Font Size
15px

Kabut tebal nyelimuti jalan berbatu saat rombongan kecil Kaelen ndekati Wellspring.

Dari kejauhan, desa itu tampak nyaris mistis—dikelilingi aliran sungai kecil dan pohon willow tua yang mbungkuk seperti penonton bisu.

Namun Kaelen tahu, keindahan itu hanya topeng.Di balik kabut, sesuatu ngintai.

"Wellspring terkenal karena airnya," gumam Alden, cah keheningan. "Tapi aku dengar air itu juga bisa berubah njadi racun... kalau tuan yang salah rintah."

Serina narik napas dalam-dalam, matanya waspada.

"Kita lihat saja siapa yang berkuasa di sini sekarang."

Kaelen mpercepat langkah.Waktu reka hampir habis.

Jika Wellspring jatuh ke tangan Ordo Cahaya, semua perjuangan ini akan sia-sia.

Tak seperti Greven, Wellspring tidak nutup diri.Saat reka ndekat, dua penjaga bertubuh kurus mbuka pintu gerbang kayu, wajah reka datar.

Seorang wanita paruh baya, ngenakan jubah hijau lembut, nyambut reka dengan senyum tipis.

"Selamat datang di Wellspring," katanya, suaranya tenang, hampir terlalu tenang.

Kaelen mperkenalkan diri dan tujuannya tanpa mbuang waktu.

Wanita itu ngangguk.

"Aku Marielle. Kepala Dewan Sentara."

"Sentara?" tanya Lyra, najamkan pendengarannya.

Marielle tersenyum pahit.

"Sejak dewan lama ’nghilang’, kami harus berimprovisasi."

Kaelen bertukar pandang dengan Serina.nghilang.Biasanya itu berarti dibunuh... atau dikhianati.

reka dibawa ke balai desa, ruangan sederhana dengan ja bundar besar di tengahnya.

Marielle ngajukan pertanyaan langsung:

"ngapa kami harus bergabung dengan kalian?"

Kaelen natap mata Marielle.Di balik ketenangannya, ia bisa lihat ketakutan.Bukan ketakutan akan reka... tapi ketakutan akan sesuatu yang lebih besar.

"Karena Ordo Cahaya tidak akan berhenti sampai semua desa tunduk," kata Kaelen perlahan. "Kalian boleh nunda pilihan... tapi reka akan datang."

Marielle nghela napas.

"Kami tahu itu. Tapi... kami juga tahu, ada pengkhianat di dalam desa ini."

Serina ncondongkan tubuh ke depan.

"Pengkhianat?"

Marielle ngangguk.

"Seseorang di antara kami diam-diam mberi informasi ke Ordo Cahaya. Kami tahu... tapi kami tidak tahu siapa."

Hening.

Lyra berbicara, suaranya dingin:

"Kalau begitu, sebelum kita bicara tentang aliansi... kita harus mbersihkan desa ini."

Malam itu, Kaelen mbagi tim njadi dua.Separuh berjaga di perbatasan desa. Separuh lainnya, termasuk dirinya, nyelidiki balai pertemuan, rumah-rumah penting, bahkan sumur pusat desa.

Suasana semakin tegang.

Orang-orang Wellspring mulai saling curiga.Bisikan kecurigaan berubah njadi kemarahan.

Seorang pria tua, Dren, ledak di pasar kecil.

"Itu pasti Elira! Dia satu-satunya yang suka nghilang malam-malam!"

Elira, wanita muda bertubuh kecil, mbalas dengan mata rah.

"Aku ncari obat untuk ibuku yang sakit! Bukan bersekongkol!"

Keributan semakin manas.

Kaelen akhirnya ngangkat tangan.

"Cukup!"

Suara itu nggelegar, mbungkam semua.

"Kalau kita mau selamat, kita harus berpikir. Bukan saling mbunuh."

Serina natap sekeliling.

"Kita kumpulkan semua kepala keluarga malam ini. Kita tanya reka satu per satu."

Saat malam turun dan semua kepala keluarga berkumpul di balai desa, Kaelen mimpin interogasi sederhana.

Satu demi satu, reka njawab.

Semuanya tampak normal... sampai seorang bocah kecil, berusia mungkin tujuh tahun, narik tangan Lyra dengan takut-takut.

"Aku lihat Paman Joren berbicara dengan orang asing... di tepi sungai," bisiknya.

Semua mata berbalik ke Joren—seorang pedagang rempah yang terkenal ramah.

Joren tertawa gugup.

"Anak kecil suka ngarang cerita..."

Tapi Kaelen sudah lihat cukup banyak pengkhianat untuk ngenali tanda-tandanya.

"Periksa rumahnya," perintah Kaelen.

Dalam hitungan nit, reka nemukan surat-surat tersembunyi di bawah lantai papan: korespondensi dengan agen Ordo Cahaya.

Joren ronta, berusaha kabur.Serina njatuhkannya dengan pukulan telak.

Kaelen berdiri di atasnya, napasnya berat.

"Berapa banyak yang sudah kau jual?"

Joren ludah ke tanah.

"Cukup untuk njatuhkan kalian semua."

Marielle nutup mulutnya, getar.

"Kalau dia sudah ngirimkan posisi kita—"

"Belum," potong Alden, yang kembali dari patroli. "Penghubungnya belum kembali."

Kaelen berbalik ke Joren.

"Mungkin kita masih punya waktu."

Mata Joren mbelalak saat Kaelen ngangkat pedangnya.

"Tunggu! Tunggu! Aku bisa bantu—"

Satu tebasan bersih ngakhiri kalimat itu.

Kaelen mbersihkan darah dari pedangnya tanpa ekspresi.

"Kita tidak tawar-nawar dengan pengkhianat."

Di pagi hari, Marielle berdiri di depan rakyat Wellspring.

"Dewan nyatakan Wellspring... bergabung dengan Kaelen Draven dan perjuangannya."

Sorak sorai kecil terdengar, ragu, tapi nyata.

Kaelen hanya ngangguk.

Ia tahu, jalan di depan masih panjang.

Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, reka tidak sendiri.

You are reading The Shattered Light Chapter 147: – Wellspring yang Membara on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.