Hembusan angin musim gugur mbawa aroma tanah basah dan kayu terbakar saat Kaelen berdiri di tepi tebing kecil, natap jauh ke lembah tempat desa baru mulai tumbuh perlahan.
Rumah-rumah kayu sederhana, tenda-tenda penuh warna, dan suara tawa anak-anak nggema di kejauhan—tanda-tanda pertama dari dunia yang reka perjuangkan dengan darah dan air mata.
Namun di balik keindahan itu, Kaelen rasa ada sesuatu yang bergolak di bawah permukaan. Sesuatu yang belum selesai.
Serina muncul di sampingnya, berjalan dengan pincang ringan, tongkatnya nusuk tanah berbatu.
"reka mbangun lebih cepat dari yang kuduga," katanya, natap lembah. "Aku kira aku akan terharu... tapi malah rasa gelisah."
Kaelen ngangguk.
"Aku juga."
Serina nyipitkan mata.
"Ada sesuatu yang kau rasakan?"
Kaelen narik napas dalam-dalam sebelum njawab.
"Bayangan masa lalu. Seperti... sesuatu yang belum selesai."
Serina tidak nertawakan firasat itu.
Ia tahu lebih dari siapa pun bahwa insting Kaelen jarang salah.
Malam itu, saat api unggun dinyalakan dan para penduduk baru rayakan keberhasilan pertama reka, Lyra ndekati Kaelen.
"Ada seseorang yang ncari kau," katanya, nada suaranya hati-hati.
"Siapa?"
Lyra nggigit bibirnya sejenak.
"Seorang pria. Dia tidak mau nyebut nama. Tapi dia mbawa ini."
Ia nyerahkan secarik kain hitam lusuh, yang dijahit dengan lambang kecil—sebuah mata dalam lingkaran.
Kaelen mucat.
Serina, yang duduk di dekat reka, langsung negakkan tubuhnya.
"Itu lambang—"
"Ordo Bayangan," potong Kaelen, suaranya dingin. "Aku pikir reka sudah musnah."
Kaelen mutuskan untuk bertemu pria itu di luar desa, di tengah reruntuhan kuil tua yang sebagian sudah ditelan semak belukar.
Pria itu berdiri dalam bayang-bayang, jubahnya compang-camping, tapi posturnya tetap kokoh.
Saat Kaelen ndekat, pria itu lepas tudungnya, mperlihatkan wajah yang dipenuhi bekas luka.
"Kaelen Draven," katanya, suaranya berat. "Anak dari dua dunia yang saling mbenci."
Kaelen nyilangkan tangan di dada.
"Langsung ke intinya."
Pria itu tersenyum tipis.
"Dunia ini belum bebas. Kau nghancurkan boneka, tapi dalangnya masih hidup."
Kaelen najamkan mata.
"Dalang?"
Pria itu ngangguk.
"Grandmaster Elvior mang mati... tapi warisannya tetap. reka mbentuk faksi baru. Lebih kejam. Lebih tersembunyi."
Kaelen rasakan perutnya ngeras.
"Kenapa kau mberitahuku?"
Pria itu langkah maju, cukup dekat hingga Kaelen bisa lihat matanya—mata yang penuh rasa bersalah.
"Karena aku pernah njadi bagian dari reka," katanya perlahan. "Dan aku ingin nebusnya."
Setelah pria itu pergi, Kaelen kembali ke perkemahan, pikirannya penuh badai.
Serina dan Lyra nunggunya.
"Apa yang dia katakan?" tanya Serina.
Kaelen natap ke api unggun, di mana anak-anak kecil bernyanyi tanpa beban, tidak tahu apa-apa tentang dunia yang lebih gelap yang ngintai di luar sana.
"Bahwa perjuangan kita belum selesai," jawabnya pelan. "Ada musuh lain. Lebih licik. Lebih sabar."
Lyra nggenggam lengannya.
"Kau tidak sendirian. Apa pun yang terjadi... kita akan hadapi bersama."
Serina ngangguk.
"Lagipula," tambahnya dengan senyum setengah pahit, "kita sudah terlalu dalam untuk mundur."
Keesokan paginya, Kaelen ngumpulkan orang-orang kepercayaannya.
Di sebuah pondok kecil yang belum selesai dibangun, reka berkumpul: Lyra, Serina, Alden, dan beberapa prajurit lama yang masih setia.
"Kita harus bergerak cepat," kata Kaelen tegas. "Kalau faksi ini tumbuh di dalam bayang-bayang, reka bisa nghancurkan segalanya sebelum kita sempat nguatkan pondasi."
Alden nghela napas.
"Aku suka pertempuran. Tapi lawan musuh yang tidak kelihatan? Itu seperti berkelahi dengan hantu."
Kaelen natap reka satu per satu.
"reka pikir kita akan sibuk mbangun rumah dan ladang. Kita buktikan bahwa kita juga bisa mbangun benteng. Dalam hati kita. Dalam pikiran kita."
Semua ngangguk.
Tidak ada keraguan.
Hanya tekad.
Saat malam berikutnya tiba, Kaelen berdiri sendirian di atas bukit.
Ia tahu apa artinya ini.
Bukan sekadar mbangun dunia baru.
Tapi njaga mimpi itu tetap hidup.
lindunginya dari hantu masa lalu yang akan terus ncoba rayap kembali.
"Kau boleh datang," bisiknya ke angin malam. "Tapi kami siap."
Dan untuk pertama kalinya, Kaelen tidak rasa sendirian.
Reviews
All reviews (0)