Langit fajar rangkak di atas reruntuhan kota Solace. Asap tipis masih mbumbung dari sisa-sisa pertempuran. Di tengah puing-puing, sekelompok kecil orang berkumpul—luka-luka reka masih segar, tapi mata reka nyala dengan sesuatu yang lebih kuat daripada rasa sakit: harapan.
Kaelen berdiri di depan reka, bahunya dibalut perban, tangan kirinya masih bergetar akibat pertarungan lawan Eryon.
Di sampingnya, Serina—walau harus bersandar pada tongkat penyangga—tetap maksakan dirinya berdiri tegak. Luka di bahunya parah, tapi matanya tetap tajam seperti biasa.
Lyra berdiri di sisi lain Kaelen, tangan reka sesekali bersentuhan, saling nguatkan dalam diam. Alden njaga periter, satu tangan di gagang pedang, seolah masih tidak percaya bahwa keheningan ini nyata.
Kaelen natap kerumunan kecil itu.
Wajah-wajah lelah. Wajah-wajah ragu. Tapi juga wajah-wajah yang lapar akan sesuatu yang baru.
"Dunia lama sudah runtuh," katanya, suaranya serak tapi mantap. "Ordo Cahaya, Ordo Kegelapan—semua kebohongan itu—kini hanya abu."
Ia berhenti sejenak, mbiarkan kata-katanya tenggelam ke dalam hati reka.
"Tapi kita tidak di sini untuk nukar satu tirani dengan yang lain."
Alden ndekat, bersandar pada pedangnya.
"Kalau kau mau, aku bisa jadi diktator paruh waktu," candanya, ncoba ringankan suasana.
Beberapa orang tertawa pendek, gugup. Tapi Kaelen hanya tersenyum kecil.
"Tidak ada lagi diktator," katanya. "Tidak ada lagi dewa palsu. Mulai sekarang... kita pilih sendiri jalan kita."
Seorang lelaki tua berdiri, wajahnya penuh luka dan keletihan.
"Bagaimana kita tahu jalan itu tidak akan mbawa kita ke kehancuran lain?" tanyanya tajam. "Tanpa aturan, manusia akan saling mbunuh."
Seorang wanita muda, rambutnya dikuncir ketat, maju ke depan.
"Aturan lama dibuat untuk mperbudak kita," katanya. "Kalau kita tidak berani ngambil risiko, kita akan terus njadi budak."
Suara-suara mulai naik, berdebat, saling bertukar argun.
Kaelen ndengarkan semuanya.
Tidak motong.
Tidak ndikte.
Biarkan suara-suara itu keluar, untuk pertama kalinya tanpa rasa takut.
Serina narik Kaelen njauh sejenak.
"Kau sadar," katanya perlahan, "bahwa mbiarkan reka milih berarti... bisa saja semuanya berakhir buruk?"
Kaelen ngangguk, natap reruntuhan yang terhampar di depan reka.
"Lebih baik reka mbuat kesalahan reka sendiri daripada hidup di bawah kebohongan."
Serina nghela napas berat.
"Kau benar. Tapi... terkadang aku berharap ada jalan yang lebih mudah."
Kaelen tersenyum miring.
"Kalau ada jalan yang mudah, kita bukan berada di sini."
Lyra ndekat, mbawa sekumpulan kertas lusuh—potongan-potongan perjanjian lama yang reka temukan di reruntuhan nara Solace.
"Aku berpikir," katanya, "bagaimana kalau kita mulai dengan sesuatu yang sederhana?"
Kaelen ngangkat alis.
"Seperti apa?"
Lyra mbuka kertas itu, mperlihatkan coretan-coretannya.
"Bukan kerajaan. Bukan ordo. Hanya... sebuah perjanjian di antara kita semua. Kesepakatan untuk saling njaga. Saling milih. Dan jika seseorang ncoba ngambil alih... semua yang lain berhak nghentikannya."
Kaelen mbaca sekilas, lalu ngangguk perlahan.
"Sebuah dunia di mana kepercayaan lebih penting dari kekuasaan."
Lyra tersenyum.
"Kalau gagal... setidaknya kita tahu kita ncoba dengan cara kita sendiri."
Saat semua orang mulai berkumpul untuk ndiskusikan piagam baru itu, Kaelen narik Lyra ke samping.
Ia nggenggam tangannya erat.
"Aku harus jujur," katanya pelan. "Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah ini. Aku... aku bahkan tidak yakin aku bisa ngingat semuanya."
Lyra miringkan kepalanya, matanya lembut.
"Kaelen..."
"Setiap kali aku nggunakan kekuatan itu," lanjut Kaelen, suaranya nyaris pecah, "aku kehilangan sedikit dari diriku. Dari kenangan tentangmu. Tentang Serina. Tentang keluargaku."
Lyra ngusap pipinya lembut.
"Mungkin kau akan lupa namaku suatu hari," katanya dengan senyum sedih. "Tapi aku akan tetap di sini. Aku akan terus ngingatkanmu."
Kaelen nutup mata, mbiarkan dirinya rasakan beban itu, setidaknya untuk sesaat.
"Aku tidak ingin lupakan," bisiknya.
"Kalau begitu," kata Lyra, "mulai hari ini... kita buat lebih banyak kenangan. Lebih banyak yang tak bisa dicuri oleh bayangan."
Saat matahari benar-benar terbit, Kaelen berdiri di hadapan semua orang lagi.
"Hari ini," katanya keras, "kita mulai dari abu. Kita bangun sesuatu yang baru. Bukan karena kita sempurna, tapi karena kita cukup berani untuk ncoba."
Sorak sorai kecil nggema di udara pagi.
Untuk pertama kalinya, dunia itu tidak diatur oleh ketakutan.
lainkan oleh pilihan.
Dan itu, bagi Kaelen dan teman-temannya, adalah kenangan yang jauh lebih berarti daripada perang mana pun yang pernah reka nangkan.
Reviews
All reviews (0)