinya, Lyra di kanan.Bersama-sama reka mbentuk benteng kecil terakhir.

"Kau benar-benar gila," kata Alden, setengah tertawa getir.

Kaelen hanya ngangkat bahu.

"Lebih baik mati bertarung daripada hidup berlutut."

Lyra lemparkan senyum tipis—pahit dan penuh cinta.

"Kalau mati bersamamu," katanya, "mungkin tidak terlalu buruk."

Kaelen mandang Lyra sekilas, rasa sesak nuhi dadanya.Ia tahu, dalam hatinya yang paling dalam, bahwa ia sudah kehilangan terlalu banyak.Dan mungkin... akan kehilangan lagi.

Pasukan Cahaya ngatur ulang barisan.Sebuah suara nggelegar datang dari depan: komandan reka—salah satu Elit Cahaya—muncul, mbawa tombak bercahaya yang mampu nembus benteng mana pun.

Kaelen, Alden, dan Lyra bersiap.

Pertarungan letus.

Pedang beradu pedang, sihir nghantam batu, teriakan kesakitan bercampur dengan gemuruh bumi yang terguncang.Kaelen nghancurkan satu per satu lawannya, tapi tubuhnya mulai lemah, luka mulai ngalirkan darah di sisi-sisinya.

Lyra kehabisan energi, hampir jatuh ke tanah kalau Alden tidak nangkapnya.

"Kita tidak akan bertahan lama!" teriak Alden.

Kaelen nghela napas berat.Satu langkah lagi.Satu tarikan napas lagi.

Dari sudut matanya, Kaelen lihat pilar batu besar yang rapuh di tepi sungai.Sebuah ide berbahaya lintas.

"Alden! Lyra! Mundur sekarang!" perintahnya.

"Apa?!"

"Sekarang!"

Tanpa nunggu, Kaelen ngerahkan seluruh kekuatan terakhirnya, nghantam fondasi pilar itu.

Dengan dentuman ngerikan, pilar runtuh, mbawa longsoran batu besar yang misahkan Kaelen dari pasukan Cahaya—dan dari Lyra dan Alden.

"KAELEN!!!" teriak Lyra putus asa dari seberang.

Debu dan batu nelan suara reka.

Kaelen berdiri sendiri, napasnya berat.Pasukan Cahaya ndekat dari segala arah.

Dia ngangkat pedangnya sekali lagi.

Jika ini akhirnya, maka dia akan nghadapi kematian seperti seorang prajurit.

Dengan senyum kecil, ia berbisik pada dirinya sendiri:

"Untuk reka... untuk dunia yang lebih baik."

Lalu dia nyerbu ke tengah badai.

Dalam reruntuhan dan darah, seorang pria berdiri sendirian lawan takdirnya.Dan di sisi lain longsoran batu, cinta dan sahabatnya hanya bisa berharap... semoga pengorbanan itu tidak sia-sia.

You are reading The Shattered Light Chapter 153: – Bayangan di Balik Cahaya on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.