Fajar masih bersembunyi di balik bukit saat Kaelen terbangun oleh suara langkah-langkah gugup.
Dia mbuka matanya perlahan, nemukan dirinya masih bersandar di batang pohon, api unggun kecil di tengah perkemahan hampir padam. Embun pagi nyelimuti tanah seperti tirai tipis.
Suara langkah itu semakin ndekat.
Kaelen nyipitkan mata.Siluet seseorang — cepat, gelisah, mbawa sesuatu.
"Siapa di sana?"Suaranya parau, tapi cukup untuk mbuat figur itu mbeku.
Dari kegelapan, Serina muncul, napasnya berat.
"Kaelen... Aku hanya ingin mastikan periter aman," katanya buru-buru, nghindari tatapannya.
Kaelen ngangguk perlahan, tapi ada sesuatu yang tak beres.Serina terlalu gelisah, terlalu... bersalah.
Sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, Alden datang tergopoh dari sisi lain.
"Kaelen! Ada sesuatu yang harus kau lihat," katanya tergesa-gesa, wajahnya tegang.
reka bertiga berlari ke arah yang ditunjukkan Alden.
Di sana, di balik semak-semak, tersembunyi sebuah bendera kecil. Simbol Ordo Cahaya.
Kaelen berjongkok, ngamati.Bekas jejak kaki baru ngarah ke reruntuhan desa yang reka lalui kemarin.
Seseorang telah ninggalkan sinyal.Seseorang dari reka.
Kaelen natap Serina, yang nundukkan wajahnya dalam bayang-bayang.
"Kau ingin njelaskan ini?" tanyanya, suaranya tenang tapi ngandung bahaya.
Serina ngatupkan rahangnya.
"Aku... Aku hanya berpikir... Jika kita bisa bernegosiasi dengan pasukan Cahaya, mungkin kita bisa nghindari pertumpahan darah lebih banyak."
Kaelen ngepalkan tangannya.
"Negosiasi? Dengan reka? Setelah semua yang reka lakukan?"
"Aku lelah lihat semua orang yang kita cintai mati!" Serina mbalas, suaranya hampir pecah. "Kalau ada kesempatan sekecil apa pun untuk nghentikan ini, aku harus ncobanya."
Alden langkah maju.
"Tapi dengan mbocorkan lokasi kita? Kau bisa saja mbunuh kita semua!"
Serina nggeleng, air mata mulai nggenang.
"Aku tidak mberi reka semua! Aku hanya... Aku pikir, jika reka tahu kita di sini, reka akan ngirim utusan, bukan tentara."
"reka tidak pernah milih damai, Serina," kata Kaelen, dingin.
Keheningan nekan reka bertiga.
Akhirnya, Kaelen berkata:
"Kau tetap di sini. Mulai sekarang, kau tidak ikut ke garis depan."
Serina tampak seperti ingin protes, tapi ia hanya nggertakkan giginya dan berbalik, bahunya getar.
Lyra, yang baru datang setelah ndengar keributan, bertanya pelan:
"Apa yang terjadi?"
Kaelen tak njawab langsung.
Ia hanya natap reruntuhan itu — dan untuk pertama kalinya, rasa goyah.Bukan karena musuh di luar. Tapi karena retakan yang mulai muncul di antara reka sendiri.
Malam itu, Kaelen manggil Lyra secara pribadi.
reka duduk berhadapan di bawah langit berbintang.
"Kau percaya padaku?" Kaelen bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Lyra ngangguk tanpa ragu.
"Tanpa pertanyaan," katanya.
"Kalau semuanya berubah... Kalau aku berubah... kau masih akan di sisiku?"
Lyra natapnya dalam-dalam, seolah ncoba nembus semua lapisan luka dan keraguan yang Kaelen sembunyikan.
"Aku tidak ncintaimu karena siapa kau hari ini, atau siapa kau kemarin. Aku ncintaimu... karena siapa kau berusaha untuk njadi."
Kaelen jamkan matanya, mbiarkan kata-kata itu nyelimutinya seperti pelindung rapuh.
Dia tahu.Pertempuran terbesar reka belum datang.Dan ketakutan terbesarnya bukanlah kematian.
Tetapi njadi monster demi nghentikan monster lain.
Saat malam semakin larut, suara-suara aneh terdengar dari utara.
Bunyi langkah berirama.Suara logam beradu.
Pasukan.
Kaelen bangkit berdiri, tubuhnya tegang.
Alden berlari ke arahnya.
"reka bergerak cepat. Lebih cepat dari yang kita prediksi."
Kaelen ngangguk.
"Bangunkan semua orang. Kita harus pergi."
"Dan Serina?" tanya Alden ragu.
Kaelen nghela napas.
"Bawa dia. Kita masih satu keluarga... untuk sekarang."
Tapi jauh di dalam hatinya, sebuah retakan telah lahir.
Dan dia tahu — dalam perang ini, terkadang luka terdalam datang bukan dari musuh,lainkan dari orang yang kau pikir akan selalu lindungimu.
Saat reka bergegas ninggalkan perkemahan, siluet pasukan Cahaya mulai tampak di puncak bukit, panji reka berkibar dalam angin dingin.
Fajar pertama mulai ngoyak langit gelap, seperti pedang nusuk luka lama.
Kaelen nggenggam gagang pedangnya.
Malam ini, reka bertahan.
Tapi esok?
Esok belum tentu.
Reviews
All reviews (0)