Font Size
15px

Fajar baru nyingsing di langit kelabu saat Kaelen mimpin rombongan kecil keluar dari Verdan, ninggalkan tanah berdarah itu di belakang reka.

Hanya lima belas orang yang ikut kali ini—yang paling tangguh, paling setia. Sisanya diperintahkan bertahan di desa untuk mperkuat pertahanan.

Kaelen tahu, kalau ekspedisi ini gagal, tak ada lagi tempat untuk mundur.

Serina berjalan di sampingnya, ransel busurnya bergoyang perlahan.

"Berapa banyak desa yang kita tuju?" tanyanya sambil riksa tali busur.

Kaelen ngangkat tangan dan nunjuk ke barat daya.

"Tiga. Greven, Orlan, dan Wellspring."

"Tiga?" Alden yang berjalan di belakang ndengus. "Kita sudah hampir kehabisan orang, dan kau mau ndatangi TIGA desa sekaligus?"

Kaelen tidak noleh.

"Kita tidak punya kewahan untuk milih. Kita butuh sekutu... atau kita mati sendirian."

Hening sesaat.

Lalu, suara langkah kaki yang cepat nyusul reka.

Lyra, yang sempat berbicara dengan pengintai tadi, muncul sambil nghela napas.

"Ada kabar buruk," katanya, nghapus debu dari pipinya. "Orlan mungkin sudah jatuh ke tangan loyalis Elvior."

Serina ngumpat pelan.

"Itu berarti Greven atau Wellspring."

"Atau keduanya," kata Alden, natap kosong ke depan.

Kaelen remas gagang pedangnya.

Semua keputusan terasa seperti pisau bermata dua.Dan ia tahu, satu kesalahan bisa ngorbankan lebih banyak nyawa.

"Kita tetap ke sana," ucap Kaelen akhirnya. "Kalau itu perangkap... lebih baik kita tahu sekarang daripada nanti."

Greven ternyata lebih besar daripada yang reka duga. Dinding kayu lingkari desa, dengan nara-nara pengawas sederhana.Bendera putih dikibarkan—tanda netralitas.

Tapi Kaelen tidak begitu saja percaya.

Dia mberi isyarat, dan kelompoknya bergerak dalam formasi setengah lingkaran, nutupi semua sudut pandang.

Seorang pria paruh baya dengan jubah kusut keluar dari gerbang.

"Selamat datang... atau haruskah kukatakan, selamat datang, orang-orang buangan," katanya, dengan senyum licik.

Kaelen langkah maju.

"Kami tak cari musuh. Kami cari teman."

Pria itu, yang mperkenalkan diri sebagai Maric, ngangkat bahu.

"Dan teman mbawa beban. Apakah kalian mbawa makanan? Senjata? Perlindungan?"

Kaelen nahan napas.

"Kami mbawa harapan. Kesempatan mbangun dunia yang bebas dari tirani."

Tawa kering Maric mbelah udara.

"Harapan?" ejeknya. "Harapan tidak ngisi perut. Tidak nghentikan panah."

Lyra langkah maju, matanya mbakar.

"Kalau kalian tetap diam... Ordo Cahaya akan datang, cepat atau lambat. Dan saat itu terjadi, harapanlah satu-satunya yang bisa kalian pegang."

Beberapa orang di belakang Maric tampak ragu, berbisik satu sama lain.

Kaelen nyadari sesuatu: rakyat biasa lebih mudah digerakkan... tapi para pemimpinnya sudah tenggelam dalam rasa takut.

"Kalian punya waktu satu hari untuk mutuskan," kata Kaelen dingin. "Ikut kami... atau berdiri di jalan kami."

Ia mbalikkan badan tanpa nunggu jawaban.

Di perkemahan sentara di luar Greven, Kaelen duduk mbersihkan pedangnya.Serina ndekat, lemparkan sekantong buah beri ke tanah di sampingnya.

"Kau terlalu keras pada reka," katanya.

Kaelen ngangkat bahu.

"reka harus tahu taruhannya."

"reka bukan prajurit, Kaelen. reka petani, tukang besi, tukang roti. reka butuh sesuatu yang lebih nyata daripada kata-kata perang."

Kaelen ndesah, nyandarkan kepalanya ke batu besar.

"Apa yang nyata, Serina? Dunia ini sudah mbusuk sampai ke akarnya. Yang nyata adalah, jika kita tidak bertarung, kita lenyap."

Serina natapnya, matanya lembut.

"Yang nyata adalah, reka butuh alasan untuk mpercayaimu. Bukan hanya ketakutan."

Kaelen natap jauh ke arah Greven, di mana lentera-lentera mulai nyala.

Ia ngerti.Tapi untuk nyentuh hati orang-orang itu, ia harus nemukan bagian dirinya yang perlahan dilupakan: rasa percaya.

Saat bulan ncapai puncaknya, suara langkah kaki cepat mbangunkan Kaelen dari tidurnya.

Lyra berlari ke arahnya, wajahnya pucat.

"reka milih," katanya terengah-engah. "Greven akan bergabung... dengan syarat."

Kaelen berdiri, hatinya berdebar.

"Apa syaratnya?"

Lyra nelan ludah, tampak enggan bicara.

"reka ingin... kau nyerahkan Serina sebagai jaminan. Bukti bahwa kau tidak akan ngkhianati reka."

Suasana di perkemahan mbeku.

Serina yang baru bangun natap Kaelen, tak percaya.

"Apa?"

Kaelen ngepalkan tangan.

Pilihan di hadapannya mbakar dada: nyerahkan sahabat terdekatnya... atau kehilangan satu-satunya sekutu baru yang bisa reka dapatkan.

"Kau tahu jawabanku," gumam Serina, dingin.

Kaelen natap mata Serina.Ada banyak hal yang tidak pernah reka katakan satu sama lain. Tapi dalam tatapan itu, semua terasa jelas.

Ia tak akan ngkhianati satu-satunya keluarga yang tersisa.

"Kita cari sekutu di tempat lain," katanya akhirnya, suaranya tajam seperti bilah pedang.

Saat fajar berikutnya, rombongan Kaelen ninggalkan Greven.

Di belakang reka, gerbang desa ditutup rapat, dan lentera-lentera padam satu per satu, seolah nghapus jejak reka dari dunia.

Serina berjalan di samping Kaelen, bahunya tegak, walau luka tak terlihat nghantam hatinya.

"Terima kasih," bisik Serina lirih.

Kaelen natap ke depan.

"Aku tidak butuh jaminan lain selain kalian."

Dan di tengah dunia yang penuh pengkhianatan, satu-satunya hal yang masih bisa reka percayai... adalah satu sama lain.

You are reading The Shattered Light Chapter 146: – Mencari Sekutu yang Tersisa on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.