Kabut Wellspring belum sepenuhnya sirna saat Kaelen berdiri di puncak bukit kecil di luar desa.
Di bawah sana, orang-orang mulai mperbaiki pagar, mperkuat gerbang, dan mbangun nara pengawas.Rakyat yang kemarin ketakutan kini mulai bergerak dengan tujuan baru.
Namun di dalam dada Kaelen, rasa lega bercampur gelisah.
Ia rasakan sesuatu...Sesuatu yang lebih gelap dari sekadar ancaman Ordo Cahaya.
Lyra ndekatinya, nyampirkan mantel di bahu Kaelen.
"Kau kedinginan," katanya singkat.
Kaelen ngangguk, tapi tatapannya tetap ke kejauhan.
"Aku rasa ada sesuatu yang salah, Lyra," gumamnya.
Lyra nghela napas, berdiri di sampingnya.
"Kita baru saja nang. Setidaknya beri dirimu waktu untuk bernapas."
Kaelen tersenyum kecil—senyum yang tidak ncapai matanya.
"nang dalam satu pertempuran... bukan berarti nangkan perang."
Langkah-langkah cepat terdengar dari belakang. Serina muncul, wajahnya tegang.
"Kaelen. Ada tamu."
Kaelen berbalik.
Seorang pria tinggi berjubah kelabu nunggu di tepi jalan, dikelilingi oleh tiga penjaga Wellspring.
Kaelen ndekat perlahan.
"Siapa kau?" tanyanya tajam.
Pria itu nundukkan kepala.
"Namaku Darven. Aku datang bukan mbawa ancaman... tapi peringatan."
Alden, yang baru tiba dari penjagaan, ndengus.
"Biasanya yang mbawa ’peringatan’ juga mbawa belati di balik punggung."
Darven tersenyum tipis.
"Boleh saja nganggap begitu."
Kaelen ngerutkan kening.
"Bicara."
Darven natap reka satu per satu, seolah nimbang-nimbang.
"Ordo Cahaya... bukan lagi satu-satunya ancaman. Ada faksi baru. Lebih rahasia. Lebih berbahaya."
Serina nyilangkan tangan.
"Nama?"
Darven nghela napas.
"reka nyebut dirinya Ashen Dawn. reka tidak peduli siapa yang berkuasa—Cahaya, Kegelapan, atau yang lain. reka hanya ingin mbakar semuanya dan mbangun ulang dari abu."
Kaelen rasakan tengkuknya negang.
"Apa hubungannya dengan kami?"
Darven berbicara pelan.
"reka ngincarmu. Kau simbol harapan baru. Jika kau jatuh... semua ini jatuh."
Lyra ncengkeram gagang pedangnya.
"Bukti?"
Darven ngeluarkan gulungan perkan dari dalam jubahnya, nyerahkannya kepada Kaelen.
Kaelen mbukanya.
Sebuah daftar nama.Nama para pemimpin gerilya yang mbantu reka... sebagian besar sudah mati, dibunuh dalam penyergapan ’kebetulan’.
Nama Kaelen tertera di puncak daftar.Ditandai dengan tinta rah.
"reka sudah ngincarmu sejak dulu," kata Darven pelan. "Hanya masalah waktu sebelum reka nyerangmu secara terbuka."
Hening nyelimuti udara.
Alden ngutuk pelan.
"Seakan-akan Ordo Cahaya belum cukup."
Kaelen nggulung perkan itu perlahan.
"Apa yang kau inginkan, Darven?"
Darven ngangkat kedua tangan.
"Aku hanya mperingatkan. Pilihan ada di tanganmu."
Ia berbalik untuk pergi.
"Tunggu," seru Kaelen.
Pria itu noleh, satu alis terangkat.
"Jika kau tahu banyak tentang reka... maka kau tahu di mana harus mulai ncari reka."
Darven tersenyum samar.
"Carilah di tempat di mana abu lama belum sepenuhnya dingin."
Dan dengan itu, dia nghilang ke dalam kabut.
Di balai desa, reka berkumpul.
Alden ledak duluan.
"Ini jebakan! Kita baru saja ndapat dukungan Wellspring, dan sekarang mau ngejar bayangan?!"
Serina ngangguk setengah setuju.
"Kita belum siap. Orang-orang butuh stabilitas."
Lyra, bagaimanapun, berbicara pelan.
"Tapi kalau Ashen Dawn benar-benar ada... reka bisa nghancurkan kita sebelum kita siap."
Semua mata beralih ke Kaelen.
Ia duduk di ujung ja, natap peta yang terbentang.
Pikirannya berputar.
Keputusan ini bukan hanya tentang dia.
Ini tentang semua orang yang mpercayainya.
"Kita tak bisa duduk diam," katanya akhirnya. "Kita harus ncari reka... dan nghentikan reka sebelum reka nghentikan kita."
Suara itu tidak ngizinkan bantahan.
Saat malam turun, Kaelen berdiri di depan api unggun kecil bersama Lyra dan Serina.
reka ngikat perlengkapan, mpersiapkan perjalanan esok hari.
"Kau yakin ini bijaksana?" tanya Serina sambil ngencangkan sabuknya.
Kaelen mandang langit malam, bintang-bintang tersembunyi di balik awan gelap.
"Tidak," jawabnya jujur. "Tapi kadang, kita tidak diberi pilihan bijaksana."
Lyra tersenyum kecil, lemparkan kantung kecil ke arah Kaelen.
"Kalau begitu, setidaknya kita buat pilihan bodoh ini bersama."
Kaelen nangkap kantung itu—berisi rempah penyembuh dan secarik kain dari Wellspring, hadiah sederhana dari rakyat yang percaya pada reka.
Dalam hati, Kaelen berjanji:Apa pun yang terjadi, aku tidak akan mbiarkan harapan ini mati.
Tidak di tangan Ordo Cahaya.Tidak di tangan Ashen Dawn.Tidak di tangan siapa pun.
Reviews
All reviews (0)