Fajar baru saja ngintip di ufuk timur ketika Kaelen, Lyra, Serina, dan Alden ninggalkan Wellspring.Kabut masih nggantung di ladang, mbungkus dunia dalam warna abu-abu pucat.
reka nunggangi kuda cepat, lintasi jalan setapak sempit yang jarang digunakan.
Selama beberapa saat, hanya suara derap kuda dan helaan napas berat yang terdengar.
"Aku tidak suka ini," gumam Alden, cah keheningan. "Kita ngejar hantu berdasarkan kata-kata orang asing."
Serina noleh dengan tajam.
"Pilihan kita terbatas. Duduk diam bukan opsi."
Lyra nambahkan, suaranya rendah, serius.
"Jika Ashen Dawn punya waktu untuk berkembang, kita bisa kehilangan semua yang telah kita bangun."
Kaelen tidak berkata apa-apa.Pikirannya sibuk mbayangkan wajah-wajah yang mpercayainya, mbayangkan Wellspring terbakar... lagi.
Dia tidak akan mbiarkan itu terjadi.
Tidak kali ini.
Beberapa jam kemudian, reka tiba di desa pertama yang disebutkan Darven.
Atau lebih tepatnya, apa yang tersisa darinya.
Hanya abu, puing-puing hitam, dan tiang-tiang hangus.
Kaelen turun dari kudanya, lututnya bergetar ringan.
"Terlambat," gumam Serina, suaranya pahit.
Lyra berlutut, raba abu dengan jemarinya.
"Masih hangat."
Alden mandang ke sekeliling, mata waspada.
"reka mungkin masih di sekitar."
Kaelen berjalan perlahan di antara reruntuhan.
Sebuah mainan kayu terbakar separuh tergeletak di tanah.Ia mungutnya, rasakan berat rasa bersalah yang nghantam dadanya.
"Ini bukan hanya serangan," katanya akhirnya. "Ini pembersihan."
Serina ngangguk.
"reka ingin nghapus jejak reka... dan nanam ketakutan."
"Dan mperingatkan kita," tambah Lyra perlahan.
Kaelen ngepalkan mainan di tangannya.
"Kalau begitu, kita jawab peringatan ini."
Alden nemukan sesuatu di belakang sebuah sumur tua.
Sebuah simbol terukir kasar di batu.
Tiga garis lingkar bertemu di satu titik—lambang Ashen Dawn.
Kaelen natapnya dengan tatapan tajam.
"Ini petunjuk."
Serina ngangkat alis.
"Atau perangkap."
Kaelen tersenyum tipis, dingin.
"Kadang perangkap adalah satu-satunya jalan ke musuh."
reka mutuskan untuk ngikuti jejak itu.Lambang berikutnya ditemukan tertoreh di pohon mati di pinggir hutan.Lalu pada batu besar di tepi sungai.
Selalu cukup tersembunyi untuk tidak terlihat oleh orang awam... tetapi cukup jelas bagi reka yang tahu apa yang dicari.
"reka ngarahkan kita," kata Lyra, suaranya ngeras.
Alden nghela napas berat.
"Kalau ini jalan ke neraka, aku harap setidaknya ada pintu keluar di ujungnya."
reka tiba di sebuah lembah sempit njelang sore.
Kabut aneh nggantung di udara, terlalu pekat untuk sekadar embun biasa.
Insting Kaelen berteriak—jebakan.
"Berhenti," katanya tajam.
Semua orang langsung ngerem kudanya.
Dari balik kabut, sosok-sosok muncul—berjubah kelabu kusam, wajah tersembunyi di balik topeng kayu hitam.
reka ngepung dari segala arah.
Serina ngangkat busurnya, Alden ncabut pedangnya, Lyra bersiaga.
Kaelen maju satu langkah, suaranya keras.
"Kami tahu siapa kalian. Kami tahu apa yang kalian rencanakan."
Salah satu dari reka—mungkin pemimpin kelompok kecil ini—langkah maju.
Suara berat terdengar dari balik topeng.
"Dan tetap saja kalian datang."
Kaelen ngangkat pedangnya perlahan.
"Kami tidak akan mbiarkan kalian nghancurkan segalanya."
Pemimpin itu tertawa kecil, suara yang terdengar seperti kayu terbakar.
"Segalanya sudah hancur, Kaelen Draven. Kau hanya berjalan di antara abu."
Serina nembakkan anak panah pertamanya.
Dan pertempuran pecah.
Kabut mbuat segalanya kacau.Serangan datang dari arah yang tidak terduga, suara langkah-langkah berlipat ganda, nipu telinga reka.
Kaelen bertarung dengan naluri.nebas, nghindar, nyerang balik.
Serina lindungi sisi kanan Kaelen, Alden bertarung di sisi kiri, dan Lyra nyelinap ke belakang musuh, nusuk dari bayangan.
"reka lebih terlatih dari Ordo Cahaya!" teriak Alden, nahan dua serangan sekaligus.
Kaelen ngangguk cepat.
reka mang.Ashen Dawn bertarung tanpa rasa takut.Seolah kematian sendiri adalah bagian dari kenangan reka.
Saat Kaelen bertarung dengan seorang pemanah bertopeng, ia sempat njatuhkan topeng lawannya dengan pukulan keras.
Wajah di balik topeng itu mbeku Kaelen di tempatnya.
"Varrek...?" gumamnya tak percaya.
Varrek—salah satu rekan seperjuangan lama reka.Yang dulu dikira tewas dalam penyergapan Ordo Cahaya.
Wajah itu berubah kejam.
"Dunia lama harus dihancurkan, Kaelen," kata Varrek sebelum nyerang lagi.
Kaelen terpaksa nangkis.
Dalam satu kilatan pedang dan percikan darah, masa lalu dan masa kini berbenturan.
Pengkhianatan.Pengkhianatan dari orang yang dulu reka percaya.
Reviews
All reviews (0)