Udara pagi masih dingin saat Kaelen, Serina, Lyra, dan Alden berkumpul di tepi hutan hitam yang ngelilingi desa baru reka. Kabut tipis layang di atas tanah, mbuat bayang-bayang pepohonan terlihat lebih panjang dan ngancam.
Kaelen narik tudung mantelnya, matanya ngamati sekeliling dengan waspada.
"reka di luar sana," katanya pelan. "ngamati. nunggu."
Serina nyesuaikan busurnya di punggung.
"Kita akan mbuat reka berhenti nunggu."
Lyra natap Kaelen, lalu pada hutan yang mbentang di depan reka.
"Kalau kita masuk terlalu dalam tanpa rencana, kita justru njadi mangsa."
Alden nyeringai, ski matanya tetap siaga.
"Aku lebih suka jadi pemburu daripada buruan."
Di balik gubuk tua yang reka pakai sebagai markas darurat, Kaelen nggelar peta lusuh di atas ja kayu.
"Ini jalur patroli biasa," katanya, nunjuk garis rah yang ia gambar. "Dan ini... tempat reka paling sering nghilang."
Serina ngernyit.
"Daerah berbatu di sebelah barat. Banyak gua. Tempat sempurna untuk bersembunyi."
Lyra letakkan jarinya di satu titik.
"Kita pancing reka ke sini," katanya. "Tanahnya lebih terbuka. Kita bisa kendalikan pertempuran."
Kaelen ngangguk.
"Kita perlu mbuat reka percaya bahwa kita rentan."
Alden tertawa pendek.
"Akhir-akhir ini kita mang kelihatan cukup berantakan."
Serina nyikutnya ringan.
"Itu bukan pujian."
Malam itu, dengan hanya rembulan sebagai saksi, reka bergerak.
Kaelen dan Alden berpura-pura berpatroli, berjalan dengan langkah berat, seolah lelah dan tidak siap. Sentara itu, Serina dan Lyra bersembunyi di semak-semak, busur siap di tangan.
Suara ranting patah mbuat Kaelen nghentikan langkah.
Alden berbisik.
"Ada yang ngikuti."
Kaelen ngangguk pelan, nggenggam pedangnya lebih erat.
Dari kegelapan, tiga sosok berkerudung muncul. Langkah reka nyaris tanpa suara, seperti bayangan.
"Sekarang," desis Kaelen.
Panah pertama lesat dari kegelapan—ngenai satu musuh tepat di bahu, mbuatnya terhuyung.
Sebelum yang lain sempat bereaksi, Kaelen dan Alden sudah bergerak.
Alden nghantam salah satu musuh dengan perisainya, njatuhkan pria itu ke tanah.
Kaelen berhadapan dengan yang ketiga—gerakannya cepat dan terlatih, tapi Kaelen lebih cepat.
Pedangnya nangkis serangan belati musuh, lalu nekuk pergelangan tangan lawannya hingga pria itu njatuhkan senjata.
"Siapa kau?" gertak Kaelen.
Musuh itu hanya natapnya dengan mata penuh kebencian.
Serina ndekat, ujung anak panahnya ngarah ke dada pria itu.
"Jawab. Atau aku buat kau bicara."
Pria itu nggeram.
"Kami... bayangan dari dunia lama. Dan kalian... akan jatuh, seperti semua yang ncoba lawan arus takdir."
Lyra ndekat, keningnya berkerut.
"Siapa yang mimpin kalian?"
Pria itu tersenyum miring.
"Kami tidak punya pemimpin. Hanya kepercayaan. Kau tak bisa mbunuh kepercayaan."
Kaelen rasakan bulu kuduknya berdiri.
Ini bukan sekadar faksi yang tersisa.
Ini ideologi.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
reka ngikat para tahanan, mbawanya kembali ke desa.
Dalam interogasi yang panjang di bawah pondok kosong, reka ngetahui lebih banyak.
"reka bukan hanya sisa Ordo Cahaya," kata Lyra sambil mbolak-balik catatan yang diambil dari salah satu tahanan. "reka... anak-anak baru. Generasi yang dibesarkan di reruntuhan kita. Dipenuhi kebencian."
Kaelen natap api unggun kecil di depan reka, pikirannya berat.
"Kita nghancurkan nara reka," gumamnya. "Tapi kita juga mbangun rasa haus balas dendam."
Serina, duduk di sudut, ngangguk pelan.
"Siklus kebencian. Kita korban dan pelaku dalam satu waktu."
Alden ndengus.
"Jadi apa kita hanya duduk diam dan mbiarkan reka nggigit kita satu per satu?"
Kaelen ngangkat kepalanya, tatapannya tajam.
"Tidak. Tapi kita juga tidak njadi monster yang reka kira."
Keesokan paginya, Kaelen berbicara di depan seluruh desa.
"Ada bahaya di luar sana," katanya keras. "Dan tidak semua dari reka akan nyerang dengan pedang. Beberapa akan nyusup. mbisikkan keraguan. cah kita dari dalam."
Penduduk saling bertukar pandang, cemas.
Kaelen lanjutkan.
"Kita tidak lawan reka hanya dengan kekuatan. Kita lawan reka dengan kebenaran. Dengan komunitas. Dengan mbangun sesuatu yang tidak bisa dihancurkan hanya dengan kebencian."
Serina berdiri di sampingnya, matanya berkilat.
"Kalau reka ingin nghancurkan kita," katanya lantang, "biarkan reka lihat bahwa yang kita bangun... lebih kuat dari rasa takut reka."
Sorakan kecil nggema.
Masih rapuh. Tapi nyata.
Saat malam turun, Kaelen, Lyra, Serina, dan Alden berkumpul sekali lagi.
reka tahu: musuh tidak akan berhenti.
Tapi kali ini, reka siap.
"Ini bukan perang singkat," kata Kaelen.
"Bukan," sahut Lyra, nggenggam tangannya. "Tapi kita sudah milih jalan ini."
Serina ngangkat busurnya.
"Kalau perlu, aku akan mburu reka ke ujung dunia."
Alden terkekeh.
"Bahkan ke neraka sekalipun."
Kaelen tersenyum kecil.
"Kalau begitu, mari kita mulai berburu."
Dan dengan langkah mantap, reka langkah ke dalam bayang-bayang, siap nghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
Tapi kali ini... reka tidak takut lagi.
Reviews
All reviews (0)