Langit sore mbara di kejauhan, warna jingganya nggores cakrawala seperti luka yang belum sembuh.
Kaelen berjalan di antara reruntuhan.Setiap langkah terasa berat, bukan hanya oleh luka fisik, tetapi oleh sesuatu yang lebih dalam, lebih sunyi:Rasa kehilangan yang ia bahkan tak bisa namai lagi.
Serina berjalan di sebelahnya, luka di lengannya sudah dibalut seadanya. Alden di belakang reka, terhuyung tapi tetap bertahan.
Lyra—Lyra tetap diam. natap Kaelen dengan tatapan kosong yang nusuk lebih tajam dari bilah mana pun.
Tak ada yang berbicara untuk waktu yang lama.
Sampai akhirnya suara Serina yang serak cah keheningan.
"Berapa banyak lagi yang harus kita korbankan... sebelum dunia ini berubah?"
Kaelen berhenti.
ngangkat kepalanya perlahan, seolah baru sadar betapa sunyinya dunia tanpa suara reka yang telah hilang.
Orang-orang yang dulu nuhi ingatannya, kini hanya bayang samar.
"Aku bahkan..." Kaelen nelan ludah, suaranya pecah, "... aku bahkan hampir tak ingat suara ibuku."
Semua berhenti.Bahkan angin yang nyapu reruntuhan terasa nahan napas.
Lyra akhirnya ndekat, berdiri di hadapan Kaelen.
"Kaelen," katanya, lirih, "kau masih punya kami."
Dia ingin percaya. Dia sungguh ingin.Tapi bayangan tentang semua yang telah hilang ngaburkan pandangannya.
Tiba-tiba, serpihan mori berkelebat di pikirannya:Tawa kecil seorang wanita.Aroma roti hangat di udara.Tangan hangat yang ngusap rambutnya.
Tetapi ketika Kaelen ncoba nggenggam kenangan itu, reka pecah seperti kaca.
Dia nggenggam kepalanya, ringis.
"Kaelen!" Lyra manggil, panik.
Serina berjongkok di sampingnya, nahan bahunya.
"Tarik napas," bisik Serina. "Jangan biarkan rasa sakit itu ngambilmu."
Kaelen nutup matanya.
Bernapas dalam-dalam.
ncoba ngingat apa pun. Sebuah suara. Sebuah senyuman. Sebuah nama.
"Aku... aku takut," bisik Kaelen akhirnya, suara yang jarang ia perlihatkan. "Takut suatu hari nanti... aku akan lupa ngapa aku bertarung."
"Kau tidak akan lupa," kata Alden dari belakang, nadanya tegas ski napasnya berat. "Kami di sini untuk ngingatkanmu."
"Tapi bagaimana kalau aku lupa kalian juga?" suara Kaelen retak.
Serina natapnya dengan penuh luka.
"Maka kami akan ngingatmu," jawabnya, tanpa ragu. "Sampai nafas terakhir kami."
Di tengah percakapan reka, langkah kaki berat terdengar dari reruntuhan.
Pasukan kecil muncul: penduduk yang berhasil bertahan hidup, wajah reka penuh harap, takut, dan kebingungan.
Seorang gadis kecil berlari ke arah Kaelen, rambutnya kusut, matanya lebar.
"Tuan Kaelen!" serunya, suaranya pecah oleh emosi. "Ayahku bilang kau pahlawan! Kau pasti bisa selamatkan kami!"
Kaelen terdiam.
mandang gadis itu.lihat kilasan wajah ibunya dalam kilatan ekspresi polos itu.Sesuatu di dalam dadanya berdenyut.
Dia berlutut perlahan, sejajar dengan si gadis.
"Apa namamu?" tanya Kaelen, lembut.
"Elina," jawab gadis itu.
Kaelen tersenyum kecil—senyum yang retak tapi nyata.
"Aku janji, Elina. Aku akan mbuat dunia ini lebih baik untukmu."
Malam itu, di bawah langit berbintang yang kelam, Lyra nemui Kaelen yang duduk sendirian di samping api kecil.
"Kau nyalahkan dirimu sendiri, bukan?" tanya Lyra, duduk di sampingnya.
Kaelen tidak njawab.
Lyra natap apinya, suaranya lembut tapi tegas.
"Kita semua kehilangan sesuatu, Kaelen. Tapi kau... kau kehilangan lebih banyak dari kita semua. Kau kehilangan potongan dirimu sendiri."
Kaelen nghela napas berat.
"Aku takut pada apa yang tersisa... saat semua potongan itu habis."
"Mungkin..." kata Lyra, mandangnya dengan penuh emosi, "... mungkin yang tersisa adalah bagian terbaik darimu."
Kaelen berbalik, natapnya.Untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti seumur hidup, dia mbiarkan air mata jatuh.
Tanpa kata, Lyra raih tangannya.
Dan di sana, di bawah langit yang sepi, reka duduk bersama dalam keheningan yang penuh makna.
Esok hari reka akan berjalan ke dalam perang besar.Esok hari darah akan kembali tumpah.
Tapi malam ini, untuk sesaat singkat, reka ngingat siapa yang reka perjuangkan.
Bukan hanya dendam.
Bukan hanya balas.
Tetapi untuk harapan kecil yang masih bertahan — untuk Elina, untuk masa depan, untuk dunia yang tidak perlu diingat dengan rasa sakit.
Kaelen natap bintang-bintang yang berkelap-kelip redup di langit.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia berbisik dalam hatinya:
"Aku akan terus berjalan."
Reviews
All reviews (0)