Denting pedang beradu di udara yang penuh kabut.Kaelen dan Varrek saling nyerang dan bertahan, gerakan reka seperti bayangan yang nari dalam kilatan senjata.
Setiap tebasan terasa lebih berat daripada sebelumnya — bukan hanya karena lelah, tetapi karena luka yang lebih dalam dari sekadar fisik.
"Kenapa, Varrek?!" Kaelen nggeram di sela napasnya. "Kita berjuang bersama! Kita bersumpah untuk nghancurkan Ordo Cahaya, bukan nggantikannya dengan kegelapan baru!"
Varrek mundur satu langkah, mata tajamnya berkilat.
"Karena dunia ini tak bisa diselamatkan, Kaelen. Kau belum lihat... sejauh mana kebusukan telah rasuki segalanya."
Kaelen nangkis serangan lain, berputar, dan ndorong Varrek njauh.
"Itu bukan alasan untuk njadi monster lain!"
"Monster?" Varrek tertawa pahit. "Aku hanya mbuka mata. Sentara kau tetap bermimpi tentang kebebasan yang tak pernah benar-benar ada."
Serina lesat dari samping, ncoba mbantu Kaelen, tapi Varrek ngibaskan belatinya, maksa Serina mundur dengan luka di lengannya.
Alden berteriak, ngayunkan kapaknya ke arah musuh lain, sentara Lyra lindungi punggung reka dari serangan panah.
"Kaelen, kita harus pergi!" teriak Lyra. "Ini bukan pertempuran yang bisa kita nangkan!"
Kaelen tahu dia benar.Tetapi tatapan Varrek... luka lama... janji yang reka buat bertahun-tahun lalu...Semuanya mbuat Kaelen ragu.
"Tidak," Kaelen nggertakkan gigi. "Aku butuh jawaban."
Kaelen dan Varrek berhadapan lagi, jarak satu pedang.
"Kau ngkhianati kita," kata Kaelen, suaranya getar. "Kau mbiarkan anak-anak desa terbunuh, Varrek. Kau milih jalan ini."
Varrek nurunkan pedangnya sedikit, wajahnya keras, tapi suaranya serak.
"Aku milih... realitas. Sentara kau, Kaelen, masih berjuang untuk bayangan masa lalu."
"Aku masih berjuang untuk orang-orang!" bentak Kaelen. "Untuk reka yang tidak punya kekuatan untuk lawan!"
Varrek natapnya lama, sebelum akhirnya berbisik.
"reka tidak pernah punya kesempatan, Kaelen. Kita hanya nunda kehancuran."
"Itu sebabnya kita bertarung!" jawab Kaelen, matanya berkilat marah. "Karena walau pun dunia ini sudah rusak, harapan tidak pernah sepenuhnya mati!"
Tiba-tiba, Varrek nurunkan pedangnya sepenuhnya.Dia ngulurkan tangan.
"Datanglah bersamaku, Kaelen. Kau tahu aku benar. Ashen Dawn akan mbangun dunia baru dari abu ini. Dunia di mana tidak ada Ordo Cahaya... tidak ada Grandmaster... tidak ada lagi kebohongan."
Untuk sepersekian detik, tawaran itu terasa... masuk akal.
Kaelen ngingat rasa kehilangan, pengkhianatan, kekecewaan...Dunia telah berkali-kali ngkhianatinya.
Mungkin... mungkin mbiarkan dunia lama terbakar mang satu-satunya cara.
"Kaelen," suara Serina manggil lirih, berdarah, matanya penuh luka dan harapan. "Jangan."
"Kita semua di sini karena kita percaya padamu," kata Alden, nggenggam gagang kapaknya erat. "Jangan biarkan dia ngambilmu juga."
Lyra berdiri diam, hanya natap Kaelen.Tidak ada kata-kata... hanya kepercayaan di matanya.
Dan dalam tatapan itu, Kaelen nemukan jawabannya.
Kaelen natap tangan Varrek lama sekali.
Kemudian, dengan gerakan cepat, dia nepis tangan itu dan ngarahkan pedangnya ke dada Varrek.
"Aku milih untuk percaya," kata Kaelen pelan. "Bahkan ketika dunia ini tidak layak untuk itu."
Varrek tersentak, luka emosional jauh lebih dalam daripada ancaman pedang Kaelen.
"Maka kita musuh," bisik Varrek.
"Sejak kau ninggalkan kami," jawab Kaelen.
Varrek nggeram marah, lompat nyerang.
Pertarungan reka berubah njadi lebih brutal, lebih pribadi.
Kaelen tidak bertarung untuk nang.Dia bertarung untuk bertahan, untuk njaga api kecil yang masih nyala di hatinya.
Akhirnya, dalam satu gerakan terlatih, Kaelen lucuti senjata Varrek dan njatuhkannya ke tanah.
Pedang Kaelen berhenti hanya satu inci dari leher Varrek.
"Lakukan," desis Varrek, nantang.
Kaelen nggeleng perlahan.
"Aku tidak akan njadi seperti kalian."
Dia lemparkan pedangnya ke tanah, mbalikkan badan, dan berjalan pergi.
Serina, Alden, dan Lyra bergerak cepat ke sisinya.
"Kau yakin?" tanya Alden, napasnya berat.
"Jika aku mbunuhnya," kata Kaelen tanpa noleh, "aku mbunuh bagian dari diriku sendiri."
reka ninggalkan Varrek di tanah, kabut nelan tubuhnya.
Saat reka berjalan njauh dari lembah berdarah itu, Kaelen tahu perjuangan reka baru saja dimulai.
Ashen Dawn tidak akan berhenti.
Tapi sekarang, reka punya alasan lebih dari sekadar balas dendam.
reka punya harapan.
Dan harapan — sekecil apa pun — lebih kuat daripada kebencian.
Reviews
All reviews (0)