Angin dingin niup rerumputan liar ketika Kaelen mandang ke arah desa Verdan dari balik bukit berbatu.Dari kejauhan, desa itu tampak damai, nyala api kecil berkedip dari tungku-tungku rumah.
Tapi Kaelen tahu lebih baik daripada mpercayai ketenangan palsu.
Serina berdiri di sebelahnya, matanya nyipit saat mindai dan.
"Ada terlalu banyak penjaga," gumamnya. "Lebih dari yang seharusnya untuk desa kecil."
Alden bergumam, setengah tertawa.
"Atau reka tahu kita datang."
Kaelen ngangguk pelan.
"Kita tidak bisa nunggu. Kalau reka sempat ngirim pesan, desa-desa lain bisa bersiap."
Lyra ndekat, mbawa laporan cepat dari pengintai.
"Ada dua puluh lima orang bersenjata ringan. Mungkin lebih. Tapi... aku ndengar sesuatu yang aneh."
Kaelen noleh.
"Apa?"
Lyra nelan ludah.
"reka nyebut ’Tuan Elvior’."
Keheningan jatuh.
Nama itu seperti racun di udara.
Grandmaster Elvior.Ayah Lyra.Musuh terbesar reka.
"Dia ada di sini?" tanya Serina, nyaris berbisik.
"Tidak. reka hanya bilang ’atas perintah Elvior’," jawab Lyra, suaranya tegang.
Kaelen ngepalkan tinjunya.Ini lebih dari sekadar penyergapan kecil.Ini pesan: Elvior tahu reka ncoba mbangun dunia baru... dan dia berencana nghentikannya lebih awal.
reka berkumpul cepat di balik rerimbunan pohon.
Kaelen nunjuk peta kasar di tanah.
"Kita serang dari dua sisi. Alden dan kelompok kecil motong jalan keluar di timur. Aku dan Serina masuk dari barat."
"Aku?" tanya Lyra, alisnya terangkat.
Kaelen natapnya serius.
"Kau tetap di belakang. Komando cadangan. Jika kita gagal, kau yang harus bawa semua orang kembali ke desa."
Lyra tampak hendak mbantah, tapi akhirnya hanya ngangguk, rahangnya ngeras.
"Hati-hati," katanya pelan.
Kaelen tersenyum tipis.
"Selalu."
Ketika sinyal—suara burung hantu tiruan—berkumandang di udara, Kaelen berlari nuruni lereng bersama Serina dan sepuluh orang lainnya.
reka nerobos pagar kayu rapuh di sisi desa, nyerang penjaga pertama sebelum alarm bisa dibunyikan.
Serina lepaskan anak panah, numbangkan dua penjaga dalam satu napas.
Kaelen nebas satu lagi dengan pedangnya, gerakan bersih, cepat, dan kejam.
Teriakan pertama pecah.
Desa Verdan njadi dan pertempuran sekejap.
Di tengah kekacauan, Kaelen lihat sesuatu yang mbuat darahnya mbeku:Salah satu orang dari desa reka—Tarren, seorang pemuda yang dilatih oleh Alden—berbalik dan nyerang dari belakang, nikam salah satu prajurit Kaelen.
"Pengkhianat!" teriak Serina, lemparkan pisaunya.
Tapi sudah terlambat.Tarren larikan diri, mbawa serta gulungan peta lokasi desa-desa sekutu.
Kaelen ngumpat keras.
"Alden! Kejar dia!"
Alden dan dua orang lainnya segera berlari mbelah keributan, ngejar Tarren.
Sentara itu, Kaelen fokus nyelesaikan pertempuran.
Ia nebas, ngelak, mukul, runduk—gerakannya seperti tarian brutal yang didorong oleh kemarahan dan kebutuhan untuk bertahan.
Serina bertarung di sampingnya, cepat dan matikan.
"Kenapa selalu ada yang nghianati kita?" gumamnya marah sambil nghindari serangan lain.
Kaelen ngertakkan gigi.
"Karena dunia lama masih nancap dalam hati banyak orang."
Pada akhirnya, Verdan jatuh.
Para penjaga nyerah, sebagian besar penduduk asli larikan diri atau bersembunyi di dalam rumah reka.
Kaelen berdiri di tengah alun-alun kecil, napasnya berat, pedangnya neteskan darah.
Ia natap sekeliling: tanah dipenuhi mayat, darah ngalir perlahan di antara batu-batu.
Alden kembali dengan wajah suram.
"Tarren lolos. Kami kehilangan jejaknya di hutan."
Kaelen jamkan mata.
Kegagalan ini... akan mbawa konsekuensi besar.
"Berapa banyak yang kita kehilangan?" tanya Kaelen pelan.
Serina mbaca daftar cepat dari pengintai.
"Enam tewas. Delapan luka berat."
Kaelen ngangguk.Beban itu numpuk di pundaknya, berat, ngikis hatinya sedikit demi sedikit.
Di malam yang tenang, Kaelen duduk sendirian di tepi sungai kecil dekat desa yang baru reka rebut.
Lyra nemukannya di sana, mbawakan sekantong kecil air minum.
"Kau tidak bisa nyelamatkan semua orang, Kaelen," katanya pelan.
"Tapi aku ingin," jawab Kaelen, suaranya pecah.
Lyra duduk di sampingnya.
"Itu yang mbuatmu berbeda. Tapi itu juga yang akan nghancurkanmu kalau kau tidak hati-hati."
Kaelen natap air yang bergelombang.
"Tarren... aku ngajarinya gang pedang. Aku ngajarinya percaya. Dan dia—"
"Dia mbuat pilihannya," potong Lyra tegas. "Bukan kau."
Hening.
Angin malam berembus pelan, mbawa bau darah dan tanah basah.
Akhirnya, Kaelen berkata:
"Kita harus lebih kuat. Bukan hanya di dan perang. Tapi di dalam hati kita."
Lyra tersenyum pahit.
"Kalau begitu... mulai besok, kita latih bukan cuma tangan reka, tapi juga keyakinan reka."
Kaelen ngangguk perlahan.
Perang baru saja dimulai.Dan reka belum lihat yang terburuk.
Reviews
All reviews (0)