Angin dingin mbawa bau logam yang samar — darah, dan sesuatu yang lebih tua, lebih busuk.
Kaelen berdiri di mulut gua gelap di sisi utara lembah, tubuhnya tegang. Di belakangnya, Serina, Lyra, dan Alden bersiap dengan senjata di tangan.
Tak ada yang bicara.
reka semua rasakan hal yang sama.
Sesuatu di dalam gua itu... salah.
"Kita harus masuk," kata Kaelen, suaranya datar, hampir tak bergetar.
Serina narik napas dalam, letakkan anak panah di busurnya.
"Kalau ini jebakan, aku ingin mati tahu siapa yang lakukannya."
Alden nepuk pundaknya.
"Selama aku bisa mati sambil matahkan hidung seseorang, aku siap."
Lyra hanya ngangguk pada Kaelen, kepercayaan terpancar dari matanya.
Tanpa kata lagi, reka masuk ke dalam.
Gua itu dingin, gelap, dan sempit. Dinding-dinding batu basah dan berlumut, nghamburkan bau apek yang nusuk hidung.
Setiap langkah bergema seperti ketukan drum perang yang semakin cepat.
Tak butuh waktu lama sebelum reka nemukannya.
Mayat-mayat.
Tergantung di dinding dengan tali kasar, tubuh reka dipenuhi tanda-tanda mutilasi brutal. Beberapa wajah masih nyimpan ekspresi ketakutan yang mbekas, mbeku di detik terakhir hidup reka.
Lyra nutup mulutnya, nahan mual.
Alden bergumam pelan.
"Apa-apaan ini...?"
Kaelen berjalan ndekat, nahan dorongan untuk berpaling.
Ia ngenali beberapa dari reka.
Orang-orang dari desa-desa sekitar.
Beberapa adalah teman seperjuangan reka.
"Ini pesan," kata Kaelen, suaranya serak.
Serina ndekat, riksa simbol-simbol yang tergores di dinding batu, nggunakan darah sebagai tinta.
"Ini mantra kuno," gumamnya. "Pemanggilan... atau pengikatan."
Lyra natapnya dengan ngeri.
"reka ncoba manggil sesuatu?"
Kaelen nggeleng, wajahnya muram.
"Bukan manggil. reka mbangkitkan kebencian itu sendiri."
reka berkumpul dalam lingkaran kecil, jauh dari pandangan mayat-mayat.
Alden nggosok wajahnya, frustrasi.
"Kita berhadapan bukan hanya dengan orang gila, tapi fanatik yang ngubah kebencian njadi senjata."
Serina narik peta kasar dari sakunya.
"Kalau reka berhasil mbangkitkan sesuatu di sini... desa-desa lain akan njadi korban berikutnya."
Lyra natap Kaelen, suaranya pelan.
"Apa kita cukup kuat untuk nghentikan ini?"
Kaelen natap kegelapan gua di hadapan reka, rahangnya ngeras.
"Aku tidak tahu," katanya jujur. "Tapi kita tidak punya pilihan."
reka nemukan jejak lain—tetesan darah kering yang mbentuk jalur samar lebih dalam ke dalam gua.
Tanpa ragu, Kaelen mimpin.
Langkah demi langkah.
Semakin dalam reka masuk, semakin dingin udara, seolah-olah gua itu sendiri nolak kehadiran reka.
Di suatu titik, suara—seperti bisikan ribuan lidah—mulai terdengar.
Serina ncengkeram busurnya erat.
"Aku benci suara itu."
Alden berbisik.
"Kalau suara itu mulai berbicara tentang dosa-dosaku, aku keluar."
Lyra tersenyum kecil ski ketakutan nggenggam hatinya.
"Kalau begitu, kau yang paling dulu ketahuan."
reka sampai di ruangan besar, dengan pilar-pilar alami batu njulang di sekelilingnya.
Di tengah ruangan, seorang pria berdiri.
Bajunya robek dan bernoda darah, tapi matanya... matanya bersinar dengan kegilaan yang dingin.
Kaelen ngenalnya.
"Master Voren," bisiknya.
Serina tersentak.
"Dia... seharusnya mati di Perang Ketiga."
Voren tersenyum tipis.
"Mati? Tidak, Kaelen Draven. Aku hanya... berubah."
Kaelen maju, pedangnya terhunus.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Voren mbuka kedua tangannya, seolah nyambut reka.
"mbangun dunia baru. Dunia yang tidak muja kekuatanmu. Dunia yang hanya ngenal satu hukum: kelangsungan hidup yang terkuat."
Lyra ngangkat suaranya.
"Dengan mbunuh orang-orang tak bersalah?"
Voren noleh padanya, suaranya lembut namun kejam.
"reka lemah. reka tidak pantas."
Kaelen ngeram.
"Kalau begitu kita datang untuk ngingatkanmu... bahwa masih ada orang yang berjuang untuk lebih dari sekadar kekuasaan."
Voren tertawa—dan dari kegelapan, makhluk-makhluk lain muncul.
Bukan manusia.
Bukan sepenuhnya makhluk hidup.
reka adalah hasil eksperin Voren—ciptaan dari darah dan kebencian, wujud fisik dari rasa benci itu sendiri.
Kaelen ngangkat pedangnya.
"Bersiap."
Serina narik tali busurnya, mata fokus.
Alden ngangkat perisai, tubuhnya negang.
Lyra narik belati dari ikat pinggangnya, berdiri di sisi Kaelen.
"Bersama," kata Kaelen. "Apa pun yang terjadi."
"Bersama," sahut reka hampir serempak.
Dan saat makhluk-makhluk itu nyerbu ke arah reka, di tengah gelap dan darah... reka bertarung.
Bukan hanya untuk bertahan hidup.
Tapi untuk mastikan dunia baru yang reka bangun tidak dilenyapkan sebelum sempat bernapas.
Reviews
All reviews (0)