Font Size
15px

fɾēewebnσveℓ

Fajar nyingsing dengan lambat di atas puing-puing dunia lama.

Di halaman tengah desa baru reka, Kaelen duduk sendirian di atas balok kayu, mandangi langit yang berwarna oranye pucat. Jemarinya nggenggam secangkir logam berisi teh hangat, tapi minuman itu sudah dingin sejak lama.

Lyra berjalan pelan nghampirinya, mbawa dua potong roti kering.

"Pagi," sapanya sambil duduk di samping Kaelen.

Kaelen hanya ngangguk pelan, matanya masih terpaku pada horizon.

"Kau belum tidur lagi?" tanya Lyra, nawarkan sepotong roti yang diterima Kaelen tanpa banyak kata.

"Aku takut kalau aku nutup mata..." Kaelen nggantungkan kalimatnya, lalu nggeleng. "Aku akan ndengar reka lagi. Teriakan itu."

Lyra diam sejenak sebelum berkata,

"Kau nyelamatkan banyak jiwa, Kaelen. Jangan biarkan bayangan reka mbunuhmu pelan-pelan."

Kaelen noleh padanya, senyum kecil yang hampir tidak terlihat tersungging di bibirnya.

"Sulit untuk nghapus darah dari tangan sendiri."

Tak lama kemudian, suara lonceng tua berdering dari nara pengawas. Tanda pertemuan darurat.

Serina dan Alden sudah nunggu di balai pertemuan ketika Kaelen dan Lyra tiba.

"Ada masalah," kata Serina langsung, tanpa basa-basi.

Alden ngangguk, wajahnya kusut.

"Beberapa orang yang kita selamatkan dari gua... reka nghilang semalam."

Kaelen ngerutkan kening.

"nghilang? Bagaimana bisa? Kita sudah pasang penjaga di setiap sudut."

Serina letakkan sebuah benda di atas ja — sepotong kain robek dengan simbol aneh terukir dengan darah kering.

"Kami nemukan ini di luar pagar. Ini bukan kerja orang luar."

Lyra natap potongan kain itu dengan ketakutan yang tumbuh di matanya.

"Kau pikir reka... kembali ke Voren? Atau sesuatu... ngendalikan reka lagi?"

Kaelen natap kain itu dalam-dalam.

Ada sesuatu yang lebih besar bermain di sini.

Sesuatu yang belum reka pahami.

Malam itu, reka berkumpul di rumah tua yang reka gunakan sebagai pusat komando.

Peta desa terbentang di atas ja, bercahaya di bawah cahaya lentera yang berkelip.

Alden nggeram.

"Kalau kita mbiarkan ini berlanjut, kita akan punya pemberontakan dari dalam."

Serina nambahkan, suaranya rendah.

"Orang-orang ketakutan. reka berpikir kegelapan sudah berlalu, dan sekarang... ini."

Lyra natap Kaelen.

"Kita perlu bertindak sebelum ketakutan berubah jadi kekacauan."

Kaelen berdiri, tangan terkepal di sisi tubuhnya.

"Kita cari reka. Kita bawa reka kembali. Hidup—kalau bisa. Tapi kita tidak mbiarkan penyakit ini nyebar."

"Setuju," sahut Serina.

"Akhirnya," kata Alden sambil tersenyum kecut. "Sesuatu yang sederhana."

Malam berikutnya, Kaelen dan Lyra nelusuri jalanan desa dengan langkah hati-hati. Serina dan Alden bergerak di sisi berlawanan.

Angin malam nderu pelan di antara rumah-rumah kayu.

Tiba-tiba, Lyra narik lengan Kaelen.

"Lihat!"

Di ujung gang sempit, bayangan bergerak cepat.

Tanpa pikir panjang, reka ngejar.

Kaelen lompat ke depan, ngepung sosok itu di lorong buntu.

Seorang pria muda, salah satu yang reka selamatkan dari gua.

Tubuhnya kurus, matanya kosong, tapi di matanya... ada sesuatu yang lain.

Kebencian murni.

"Tolong," bisik Lyra, maju satu langkah. "Kami tidak ingin nyakitimu."

Pria itu tertawa pelan, tawa yang mbuat bulu kuduk Kaelen berdiri.

"Terlambat... terlalu terlambat..."

Kaelen ngangkat tangan.

"Apa maksudmu?"

Pria itu hanya tersenyum — lalu tanpa peringatan, nusukkan belati ke dadanya sendiri.

Lyra berteriak, berlari ke arahnya, tapi sudah terlambat.

Pria itu ambruk di kaki reka, darah nggenang cepat di tanah berbatu.

Serina dan Alden tiba terlambat.

Kaelen berlutut di sisi tubuh dingin itu, wajahnya keras.

Di dalam genggaman kaku si pria, ada secarik kertas lusuh.

Dengan hati-hati, Kaelen ngambilnya dan mbaca dengan lantang.

"Kegelapan bukan hanya di luar sana. Ia hidup dalam kita. mbusuk dalam bisikan yang kalian abaikan."

Alden ngumpat rendah.

"Apa maksudnya?"

Kaelen natap kosong ke depan.

"Ini bukan tentang Voren lagi. Ini tentang ide yang ia tanam."

Serina narik napas tajam.

"Ada lebih banyak di antara kita... yang sudah terinfeksi."

Lyra luk dirinya sendiri, nggigil bukan karena dingin, tapi ketakutan.

"Bagaimana kita lawan sesuatu yang tidak punya wajah?"

Kaelen berdiri, nggenggam surat itu erat.

"Kita harus temukan sumbernya. Hancurkan akarnya. Sebelum racunnya mbunuh kita dari dalam."

Saat reka kembali ke balai pertemuan, langkah reka berat.

Mata-mata ketakutan ngawasi reka dari jendela yang setengah terbuka.

Bayangan lintasi dinding.

Dan Kaelen tahu, dalam hatinya, ini baru permulaan.

Fajar mungkin sudah datang.

Tapi bayangan... selalu ada.

ngintai.

nunggu.

You are reading The Shattered Light Chapter 137: – Bayangan di Balik Fajar on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Warlock Apprentice cover
Similar genre

Warlock Apprentice

牧狐 ·Fantasy

Thestatusofawizardistranscendentinallcontinentsandintheuniversalplane. Mysterious,wise,cruelandbloodthirstyaresynonymouswithwizards.Butwhatdoesarea...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.