Ledakan cahaya dan bayangan nuhi ruangan batu.
Kaelen nebas makhluk-makhluk itu satu per satu, tetapi rasanya seperti ncoba nghentikan badai dengan tangan kosong. reka terus berdatangan—bayangan bertubuh manusia, mata kosong tanpa jiwa.
Serina, dengan busurnya, bergerak cepat, anak panah lesat dari jarak dekat. Alden ngayunkan perisainya, njatuhkan dua makhluk sekaligus, sentara Lyra bertarung dengan cepat dan efektif, belatinya berkilau di antara kegelapan.
"reka... reka dulunya manusia!" teriak Lyra, suaranya penuh kengerian.
Kaelen nggertakkan gigi, nyadari kebenaran pahit itu. Dalam setiap serangan, ia bisa rasakan sisa-sisa rasa sakit, rasa takut, dan kebencian yang mbalut tubuh para makhluk itu.
reka bukan sekadar musuh.
reka adalah korban.
Di tengah kekacauan itu, Voren berdiri di atas pilar batu, kedua tangannya terangkat tinggi, ngendalikan makhluk-makhluk itu dengan seutas benang tak kasatmata.
"Lihatlah apa yang kalian perjuangkan!" seru Voren, suaranya bergema di dinding gua. "Kelemahan! Air mata! Ketakutan!"
Kaelen langkah maju, ngayunkan pedangnya dan mbuka jalan nuju pilar.
"Ini bukan kekuatan," jawab Kaelen keras. "Ini teror yang kau bungkus dengan dusta!"
Serina nembakkan dua anak panah berturut-turut, maksa Voren mundur sedikit dari pijakannya. Alden dan Lyra lindungi Kaelen, nahan serangan makhluk-makhluk yang ngamuk.
Kaelen ncapai dasar pilar dan ndongak.
"Turun dan bertarung, Voren!" tantangnya.
Voren hanya tertawa, suara yang penuh dengan kegilaan.
"Aku sudah lampaui kebutuhan tubuh ini," katanya, matanya bersinar. "Kau tidak bisa mbunuh ide!"
Kaelen rasakan energi gelap yang berdenyut dari Voren, ngikat makhluk-makhluk itu seperti boneka.
"Jika kita nghancurkan Voren," gumam Lyra di sebelah Kaelen, "apa yang terjadi pada reka?"
Kaelen natap makhluk-makhluk itu — beberapa di antaranya kini bergerak lebih lambat, seolah-olah tersiksa oleh konflik dalam jiwa reka sendiri.
Serina nambahkan dengan suara berat,
"Kalau kita tidak bertindak, reka akan mbantai seluruh desa."
Alden, darah ngalir dari luka di dahinya, nggenggam erat perisainya.
"Tidak ada pilihan mudah di sini, Kaelen."
Kaelen ngepalkan tinjunya.
Bunuh Voren — dan mungkin mbebaskan reka dengan kematian.
Biarkan Voren hidup — dan mbiarkan kebencian ini nyebar.
Kaelen ngangkat wajahnya, natap Voren yang nunggu di atas pilar dengan senyum puas.
"Aku tidak akan mbiarkanmu mpermainkan hidup reka lagi," katanya.
Kaelen nghunus pedangnya, mbiarkan energi bayangan ngalir ke bilahnya, tidak untuk nghancurkan... tapi untuk mbebaskan.
Serina ngerutkan alis.
"Apa yang kau lakukan?"
Kaelen tersenyum kecil.
"Aku ncoba sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya."
Lyra liriknya cemas.
"Kaelen—"
"Percaya padaku," katanya singkat.
Kaelen lompat, nyalurkan semua energinya ke satu tebasan besar.
Bukan ke Voren.
Tetapi ke benang tak kasatmata yang nghubungkan Voren ke makhluk-makhluk itu.
Kilatan bayangan dan cahaya ngalir sepanjang pilar.
Voren njerit marah saat benang-benang itu putus satu per satu.
Makhluk-makhluk itu terhuyung, seperti bangun dari mimpi buruk.
Beberapa jatuh ke lutut reka, tubuh reka bergetar.
Yang lain... mandang ke sekeliling dengan mata penuh kebingungan, ketakutan, dan kesakitan.
Voren raung, tubuhnya getar saat kehilangan kendali.
Kaelen ndarat di depan pilar, napasnya berat, tubuhnya getar karena kelelahan.
Voren lompat turun, ngayunkan pedang gelap.
Pertarungan singkat, brutal.
Kaelen hampir kehilangan pegangan saat Voren ndorongnya mundur. Tapi di saat terakhir, Serina nembakkan panah yang ngenai lutut Voren.
Alden ndekat dari sisi lain, nghantam Voren dengan perisainya.
Dan Kaelen, dengan satu serangan terakhir, nusukkan pedangnya ke dada Voren.
Voren terhuyung, matanya lebar karena terkejut.
"Dunia ini... tidak akan pernah... bebas..." bisiknya sebelum akhirnya terjatuh.
Keheningan nyelimuti ruangan.
Kaelen jatuh berlutut, tubuhnya lelah lampaui batas.
Lyra berlari ke sisinya, mbantunya berdiri.
Alden dan Serina ngawasi makhluk-makhluk yang tersisa—sebagian besar kini duduk dengan linglung, beberapa nangis, yang lain hanya bergumam kosong.
"Apa yang kita lakukan dengan reka?" tanya Alden pelan.
Kaelen natap reka, matanya berat.
"Kita bantu reka. Kita rawat reka. reka korban... bukan monster."
Serina nghela napas panjang, letakkan busurnya.
"Kita benar-benar mutus siklus ini, bukan?"
Kaelen ngangguk, ski dalam hatinya, ia tahu perjalanan reka masih panjang.
Sangat panjang.
Saat reka berjalan keluar dari gua, fajar mulai nyingsing, warnai langit dengan rah dan emas.
Kaelen berhenti sejenak, mandang cahaya yang nerobos kabut.
Di sampingnya, Lyra raih tangannya.
Serina dan Alden berjalan di depan, bahu reka sedikit lebih ringan.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Kaelen rasa bahwa mungkin... hanya mungkin... dunia ini layak diperjuangkan.
Dan ia akan berjuang untuk itu.
Apa pun harganya.
Reviews
All reviews (0)