Pagi itu, udara di desa terasa berbeda—lebih berat, lebih padat dengan sesuatu yang tak kasat mata: keputusan besar yang ndekat.
Kaelen berdiri di tengah lapangan utama, di bawah langit yang diselimuti awan kelabu.Di depannya, para penduduk desa—pria, wanita, bahkan beberapa remaja—berkumpul, wajah-wajah reka campuran antara ketakutan dan tekad.
Serina berdiri di sisi kirinya, busur digantung santai di pundaknya.Alden di sisi kanan, tangan bertumpu pada gagang pedang.Lyra sedikit di belakang, matanya ngawasi kerumunan dengan cermat.
Kaelen narik napas panjang, lalu maju satu langkah.
"Kalian semua tahu kenapa kita di sini," katanya, suaranya bergema."Kita punya pilihan: bertahan di balik dinding rapuh ini... atau langkah keluar, nantang dunia yang berusaha mbunuh kita."
Beberapa orang bergumam pelan.Sebagian besar diam, nunggu.
Kaelen lanjutkan, lebih tegas:
"Aku tak akan berbohong. Kita akan nghadapi bahaya. Kita akan kehilangan orang yang kita cintai. Tapi jika kita diam... kita tetap akan hancur. Satu per satu."
Ia ngangkat pedangnya ke langit abu-abu.
"Aku milih bertarung. Aku milih mbangun dunia baru, dengan tangan kita sendiri. Siapa yang akan ikut?"
Sejenak, keheningan nyelimuti semuanya.
Lalu, perlahan, seorang pria bertubuh besar maju—namanya Gorvan, tukang kayu desa.
"Aku ikut."
Disusul seorang wanita tua, nahan getar di kakinya.
"Aku juga."
Dan seperti riak di permukaan air, satu demi satu orang maju.reka tak berteriak.reka tak ngangkat senjata.reka hanya berdiri—dan itu sudah cukup.
Di dalam balai desa yang sempit, Kaelen, Serina, Alden, dan Lyra duduk ngitari ja usang, bersama beberapa kepala keluarga dan mantan prajurit.
Peta kasar dunia terbentang di ja.
Kaelen ngetuk titik-titik tertentu dengan ujung pedangnya.
"Di sini," katanya nunjuk satu desa kecil, "Aredal. reka punya pejuang yang dulu mbelot dari Ordo Cahaya."
"Tapi reka dibenci oleh desa sekitar," kontar Serina.
"Kita butuh reka," kata Kaelen. "reka tahu cara bertahan."
Ia ngetuk titik lain.
"Ini, Verdan. Banyak keluarga pengungsi. reka bisa mperkuat angka kita."
"reka bukan prajurit," gumam Alden.
"Bukan... tapi semangat reka bisa dibentuk," jawab Kaelen.
Lyra nunjuk ke selatan.
"Dan di sini, Marrow Vale. Desa ini... rumornya, masih setia pada sisa-sisa Ordo Cahaya."
Ruangan njadi sunyi.
Semua tahu: sebelum dunia baru lahir, darah harus kembali tumpah.
Kaelen natap semua yang ada di ruangan itu.
"Kita tak akan nyerang orang yang tak bersalah. Tapi siapa pun yang ngangkat senjata untuk nindas... kita hadapi reka."
Hari-hari berikutnya, desa berubah njadi sarang aktivitas.
Serina latih para penduduk dalam teknik bertarung dasar—gang busur, mbentuk formasi bertahan, nyiapkan jebakan sederhana.
Alden latih kelompok kecil untuk penyergapan cepat dan strategi hutan.
Lyra bekerja tanpa lelah mbangun jaringan informasi kecil, ngirim pengintai ke desa-desa sekitar untuk ncari tahu siapa teman dan siapa musuh.
Kaelen... Kaelen mbagi dirinya di antara semuanya, mimpin, nguatkan, dan di malam hari, duduk sendirian di puncak bukit, renungi beban yang semakin berat di pundaknya.
Suatu malam, ketika bintang-bintang nggantung rendah di langit, Lyra nemukannya di sana.
"Kau tak tidur lagi," katanya sambil duduk di sampingnya.
"Terlalu banyak pikiran," jawab Kaelen, suaranya serak.
Lyra mandangnya lama, sebelum akhirnya bertanya:
"Apa kau takut, Kaelen?"
Ia terdiam lama sebelum njawab.
"Lebih dari yang bisa kubilang."
"Tak apa-apa," bisik Lyra. "Aku juga."
Kaelen nghela napas, natap jauh ke cakrawala.
"Aku takut... aku akan njadi seperti reka. ngorbankan apa yang aku perjuangkan, demi kenangan."
Lyra naruh tangannya di atas tangan Kaelen.
"Kau sudah berbeda. Karena kau bertanya. Karena kau peduli."
Ia noleh, bertemu mata Lyra.
Ada keheningan yang dalam di antara reka—bukan keheningan kosong, tapi keheningan penuh makna.Keheningan yang ngandung harapan... dan ketakutan.
"Jangan kehilangan hatimu, Kaelen," kata Lyra pelan. "Tanpa itu... semua ini tak ada artinya."
Saat fajar pertama nyentuh desa, Kaelen berdiri di gerbang kayu sederhana.
Di belakangnya, puluhan orang bersenjata seadanya berdiri tegak.
Serina di sebelah kiri, Alden di sebelah kanan, Lyra di belakangnya.
reka bukan tentara.reka bukan pahlawan.
reka hanyalah orang-orang biasa... yang nolak tunduk.
Kaelen narik napas dalam-dalam.
Hari ini reka langkah.
Hari ini reka nulis awal dari dunia baru—dengan darah dan tekad.
Reviews
All reviews (0)