Kabut hitam nggantung di atas Benteng Eridros. Angin kering mbawa aroma besi dan tanah terbakar. Pasukan Kegelapan berbaris diam di lereng curam, mata reka natap ke arah barisan terakhir Ordo Cahaya.
Di atas batu karang yang tinggi, Kaelen berdiri, jubah perangnya robek di beberapa bagian, wajahnya tertutup bayangan. Di sisinya, Lyra mbisu, tombaknya digenggam erat. Sejak matahari terbit, dia belum berkata sepatah kata pun.
"Pasukan siaga penuh," Alden muncul dari balik bebatuan. "reka tidak akan bertahan malam ini."
Kaelen natap ke bawah. Ribuan prajurit berdiri dengan pedang terhunus. Tapi di matanya, tak ada semangat. Hanya kehampaan.
"Apa kau masih ingat alasan kita bertarung, Kaelen?" tanya Lyra akhirnya, suaranya pelan tapi nusuk.
"Aku tak tahu lagi," bisik Kaelen. "Kadang aku berpikir... kita hanya jadi cermin dari kebencian yang dulu ingin kita lenyapkan."
Lyra noleh. Tatapannya tajam. "Kau tidak boleh bicara seperti itu."
"Aku tak lagi ingat wajah ibuku. Namanya pun samar." Ia natap langit. "Mungkin setelah ini, aku akan lupakanmu juga."
Diam.
Alden nunduk, tahu ini bukan tempatnya bicara. Tapi Lyra langkah maju, ndekat.
"Kau tidak akan lupa aku, Kaelen. Bukan karena aku penting. Tapi karena aku adalah saksi semua yang telah kau korbankan. Aku bagian dari luka yang kau bawa."
Kaelen noleh. Matanya rah, tapi tidak karena emosi. Karena kekuatan dalam dirinya kembali bangkit—liar, tanpa kendali.
Di benteng Ordo Cahaya, Grandmaster Elvior berdiri di depan peta dan. Proyeksi cahaya nyorot garis serangan Kaelen.
"reka akan nekan dari tiga arah. Tapi pusatnya tetap di barisan barat—Kaelen sendiri akan mimpin," ujar seorang taktis.
Eryon berdiri di belakang, tenang, tapi matanya kelam.
"Kau yakin ingin ke sana?" tanya Elvior padanya. "Dia bukan lagi anak yang kau latih."
Eryon tersenyum hambar. "Justru karena itu aku harus pergi. Kalau bukan aku yang ngakhirinya... siapa lagi?"
Serangan dimulai. Malam njerit dalam kobaran sihir. Kaelen nerjang benteng, nciptakan celah besar di dinding pertahanan. Setiap ayunan pedangnya nghancurkan satu regu lawan. Tapi dalam tiap dentuman, wajah-wajah masa lalu nghantuinya.
Serina, Lyra, Varrok—semuanya datang silih berganti dalam pikirannya yang mulai retak.
Dan saat Lyra njerit namanya—benar-benar njerit, bukan perintah atau taktik perang—Kaelen lepaskan kekuatan penuhnya.
Langit pecah. Pusaran energi ngangkat tubuhnya ke udara. Mata Kaelen mutih. Seluruh tubuhnya nyala.
"Apa itu Kaelen?" tanya salah satu prajurit dengan suara getar.
"Dia bukan Kaelen lagi... dia jadi sesuatu yang lain..." jawab Alden dengan pelan.
Lyra berlari ke arah cahaya, nerobos dan yang terbakar.
"KAELEN!" teriaknya. "KAU JANJI PADAKU—TIDAK AKAN HILANG!"
Namun Kaelen tak ndengar.
Dari reruntuhan gerbang, langkah kaki ndekat.
Eryon muncul. Tanpa senjata. Hanya jubah perang lusuh dan mata yang tajam.
"Turunlah, Kaelen," ucapnya.
Suara itu nembus kabut energi.
Kaelen berhenti layang.
"Aku... kenal kau..."
"Ya. Aku gurumu. Temanmu. Dan kalau kau terus seperti ini... satu-satunya orang yang mungkin harus mbunuhmu."
Kilatan energi berguncang.
"Aku tak mau lupakan lagi," lirih Kaelen.
"Kalau begitu, ingat rasa sakit ini. Ingat kehilanganmu. Dan jangan biarkan kekuatan itu ngambil semuanya."
Satu denyut cahaya besar ledak. Kaelen jatuh.
Tubuhnya terbanting di tanah. Tak bergerak.
Lyra sampai di sampingnya, lututnya berdarah, tapi ia raih wajah Kaelen dan natapnya erat.
"Aku masih di sini," bisiknya.
Kaelen mbuka mata perlahan. Pandangannya kabur. Tapi suara Lyra... tetap sama seperti dulu.
"Aku... aku ingat sesuatu..." katanya pelan.
"Apa?"
"Suara hujan. Di desa dulu. Kau tertawa sambil berdiri di bawahnya."
Lyra nangis—senyum dan tangis bersatu.
Di kejauhan, Eryon natap langit yang mulai jernih. “Masih ada harapan.”
Reviews
All reviews (0)